Sahur kita … nyam … nyam … nyam !
Jargon ini cukup terkenal di awal dekade 2000-an. Dipandu Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti, acara Sahur Kita yang tayang di SCTV senantiasa menemani waktu makan sahur kala itu. Acara yang simpel, hangat, dan menghibur ini menjadi salah satu pilihan utama kebanyakan masyarakat Indonesia ketika makan sahur. Konsep acaranya pun sederhana, memindahkan siaran radio ke televisi.
Setiap bulan ramadhan tiba, banyak stasiun televisi mulai menyiapkan acara jagoannya, mulai acara sahur, menunggu berbuka, dan sinetron religi andalan. Saya merasa pola tayangan hiburan yang muncul di bulan Ramadhan senantiasa mengalami perubahan tahun demi tahun, yang awalnya adalah sebuah acara religi dengan sisipan hiburan, kini berubah menjadi acara hiburan dengan sisipan religi.
Seingat saya, sebelum dekade 2000-an, acara religi Ramadhan di stasiun televisi benar-benar menonjolkan sisi religi atau dakwahnya, jika ada sisipan hiburan biasanya adalah lagu-lagu religi seperti dari Bimbo atau yang lainnya, acaranya pun jauh dari kesan entertainment.
Dalam ingatan saya, salah satu acara sahur di Indosiar yang dimulai jam 03.00 wib, formatnya adalah tanya jawab masalah agama. Dimulai dengan ceramah dari seorang ustadz atau pemuka agama yang dipandu oleh pembawa acara, setelah itu para penonton di rumah dapat melakukan panggilan telepon langsung untuk bertanya kepada ustadz mengenai permasalahan seputar agama. Dan kala itu sepertinya belum ada sisipan hiburan, seperti lagu religi atau yang lain.
Memasuki awal 2000-an, format acara religi mulai mengalami perubahan dengan masuknya unsur hiburan kedalamnya. Acara religi mulai bernuansa komedi, walaupun tidak kehilangan roh religinya. Sahur Kita di SCTV dan Stasiun Ramadhan di RCTI, merupakan dua contoh acara sahur favorit kala itu. Acara tersebut kebanyakan dipandu oleh komedian, sehingga membuat nuansa acara menjadi ringan dan menghibur.
Khusus untuk acara Sahur Kita, saya masih ingat dalam acara ini penonton dapat melakukan request lagu dan berkirim salam, sama seperti di radio. Pada Zaman ini internet belum masif dan media sosial masih belum berkembang pesat seperti sekarang, sehingga berkirim pesan lewat acara televisi merupakan sebuah cara untuk menyapa sanak saudara, teman, atau orang terkhusus, yang mungkin terpisah jauh.
Awal 2000-an merupakan awal mulai maraknya sinetron religi, hampir setiap stasiun televisi mempunyai sinetron andalannya, Sebut saja seperti Doa Membawa Berkah yang dibintangi Tamara Bleszinsky dan Anjasmara. Sinetron religi tidak akan bisa lepas dari nama Deddy Mizwar, ditangan dinginnya lahir berbagai judul yang terkenal, seperti Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan Para Pencari Tuhan.
Mulai awal 2010 hingga sekarang, format acara religi mengalami perubahan drastis dan serius menurut saya, saya menyebutnya acara hiburan yang diberi sedikit sentuhan religi. Keseluruhan acara dipenuhi dengan lawakan atau komedi sketsa, nama-nama Raffi Ahmad, Parto, Komeng, Adul, dan lainnya, rutin menghiasi layar televisi ketika waktu sahur.
Yang paling saya ingat adalah acara Yuk Kita Sahur (YKS). Acara yang terkenal karena goyang Caesar-nya ini, menjadi salah satu acara paling diminati di masa itu. Bagi anda yang tidak tahu YKS, acara ini adalah gabungan antara komedi sketsa, ada dangdut koplonya, dan tentu saja goyang Caesar yang entahlah itu.
Semakin kesini, saya sudah tidak mengikuti perkembangan acara religi di televisi. Masifnya internet, sepertinya membuat orang berpaling dari televisi ke gawai di tangan mereka. Acara pengisi sahur atau pengantar berbuka di televisi sepertinya sudah tidak lagi menjadi pilihan utama. Pilihan orang kini sangat beragam, banyak kanal di berbagai media sosial membuat acara Ramadhan mereka masing-masing. Mulai yang kental nuansa religinya, sedikit nuansa religinya, atau bahkan tidak ada nuansa religinya.
Disaat ini saya merasa perlunya perhatian dari berbagai pihak untuk mengembalikan marwah puasa. Puasa sebagai salah satu ibadah utama bagi umat muslim sudah semestinya mendapatkan penghormatan yang semestinya. Fenomena seperti acara religi yang tidak religius, orang yang seharusnya puasa malah dengan bangganya menunjukkan dirinya tidak puasa, baik di media sosial maupun kehidupan nyata, merupakan salah satu bukti ada yang salah dengan pola pikir masyarakat sekarang.
Semoga Ramadhan ini membuat kita merenung dan menemukan kembali esensi nilai puasa di hati nurani kita, sehingga puasa tidak hanya dipandang sebagai fenomena sosial-kultural tahunan, namun menjadi sebuah sarana untuk memperbaiki diri dan mengasah diri menjadi insan yang lebih baik. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar