Selasa, 29 September 2026

Resensi Ringkas: Teladan Saudagar Cilik & The Baker Boy’s Wish Box


Dua buku telah saya habiskan hari ini, Teladan Saudagar Cilik dan The Baker Boy’s Wish Box. Keduanya bukan milik saya, buku pertama saya pinjam dari perpustakaan sekolah, dan buku kedua dari Perpusnas melalui aplikasi Ipusnas.

Keduanya merupakan buku fiksi, dengan alur cerita yang ringan, dan sepertinya memang ditujukan untuk pembaca usia anak hingga remaja. Bagi saya, membaca buku ini merupakan cara saya berlatih untuk menulis fiksi, kelak.

Buku pertama, Teladan Saudagar Cilik. Saya tidak tahu persis apa jenis buku ini, dibilang cerpen tapi cukup panjang, dibilang novel tapi kepanjangan. Saya akan menyebutnya buku cerita saja.

Cerita dalam buku ini berkisah mengenai dua orang anak yang bersahabat, Reno dan Iqbal, keduanya berasal dari keluarga menengah bawah. Karena himpitan ekonomi, keduanya ingin membantu orang tua mereka dengan cara berjualan telur asin.

Cerita dimulai dengan keinginan kedua anak tersebut untuk berjualan telur asin, hal ini karena keluarga Iqbal beternak bebek. Keduanya hanya mempunyai keinginan, namun tidak memiliki pengetahuan tentang membuat telur asin. Akhirnya, kedua anak tersebut menemui Pak Dani, guru mereka yang dahulu pernah memiliki usaha membuat telur asin.

Pak Dani akhirnya mengajari keluarga Reno dan Iqbal membuat telur asin, singkat cerita kedua anak tersebut berjualan telur asin, baik dengan cara di jual langsung atau dititipkan di warung. Ada satu adegan dimana salah satu anak tersebut menemukan dompet di jalan, dan pada akhirnya mengembalikan kepada si pemilik.

Pesan dalam buku ini cukup jelas, sikap pantang menyerah, kerjasama, dan kejujuran. Secara alur cerita, buku ini menggunakan alur cerita maju, cukup ringan untuk dibaca. Bagi yang ingin berlatih membiasakan diri membaca, buku ini bisa jadi pilihan untuk jadi buku pertama yang dibaca. Ilustrasi dalam buku ini cukup menarik, dan yang terpenting ceritanya ringan.

Buku kedua adalah buku digital yang saya pinjam di Ipusnas, aplikasi peminjaman buku secara digital milik Perpusnas. The Baker Boy’s Wish Box adalah karya terjemahan dari bahasa inggris. 

Buku ini bercerita seorang pemuda piatu yang bekerja sebagai pembuat roti, membantu ayahnya yang juga seorang pembuat roti. Salah satu tugasnya adalah mengantarkan roti-roti tersebut ke berbagai pelanggannya, termasuk ke istana.

Dia jatuh cinta dengan putri raja, dan gayung pun bersambut, putri raja juga mencintainya. Diceritakan akhirnya keduanya menjalin kisah asmara, namun sayang kisah itu harus kandas, karena putri raja dijodohkan dengan seorang pangeran dari kerajaan lain.

Ayah si pemuda pembuat roti tersebut memberikan sebuah wish box atau kotak harapan. Sang ayah menjelaskan bahwa kotak tersebut adalah warisan keluarga turun temurun. Kotak tersebut bisa mewujudkan satu permintaan, setelah permintaan tersebut diajukan, maka kotak itu akan berubah menjadi kotak biasa.

Sang pemuda pun berfikir berulang-ulang, apakah akan menggunakan kotak tersebut atau tidak. Dia berpikir, jika dia mengajukan sebuah permintaan maka generasi selanjutnya tidak bisa menggunakan kotak tersebut.

Dia ingin sekali menggunakan kotak tersebut untuk membuat sebuah permintaan agar bisa berjodoh dengan sang putri raja. Namun disaat yang sama, sang raja tiba-tiba jatuh sakit, konon sang raja telah diracun.

Seluruh rakyat bersedih, sang raja tersebut merupakan raja kesayangan rakyatnya, karena raja tersebut merupakan raja yang adil dan peduli pada rakyatnya. Sang pemuda pada akhirnya menggunakan kotak harapan tersebut untuk kesembuhan sang raja, dan mengubur impiannya untuk berjodoh dengan sang putri.

Akhirnya, sang raja pun kembali sehat. Ternyata pelaku yang meracuni raja adalah sang pangeran yang dijodohkan dengan putrinya. Pangeran tersebut ingin menikahi sang putri dan membunuh sang raja, tujuannya adalah menguasai kerajaan. Pangeran tersebut akhirnya dimasukkan penjara dan pertunangannya dengan sang putri dibatalkan.

Akhir cerita, kisah cinta si pemuda pembuat roti dan sang putri terjalin lagi, dan kali ini mereka berjodoh untuk selamanya.

Buku dongeng ini cukup ringan dibaca, dan bisa juga digunakan untuk melatih kemampuan membaca teks bahasa inggris, karena teks tulisan ditulis dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

Walaupun saya tidak sepakat dengan konsep kotak harapan, karena bertentangan dengan agama, saya cukup mengapresiasi buku ini karena mempunyai premis dan ilustrasi yang menarik. Selain itu, peminjaman buku ini tidak dipungut biaya, gratis.

Itulah dua buku yang sudah saya baca. Semua ini adalah bagian dari program untuk membiasakan diri membaca, dan sepertinya sudah mulai ketagihan. Next, saya akan menuliskan lagi buku apa yang saya baca. Saya akan mencoba untuk tidak memilih-milih buku, semua buku akan saya coba lahap habis.

Kamis, 24 September 2026

Antara Rem dan Gas di Ruang Kelas VII


Dua hari ini saya memutar otak untuk mencari ide tulisan, tak satupun yang benar-benar jadi ide yang matang. Mungkin karena sudah dua bulan ini saya tidak menulis, otot-otot menulis saya rasanya sudah lemas, perlu usaha ekstra keras untuk menguatkan lagi otot-otot tersebut.

Akhirnya, malam ini saya paksakan untuk menulis, entah bagaimana jadinya. Satu hal yang ada di kepala adalah pengalaman mengajar kelas tujuh selama dua hari ini. Saya mengajar kelas VII-A dan VII-B. Dan keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Kelas VII-A cenderung aktif, atau bahkan terlalu aktif. Tak jarang saya harus bolak-balik mengingatkan para siswa ini untuk tenang dan berkonsentrasi ke materi pelajaran. Ada celah sedikit saja, kelas akan menjadi gaduh, tanpa perlu waktu yang lama.

Sebaliknya, kelas VII-B berbeda, para siswanya cenderung pasif. Bahkan jika saya melemparkan pertanyaan ketika pelajaran, tak satupun yang berinisiatif menjawab. Saya minta mereka untuk mengangkat tangan, tak satupun tangan yang terangkat. Entah apa yang ada di benak mereka.

Fenomena ini cukup menarik perhatian saya, mengapa anak-anak ini takut untuk sekedar mengangkat tangan. Saya sudah menyampaikan, pendapat apapun boleh, jangan takut salah, menjawab pertanyaan salah juga tidak menjadi masalah. Namun mereka tetap diam. Dan akhirnya saya yang mengalah, lanjut ceramah.

Saya tidak tahu apa yang melatar belakangi ini semua, apakah kebiasaan ini telah tumbuh sejak mereka di sekolah dasar? Ada yang salah.

Asumsi saya mereka hanya takut salah menjawab, malu untuk menjawab, atau bahkan tidak terbiasa untuk berinisiatif menjawab. Apakah semasa di sekolah dasar mereka tidak mendapatkan ruang untuk berinisiatif? 

Bisa jadi budaya dalam sistem pendidikan kita yang masih terperangkap dalam romantisme pendidikan era kolonial atau orde baru. Guru adalah subjek, siswa adalah objek. Guru pasti benar dan harus didengar, siswa cukup diam dan tidak boleh membantah.

Bukankah sekarang sudah berganti zaman, ini adalah zaman konstruktivisme, pembelajaran aktif. Ataukah para guru yang dihasilkan oleh pola pendidikan masa lalu–orde baru–masih menganggap metode yang mereka terima dulu adalah yang paling efektif? Metode yang mencetak mereka sekarang ini.

Rasanya guru harus mau melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa zaman berubah, manusianya pun berubah. Kita sebagai guru harus menanamkan kepada siswa kepercayaan diri, mau berinisiatif, berani mengemukakan pendapat. Jangan sampai hanya untuk sekedar berbicara, siswa harus berpikir dua kali. Kita harus menghilangkan dari pikiran mereka bahwa perasaan takut salah dalam berpendapat atau menjawab pertanyaan. Bukankah kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Kenapa kelas VII-A berbeda, mungkin karena saya wali kelasnya. Sejak awal saya memang menekankan mereka untuk aktif dan berani mengemukakan pendapat. Saya tidak mengatakan bahwa saya guru yang paling benar, saya hanya melakukan apa yang saya yakini benar, bahwa seorang guru adalah fasilitator pembelajaran, termasuk membimbing siswa untuk aktif dalam pembelajaran.

Dua kelas ini memerlukan treatment yang berbeda, Kelas VII-A perlu diarahkan agar keaktifan yang telah terbangun dapat difokuskan kepada proses pembelajaran, sedangkan VII-B perlu dibangun suasana untuk aktif dalam pembelajaran.  Yang satu agak ngerem, yang satu agak ngegas.

Ya itulah dunia belajar mengajar, karena objeknya manusia, ada saja dinamikanya. Tapi bagi saya ini adalah tantangan, para siswa adalah aset masa depan, tugas kita menyiapkan mereka agar kelak tidak tergilas zaman.

Ya, pendidikan Indonesia masih punya pekerjaan rumah, mulai dari tingkat atas sampai bawah. Dan saya hanyalah seorang guru, maka yang bisa saya usahakan adalah sebatas ruang-ruang kelas. Ruang kelas yang penuh manusia-manusia yang sedang bertumbuh.

Semoga kedua kelas tujuh ini segera mencapai kondisi ideal, siswa yang aktif dan pembelajaran yang menyenangkan, sekaligus bermakna. Gurunya maju, siswanya juga maju. Amin.

Senin, 21 September 2026

Menyikapi Hasil PISA 2025: Optimisme Pendidikan di Tengah Gelombang Masalah


Awal bulan September ini, Indonesia menerima kabar yang menggembirakan dalam dunia pendidikan, skor PISA Indonesia mengalami kenaikan. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), lembaga yang membidani Programme for International Student Assessment (PISA) telah mengeluarkan hasil tahun 2025. Dalam laporan tersebut ranking PISA Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan hasil tahun 2022.

Melansir dari press release Kemendikdasmen, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin menyampaikan bahwa di tengah tren penurunan skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia cenderung stabil, bahkan mengalami kenaikan dalam bidang literasi dan sains.

Skor sains Indonesia tahun 2025 sebesar 389, naik 6 poin dibandingkan hasil tahun 2022. Sedangkan pada bidang literasi, skor indonesia juga naik sebesar 6 poin, dari 359 menjadi 365. Sementara itu, bidang matematika mengalami penurunan skor, dari 366 di tahun 2022 menjadi 364. Namun, secara umum skor keseluruhan yang diraih Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD lainnya.

Ditengah suasana sosial politik yang tidak menentu seperti sekarang ini, hasil PISA yang diperoleh tentunya memberikan sedikit kesejukan bagi bangsa ini. Berbagai problematika yang dihadapi dunia pendidikan sekarang ini, nyatanya tidak serta merta membuat semangat bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan menjadi menurun. Minimal hasil PISA tahun 2025 ini dapat memberikan optimisme akan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih cerah.

Melihat hasil keseluruhan yang masih menempatkan Indonesia di bawah negara anggota OECD yang lain, tentu pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong kualitas pendidikan Indonesia. Kemendikdasmen telah cepat bertindak untuk menindaklanjuti hasil PISA tahun 2025 ini.

Kemendikdasmen telah mengeluarkan empat pilar strategi utama. Pertama, penguatan kompetensi guru. Strategi yang dijalankan adalah pemenuhan kualifikasi akademik bagi guru melalui program profesi guru (PPG), serta penguatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan dalam hal koding dan kecerdasan artifisial.

Kedua, Kemendikdasmen akan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui implementasi pembelajaran mendalam, digitalisasi dalam pembelajaran, serta penguatan literasi-numerasi dan karakter siswa. Ketiga, Kemendikdasmen akan melakukan harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan merujuk pada kompetensi bernalar pada kerangka PISA. Sedangkan keempat, penguatan peran keluarga dalam gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KIH) dan penguatan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.

Empat pilar strategi utama tersebut baru bisa berjalan dengan maksimal jika terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Tanpa itu semua, kebijakan ini hanya akan sekedar menjadi kebijakan di atas kertas saja.

Peningkatan kualitas pendidikan dewasa ini menghadapi banyak tantangan. Kenyataan di lapangan masih banyak dijumpai berbagai masalah yang dari dulu belum terselesaikan. Mulai dari kualitas sekolah yang belum setara, saran dan prasarana pendidikan yang belum memadai, kesejahteraan guru yang belum tercukupi, dan kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat dalam pendidikan juga belum terbangun merata.

Tentu kita tidak boleh pesimis dengan semua kenyataan ini, namun kita juga harus realistis. Bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkadang tidak berjalan dengan baik. Kebijakan-kebijakan yang memang memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terkadang kalah dengan kebijakan yang populis dan politis.

Mari kita lihat beberapa tahun mendatang, apakah empat pilar strategi utama ini dapat menghasilkan peningkatan skor PISA, atau malah tidak berjalan dan tidak memberikan dampak apa-apa. Mari kita tunggu.

Selasa, 30 Juni 2026

Mengapa Siswa Finlandia Bahagia di Sekolah? Buku Ini Punya Jawabannya


Finlandia terkenal dengan kualitas pendidikannya yang maju, hal ini terbukti dengan skor PISA yang tinggi. Sebagai seseorang yang juga berprofesi sebagai pendidik, fakta ini menggugah keingintahuan saya mengenai bagaimana kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di negara nordik tersebut. Akhirnya gambaran tersebut saya dapatkan di sebuah buku yang berjudul Teach like Finland.

Buku ini pertama kali terbit di New York, dan dialihbahasakan oleh penerbit Gramedia. Penulis buku ini adalah Timothy D Walker, seorang guru sekolah dasar berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi guru di Finlandia.

Yang menarik adalah buku ini tidak membahas sisi pendidikan di Finlandia secara akademis, namun lebih kepada pengalaman penulis selama menjadi guru di negara tersebut. Buku setebal 197 halaman ini banyak membahas sisi keseharian pembelajaran di sekolah Finlandia dilakukan dan bagaimana hal tersebut berdampak kepada para siswa dan guru.

Hal pertama yang dibahas dalam buku ini adalah mengenai kesejahteraan, tentu konteksnya bukan mengenai pendapatan guru atau hal yang berbau ekonomi. Kesejahteraan yang dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan psikis atau emosional guru dan siswa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Beberapa hal tersebut seperti penjadwalan waktu istirahat yang cukup sering, belajar sambil bergerak, menyederhanakan ruang, menghirup udara segar, hingga belajar di alam. Dari membaca buku tersebut saya mendapatkan insight bahwa perubahan dalam pendidikan dapat dimulai dari hal yang kecil. Pemenuhan kebutuhan psikis atau emosional tersebut akan menjadikan guru dan siswa menikmati kegiatan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran terasa menyenangkan.

Bagian selanjutnya adalah mengenai rasa dimiliki, membangun kedekatan antara guru dan siswa. Beberapa hal yang dilakukan guru-guru Finlandia untuk mewujudkan hal tersebut seperti dengan mengenal setiap siswa, bermain bersama mereka, merayakan proses pembelajaran yang dilakukan bersama, dan tentu saja menghilangkan perundungan dari lingkungan sekolah.

Sebagai seorang guru saya sangat memahami hal ini, bahwa hal pertama yang membuat siswa nyaman untuk belajar di sekolah adalah guru. Guru yang dekat dengan siswa dan membangun interaksi yang positif akan membuat siswa nyaman untuk belajar. Efek selanjutnya adalah siswa mulai menyenangi mata pelajaran yang dipelajarinya, suasana belajar menjadi menyenangkan, dan hasil akhirnya adalah hasil belajar yang meningkat. 

Salah satu hal yang juga dibahas di buku ini adalah bagaimana para guru di Finlandia menanamkan kemandirian pada diri siswa. Proses menanamkan kemandirian itu dimulai dengan memberikan kebebasan pada siswa yang diikuti dengan batasan-batasannya. Guru juga memberikan pilihan kepada siswa mengenai hal-hal yang akan mereka lakukan. Guru-guru di Finlandia menyadari bahwa salah satu tugas utama guru adalah menjembatani antara minat siswa dengan kurikulum yang ada. Untuk menemukan titik temu tersebut, hal pertama yang harus dilakukan guru adalah mengenali minat dan bakat siswa. Pemahaman mengenai minat dan bakat siswa tersebut dapat digunakan guru untuk memberikan beberapa pilihan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan siswa.

Salah satu contoh memberikan pilihan kepada siswa adalah ketika penulis memberikan tugas terbuka kepada siswanya, seperti siswa diberikan kebebasan untuk memilih sendiri buku yang mereka minati dan menyajikan apa yang mereka pelajari dari buku tersebut melalui poster, slideshow, atau website.

Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana ekosistem kolaborasi terbangun begitu baik di negara tersebut, tidak hanya kolaborasi antar guru dalam satu sekolah, namun juga kolaborasi guru antar sekolah.

Di dalam buku tersebut saya menangkap kesan bahwa kesadaran untuk saling berbagi dan membantu antar guru sudah menjadi hal yang lumrah, sebuah hal yang biasa. Pemerintah Finlandia memiliki kebijakan untuk menyamakan mutu pendidikan di semua sekolah mereka, dan kemauan kolaborasi antar guru secara tidak langsung menunjukkan komitmen mereka untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu di Finlandia.

Buku ini layak dibaca bagi semua orang yang memiliki perhatian dalam dunia pendidikan, terkhusus guru. Meningkatkan mutu pendidikan tidak harus dimulai dari lahirnya kebijakan atau kurikulum baru, namun dapat dilakukan dengan melakukan perubahan-perubahan kecil di lingkungan sekolah. Perubahan kecil tersebut akan berdampak langsung pada guru dan siswa.

Membaca buku ini tidak berarti bahwa dengan menerapkan segala apa yang dilakukan sekolah Finlandia di Indonesia akan menjadi jalan keluar bagi permasalahan pendidikan di Indonesia. Semangat dan insight dari buku ini dapat diterapkan di lingkungan sekolah kita, tentu dengan menyesuaikan dengan karakteristik dan budaya Indonesia.

x

Rabu, 27 Mei 2026

Keseruan Pameran IPA 2026: Ketika Kelas 8 Unjuk Gigi dan Kelas 7 Sibuk Berburu Sticky Notes

Kemarin (26/5) saya datang ke sekolah seperti biasa, namun salah satu ruang kelas sudah tampak ramai, para siswa dari kelas 8A dan 8B sibuk mempersiapkan sesuatu di atas meja. Ada apa?

Sebenarnya ketika sampai sekolah saya pun segera menuju ruang kelas tersebut sambil membawa laptop dan beberapa lembar instrumen asesmen. Ya, pagi itu saya dan para siswa kelas 8 akan menggelar sebuah acara yang bertajuk Pameran IPA 2026.

Pameran IPA ini merupakan salah satu kegiatan pada mata pelajaran IPA, sengaja saya membuatnya berbeda dengan kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan. Inti kegiatan ini adalah siswa bekerja secara berkelompok kemudian membuat sebuah proyek, setelah itu mereka mempresentasikannya. Setelah presentasi dilakukan, siswa dari kelas lain akan datang sebagai pengunjung pameran. Para pengunjung pameran ini akan melihat hasil proyek yang telah dibuat, berkomunikasi, hingga memberikan umpan balik kepada para siswa kelas 8.

Tema proyek ini adalah Bumi dan dinamikanya yang merupakan bab terakhir di kelas 8. Siswa pada masing-masing kelas dibagi menjadi empat kelompok dengan tema yang berbeda, antara lain struktur bumi, lempeng tektonik, gempa bumi, dan gunung berapi. Masing-masing kelompok membuat dua buah produk, poster informatif dan sebuah media peraga yang sesuai dengan tema.

Dari sudut pandang saya sebagai guru, kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan, seperti melatih kerjasama atau kolaborasi, membuat suasana belajar yang berbeda sehingga motivasi belajar akan meningkat, melatih kemampuan berbicara, dan tentu saja melatih kepercayaan diri. Jadi dalam mengajar bab Bumi dan dinamikanya, saya hanya memberikan pengantar secara klasikal dan para siswa lebih banyak melakukan kerja kelompok, dan itu dimulai beberapa minggu sebelum pameran dilakukan.

Kembali ke suasana ruang kelas pagi itu. Pukul 08.30, semua siswa sudah siap di stan masing-masing, dan presentasi akan segera dimulai. Saya dan siswa kemudian melakukan pengundian untuk menentukan urutan penampilan, setiap kelompok mendapatkan waktu presentasi sekitar sepuluh menit.

Kegiatan presentasi pun dimulai, semua kelompok bergantian melakukan presentasi. Tentu jalannya presentasi ini tidak semulus yang dibayangkan. Ada banyak hal yang bisa saya refleksikan dan akan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki proses pembelajaran kedepannya.

Salah satu hal yang saya rasakan adalah banyak siswa yang belum mampu untuk mengkomunikasikan hasil pekerjaan mereka dengan baik. Saya melihat beberapa siswa masih gugup ketika di depan kelas, bersuara lirih atau tidak jelas, hanya mencoba mengingat hafalan, dan tidak melakukan kontak mata dengan siswa lain yang menonton mereka. Tetapi ada juga siswa yang mampu melaksanakan presentasi dengan baik, seperti suaranya terdengar keras dan jelas, terlihat menguasai materi yang disajikan, dan mampu menyampaikan pesan kepada siswa lain yang menonton.

Saya menyadari semua kelebihan dan kekurangan siswa saat melakukan presentasi. Salah satu sebabnya, mungkin karena siswa tidak terbiasa untuk berbicara di depan orang banyak. 

Sistem pendidikan kita memang menginginkan siswa menjadi subjek pembelajaran, bukan objek pembelajaran. Namun kenyataan dilapangan sering kali berbanding terbalik dengan itu semua, siswa secara umum masih menjadi objek dalam pembelajaran. Saya melihat sendiri ketika kegiatan pembelajaran di kelas, siswa menjadi anak yang pendiam, tidak berani bertanya atau berkomentar. Mungkin karena takut salah menjawab, mungkin karena malu, atau mungkin karena mereka sudah terbiasa pada budaya “diam” sejak lama. Saya pribadi terus mencoba untuk membuat mereka berani aktif dalam pembelajaran, terkadang berhasil dan terkadang juga tidak berhasil.

Mengubah budaya seperti ini harus dilakukan secara kolektif, semua guru harus mempunyai mindset yang sama, dan itu berlaku di semua jenjang pendidikan. Pola mengajar lama yang memosisikan guru sebagai pusat pembelajaran, harus diubah menjadi fasilitator pembelajaran. Sebuah hal yang mudah dikatakan, namun cukup sulit dilakukan. Karena yang terjebak pada budaya lama tidak hanya siswa, banyak guru juga masih terjebak pada budaya lama (cara mengajar lama). Guru juga harus berbenah, menyadari perubahan paradigma belajar, dan yang paling penting mau berubah.

Setidaknya dengan pameran ini siswa memiliki pengalaman untuk berbicara di depan umum, melatih kepercayaan diri mereka. Walaupun belum maksimal, saya berharap pengalaman ini menjadi bekal mereka, dan ketika di kemudian hari mereka harus berbicara di depan umum, mereka sudah ada pengalaman, sudah tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dilakukan.

Mengenai produk yang dibuat siswa, saya pribadi kagum dengan apa yang mereka buat. Untuk poster informatif siswa membuatnya dengan menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI), hal itu memang saya sarankan. Kenapa saya melakukan hal itu? Mengingat produk yang harus dibuat tiap kelompok sebanyak dua buah, saya tidak ingin terlalu memberatkan. Selain alasan tersebut, faktor lainnya adalah agar tumbuh kepercayaan diri pada siswa, ketika mereka melihat hasil poster mereka bagus, secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Dengan demikian saya berharap tumbuh keyakinan pada diri siswa bahwa mereka bisa dan mampu, baik dalam membuat produk atau melakukan presentasi.

Produk yang kedua adalah model peraga yang berhubungan dengan materi pelajaran, disinilah berbagai kemampuan siswa diuji. Skill atau keterampilan abad 21 secara tidak disadari dilatih, seperti berkolaborasi, berkomunikasi, kreativitas, dan kemampuan untuk memecahkan masalah. Selain itu sisi soft skill dalam hal manajemen konflik dilatih, karena para siswa termasuk kategori remaja, maka kemampuan seperti orang dewasa belum tumbuh secara sempurna. Terkadang kurangnya tanggung jawab terhadap peran dalam kelompok akan menimbulkan konflik, dan disinilah kemampuan untuk mengelola dan menyelesaikan konflik dilatih.

Produk yang mereka buat bermacam-macam dan kreatif, semuanya berhubungan dengan materi pelajaran dan beberapa fotonya akan saya tampilkan di akhir tulisan ini. Saya cukup kagum mereka dapat membuat model peraga yang kreatif, memanfaatkan barang-barang yang mudah didapat, dan yang terpenting menyampaikan pesan.

Setelah rangkaian presentasi dilaksanakan, para siswa kelas 8 bersiap melakukan pameran. Tepat pukul 09.00 WIB para pengunjung pameran mulai berdatangan, dan untuk tahun ini pengunjung pameran didominasi siswa kelas tujuh, untuk siswa kelas sembilan tidak bisa bergabung mengunjungi pameran karena ada kegiatan lain.

Pameran IPA kali ini adalah pameran yang kedua yang saya laksanakan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pengunjung pameran tahun ini cukup unik. Mungkin karena masih terbawa jiwa anak-anak, para siswa kelas tujuh belum memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh pengunjung pameran. Siswa kelas tujuh ini malah terlihat sibuk mondar-mandir dan berebut menulis di sticky notes pada tiap stan, sebenarnya sticky notes yang ada diharapkan jadi umpan balik untuk siswa kelas 8. Tapi ya sudahlah, secara umum pameran berjalan dengan baik, saya harap ada insight yang diperoleh siswa kelas tujuh dari pameran ini, begitu juga untuk siswa kelas delapan.

Dan itulah keseruan Pameran IPA 2026, walaupun cukup menguras waktu dan pikiran, namun apa yang menjadi tujuan utama pembelajaran tercapai. Bukannya tidak ada kekurangan, pameran tahun ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut mengenai manajemen pameran itu sendiri, bagaimana mengatur kerumunan pengunjung, melakukan briefing ke siswa pengunjung, dan memastikan para siswa yang bertindak sebagai penampil memahami peran dan tugasnya. Semua itu akan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran kedepannya.

Terima kasih saya sampaikan untuk siswa kelas delapan atas dedikasi dan apa yang mereka tampilkan. Semoga para siswa menjadi berkesan dengan kegiatan ini dan memperoleh insight positif untuk diri mereka.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan.





















Selasa, 19 Mei 2026

Berbagi Praktik (mungkin) Baik: Mencoba mengubah suasana pembelajaran menjadi postif

Gambar dibuat dengan AI

Selama ini IPA dianggap sebagai salah satu materi pelajaran yang menjadi momok, karena ada aspek berhitung di dalamnya, walaupun tidak dominan. Selama ini pun, saya sebagai seorang guru juga merasakan tanda ketidakpopuleran pelajaran IPA tersebut. Hal ini saya rasakan ketika mengajar suasana kelas tidak kondusif, tidak positif, siswa kurang termotivasi untuk belajar, serta pasif. Hal ini membuat saya bingung untuk mencari solusi yang tepat, namun sejauh ini kondisinya masih sama saja.

Ketika mengajar IPA, pemandangan yang umum saya jumpai di dalam kelas seperti siswa yang pasif, tidak berani bertanya, tidak berani menjawab, tidak termotivasi, dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan, baik untuk guru dan siswa.

Alhamdulillah saya masih diberikan Allah SWT rasa semangat untuk belajar dan rasa lapar akan keingintahuan. Saya mencoba membaca beberapa buku, mengikuti konten media sosial yang berhubungan dengan pendidikan, atau menonton podcast yang membahas pendidikan.

HIngga pada suatu ketika saya melihat postingan di instagram mengenai ketidakaktifan atau tidak termotivasinya siswa saat belajar. Refleksi saya menemukan beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya, seperti cara mengajar yang kurang sesuai, konten materi yang tidak relate dengan siswa, siswa yang merasa tidak membutuhkan materi yang kita ajarkan, dan berbagai sebab lain.

Saya melakukan analisis dengan AI setelah melihat sebuah podcast dengan bintang tamu Najelaa shihab, pemilik sekolah Cikal. Banyak hal yang saya pelajari, yang kebanyakan bertentangan dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini. Apa yang dikatakan Najelaa masuk akal, tapi apakah relevan jika diterapkan di sekolah konvensional saat ini.

Hasil analisis Ai menunjukkan beberapa konsep Sekolah Cikal belum bisa diterapkan, karena banyak faktor. Untuk menghasilkan pendidikan yang bagus perlu investasi biaya yang besar, orang tua yang peduli, dan kurikulum yang bagus. Itu semua belum bisa langsung diterapkan ke sekolah-sekolah umum saat ini, karena berbagai hal.

Dengan semua faktor yang saya pikirkan, maka hal yang pertama yang saya lakukan adalah mengubah mindset saya. Saya harus belajar menerapkan konsep pembelajaran harus menyenangkan dan siswa sebagai subjek pembelajaran. Saya merefleksikan pengalaman menjadi siswa dahulu, bahwa faktor utama saya menyukai suatu pelajaran adalah gurunya.

Ok, apa yang harus saya lakukan? Rasanya tidak mungkin jika harus melakukan perubahan yang frontal dalam pembelajaran saya, dan satu hal yang ingin saya coba di pembelajaran esok hari, mengubah atmosfer kelas menjadi menyenangkan, itu saja dulu.

Tak ada persiapan khusus yang saya lakukan, hanya perubahan kecil yang saya terapkan. Masuk kelas dengan aura positif, berbicara dengan tenang, mencoba mengkondisikan kelas, terus mengajak siswa untuk berdiskusi, dan yang paling penting mengelola emosi. Intinya saya hanya mencoba terlihat positif di depan siswa.

Hasilnya? It’s works. Saya merasakan perubahan yang signifikan dalam pembelajaran, baik dalam suasana belajar dan hasil pembelajaran itu sendiri.

Hari itu saya mengajar di kelas 7B dalam materi sistem taksonomi makhluk hidup, di jam pertama. Saat masuk kelas saya mencoba untuk membiasakan tersenyum, menyapa dengan hangat, mengajak berdoa, kemudian melakukan apersepsi yang berupa obrolan santai. Saya mencoba untuk berbicara dengan nyaman, memakai intonasi yang tenang namun tegas, dan memancing siswa dalam diskusi.

Selama pembelajaran tersebut saya melihat siswa fokus, tidak ada yang teralihkan perhatiannya secara umum. Mereka menyimak apa yang saya sampaikan dan berani menjawab pertanyaan. Suasana kelas pun tenang, nyaman, dan itu saya rasakan sendiri. Pembelajaran pagi itu terasa tidak melelahkan, cair, dan tidak ada hambatan komunikasi antara saya dan siswa.

Di akhir pembelajaran saya membuat asesmen formatif untuk mengetahui jalannya pembelajaran hari itu. Instrumen yang saya pakai adalah exit ticket dengan model pertanyaan 3-2-1. Saya meminta siswa untuk menuliskan 3 hal yang dipelajari, 2 hal yang menarik, dan 1 hal yang masih menjadi pertanyaan. Dalam sesi ini saya bebaskan siswa untuk menjawab, entah berhubungan dengan materi pelajaran atau tidak.

Saat jam pelajaran selesai, saya kembali ke kantor dan membaca hasil exit ticket tersebut. Hasilnya, secara umum positif, saya bisa mengatakan pembelajaran saya hari itu berhasil. Secara umum hasil exit ticket sebagai berikut.

  • Mayoritas siswa memahami materi yang dipelajari, baik mengenai klasifikasi dan pengantar klasifikasi 5 kingdom.

  • Mayoritas siswa mengatakan suasana kelas selama pembelajaran positif dan nyaman. Saya bisa mengatakan suasana tersebut secara tidak langsung membuat siswa merasa nyaman belajar. Ada juga yang mengatakan udara terasa segar.

  • Mayoritas siswa masih menyimpan rasa ingin tahu mengenai suatu hal, hal ini terlihat dari jawaban siswa yang tertulis di lembar exit ticket. Salah satu hal yang masih menjadi pertanyaan adalah, “Mengapa jamur tidak mempunyai kerajaan (kingdom)?”

  • Ada salah satu siswa yang mengatakan guru (saya) menarik (dalam mengajar), dan dia juga mengatakan suasana kelas menarik.

Dengan umpan balik seperti di atas, menurut saya membuat pembelajaran menjadi menyenangkan berawal dari diri guru. Saya percaya proses belajar mengajar adalah transfer energi, saat kita membawa aura positif, maka aura tersebut akan mengalir ke siswa juga.

Kadang permasalahan pembelajaran yang kita rasakan solusinya bukan pada mengganti model pembelajaran, mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, atau memakai media pembelajaran yang menarik. Kadang solusi paling mujarab ada dalam diri kita sendiri.

Siswa akan belajar jika dia ingin belajar, siswa akan tertarik belajar jika ada hal yang menarik perhatiannya. Tugas guru menurut saya adalah memberikan perhatian dan mencoba memahami apa yang diinginkan siswa. Terkadang siswa tidak bisa menyampaikan apa yang diinginkannya dengan jelas.

Semua siswa ingin pintar, ingin maju, tidak ada yang mau menjadi bodoh, atau tertinggal. Semuanya dimulai dari diri sendiri (guru), guru yang terus belajar sepanjang hayat, dan guru yang reflektif serta mau memperbaiki diri.

Ini pengalaman saya. Berikut saya tampilkan beberapa exit ticket siswa.





Minggu, 17 Mei 2026

GDevelop untuk Guru: Membuat Simulasi HTML5 Tanpa Harus Jago Coding Text-Based

Ilustrasi dibuat dengan AI


Hampir seharian saya berkutat di depan laptop, mencoba menyelesaikan sebuah tantangan yang saya buat sendiri, membuat simulasi berbasis web. Sebenarnya bukan karena iseng, simulasi ini saya buat untuk mengikuti sebuah kegiatan yang diselenggarakan penerbit Yudhistira, yaitu membuat sebuah animasi atau simulasi pembelajaran berbasis HTML5.

Saya memang menyukai dunia pemrograman, mengerti bagaimana bahasa HTML, namun kalau tingkatannya sudah membuat game, kemampuan pemrograman saya tidak sampai level tersebut. Akhirnya, saya harus memutar otak untuk mencari tool yang dapat melakukan pemrograman dengan output HTML5, namun yang tidak berbasis teks. Setelah melakukan riset sederhana dengan menggunakan pencarian Google, dapatlah aplikasi tersebut, Gdevelop.

Salah satu poin dalam panduan ajang ini adalah bahwa dalam pembuatannya tidak diperbolehkan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Setelah melihat beberapa contoh HTML5 yang disediakan oleh penyelenggara, saya melihat ternyata animasi atau simulasi yang dijadikan contoh cukup sederhana. Dengan demikian, saya merasa cukup bisa membuat hal yang serupa, sederhana saja.

Simulasi yang saya buat mengenai jaring-jaring makanan, saya tujukan untuk siswa tingkat sekolah dasar. Di tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai simulasi yang saya buat, namun lebih ke software pembuatnya, Gdevelop.

Saya tidak tahu banyak mengenai Gdevelop, yang saya tahu software atau aplikasi ini bisa digunakan untuk membuat game, terkhusus dengan output HTML5 yang saya butuhkan. Model pemrogramannya seperti Microsoft Visual Basic, Aplikasi yang dulu sempat saya pelajari semasa SMA dan awal kuliah, secara otodidak.

Gdevelop saya pilih karena cukup ringan, dapat dijalankan di laptop yang menggunakan sistem operasi Linux, dan tentu saja gratis. Tentu ada batasan untuk fitur gratis, namun fitur yang gratis pun sudah mencukupi kebutuhan saya. Untuk sistem operasi linux ada pilihan untuk install melalui Flathub atau AppImage, saya pilih AppImage karena faktor portabilitas dan menghemat ruang di laptop saya. Kalau tidak ingin menginstall di laptop, ada pilihan untuk melakukan pemrograman langsung melalui browser.

Gdevelop dapat diakses pada laman gdevelop.io. Di halaman awal, saya langsung disuguhkan oleh berbagai game yang sudah dibuat dengan aplikasi ini, mungkin dari komunitasnya. Karena setelah saya menyelesaikan simulasi jaring-jaring makanan, hasil karya saya dapat di export menjadi HTML5 atau bisa diunggah langsung ke gdevelop. Ya, karya saya yang sederhana itu sudah masuk ke katalog Gdevelop, bisa dijalankan lewat tautan.

Model pemrogramannya yang object oriented memudahkan saya yang hanya pengetahuan sedikit di bahasa HTML. Dimulai dengan memasukkan objek atau sprite (seperti scratch), mengatur properties nya, mengatur behaviornya, kemudian membuat logika atau event yang akan berjalan. Asalkan memiliki pengetahuan dasar mengenai logika pemrograman, semuanya akan berjalan lancar-lancar saja.

Seperti web aplikasi pada umumnya, Gdevelop juga memberikan akses tutorial mulai dari  tingkat beginner sampai intermediate. Walaupun mengintegrasikan AI, saya lebih suka untuk belajar langsung dari nol. Karena kalau memakai AI artinya saya tidak belajar apa-apa, mungkin hasilnya bagus dan menarik, tapi saya tidak memperoleh tambahan ilmu apa-apa.

Aplikasi ini cocok untuk digunakan dalam pembelajaran berbasis STEM, atau IPA. Karena aspek science, technology, Engineering, dan mathematics akan terasah. Sebagai guru saya merasa aplikasi ini akan sangat berguna jika melakukan pembelajaran berbasis proyek atau masalah, dimana produk berupa simulasi atau sejenisnya dapat dibuat dengan cukup mudah. Tapi sekali lagi, mau tidak mau harus mempelajari dasar-dasar pemrograman secara umum.

Mungkin kedepannya saya akan memanfaatkan aplikasi Gdevelop untuk membuat portofolio digital saya, bisa berupa game, simulasi, atau animasi pembelajaran IPA. Kalau untuk mengajak siswa melakukan pemrograman saat ini, sepertinya belum tepat. Karena siswa harus menguasai dasar-dasar pemrograman, dan itu memerlukan waktu.

Saya telah mengirim karya simulasi jaring-jaring makanan hari ini, saya akan menunggu hasilnya. Tidak penting bagaimana hasilnya, yang terpenting sudah mencoba, dan mendapatkan ilmu baru. Pemrograman dengan Gdevelop.

Simulasi yang saya buat:

https://gd.games/games/7134ae7e-04df-46fc-afdb-e7217b116a56 

Rabu, 13 Mei 2026

Lupus: yang pernah viral, ketika istilah viral belum ada


Dalam suatu momen ketika menunggu proses registrasi sebuah penginapan, mata saya langsung tertuju ke sebuah etalase kaca yang masih berada di dalam area resepsionis. Di atas etalase kaca tersebut terlihat tumpukan beberapa buku lama, terlihat dari warna kertasnya yang menguning dan kusam.

Ada satu buku yang menarik perhatian saya, sebuah buku yang membawa kembali ingatan saat SMA, sebuah buku yang dulu identik dengan anak-anak populer di sekolah, buku itu berjudul: Lupus.

Yah, Lupus. Sebuah novel teenlit yang ditulis oleh Hilman menceritakan petualangan lucu seorang anak SMA bernama Lupus yang terkenal playboy bersama dua teman setianya, Boim dan Gusur. Cerita Lupus ini dulu bahkan pernah diangkat menjadi sinetron yang tayang di Indosiar. Bagi anda memasuki usia remaja di era 2000-an awal, anda semua pasti sudah paham maksud saya.

Saya mengenal cerita Lupus ini saat SMA, novel ini menjadi salah satu barang langka yang sulit didapatkan. Yang saya tahu, perpustakaan SMA saya dulu mempunyai koleksi buku ini, tetapi banyak yang antre meminjamnya. Bahkan saya mendengar, kalau mau pinjam harus pesan dulu ke petugas perpustakan, supaya ketika buku itu kembali ke perpustakaan, kita segera diberi tahu untuk segera meminjam buku tersebut.

Singkat cerita, selama masa sekolah tersebut saya hanya sekedar tahu ada novel ini, tapi tidak pernah membacanya. Saya hanya mengikuti cerita Lupus lewat sinetronnya di Indosiar.

Sekarang setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, saya berjumpa lagi dengan buku ini, di sebuah ruang resepsionis penginapan. Akhirnya saya meminjam buku tersebut, dan selesai membacanya. Oh ya, novel Lupus merupakan novel berseri, yang saya baca hanyalah salah satu dari rangkaian seri novel Lupus.

Cerita yang disajikan beragam dalam seri yang saya baca, mulai dari masalah percintaan Lupus, duo sahabat karibnya yang ada-ada saja, adiknya yang bawel, sampai bisnis catering orang tuanya yang sempat bermasalah

Namun salah satu konflik ikonik dalam seri ini adalah Gusur ternyata bukan cucu kandung engkongnya. Ada sepasang suami istri yang mencari anak yang telah dibuangnya dua puluh tahun lalu, singkat cerita Gusur lah anak tersebut. 

Setelah Gusur tinggal bersama orang tuanya, meninggalkan engkongnya, Gusur berubah menjadi sombong karena statusnya sebagai orang kaya baru. 

Namun belum lama merasakan hidup enak ala orang kaya, Gusur akhirnya diusir oleh orang tuanya. Orang tua Gusur menyadari ternyata Gusur bukan anak mereka, hal itu mereka sadari setelah menyadari tanda lahir bayi mereka dulu tidak ada di tubuh Gusur.

Bab mengenai Gusur ini cukup miris ceritanya, namun masih dibalut alur cerita yang lucu, menjadikan bagian cerita ini miris nan lucu.

Secara umum, novel Lupus cukup lucu, walaupun tidak pakai banget. Untuk masa prime-nya, novel ini berhasil masuk celah kosong di dunia remaja yang butuh bacaan santai, ringan, lucu, dan kekinian. Jadi buku ini lahir di waktu yang tepat.

Sekarang era buku sudah mulai tersisih, digantikan gawai dan media sosial. Hiburan sekarang dicari lewat layar kotak yang kita genggam. 

Namun saya bisa katakan kepada anda semua, membaca buku itu beda. Ketika kita membaca cerita, setiap orang akan mempunyai imajinasi yang berbeda-beda, walaupun cerita yang dibaca sama. 

Membaca buku membuat koneksi antara pembaca dan bukunya. Menciptakan imajinasi dan pemahaman sendiri, membuat ruang khayal sendiri. Sesuatu yang tidak diberikan oleh konten video 30 detik.

Jadi, apakah novel teenlit yang pernah anda baca?

Kamis, 07 Mei 2026

Dari Ujian Praktik hingga Hackathon part 2


Pekan ini berjalan seperti pekan-pekan sebelumnya, tidak ada yang istimewa. Dalam beberapa pekan sebelumnya, pekerjaan saya berhubungan dengan ujian. Ya memang beberapa waktu belakangan ini merupakan waktunya ujian bagi siswa kelas sembilan. Ada asesmen sumatif akhir tahun, asesmen unjuk kinerja, dan asesmen akhir jenjang. Saya lebih suka menyebutnya ujian saja, nama boleh berganti-ganti, namun intinya tetap. Ujian.

Pekan kemarin dilaksanakan asesmen unjuk kinerja, dulu disebut dengan ujian praktik. Mudahnya, ujian ini mengukur sejauh mana siswa mampu mempraktikkan konsep-konsep yang telah dipelajarinya, dalam hal ini IPA. Tema ujian praktik IPA tahun ini adalah uji kandungan makanan.

Praktik uji kandungan makanan kali ini saya pilih karena beberapa alasan, antara lain mudah dilakukan, bisa dilakukan dalam satu hari, dan yang penting saya bisa melihat secara langsung bagaimana siswa benar-benar mempraktikkan pengetahuan mereka. Memang jauh dari kesan "digital" yang sekarang sedang trend, tapi semua itu pilihan, dan menurut saya ini pilihan yang logis dan masuk akal untuk saya.

Secara spesifik, praktikum uji kandungan makanan yang dilaksanakan adalah uji amilum dan protein. Untuk uji amilum menggunakan cairan betadine sebagai pengganti lugol, dan untuk uji protein menggunakan biuret. Sebelumnya saya telah membeli reagen biuret dan benedict, reagen benedict rencananya akan digunakan untuk uji kandungan gula, tapi karena uji kandungan gula mensyaratkan ada tindakan pemanasan dalam prosesnya, saya mengurungkan untuk uji tersebut. Jadi hanya uji amilum dan protein saja yang dilaksanakan.

Saya tidak akan mengulas bagaimana kedua uji tersebut dilakukan, namun saya ingin memotret suasananya saja dalam tulisan ini. Siswa dibagi menjadi beberapa sesi, dan secara acak memilih uji apa yang akan dilakukan. Setelah praktik dilakukan, siswa membuat laporan sederhana dari kegiatan yang telah dilakukannya.

Beberapa mata pelajaran lain melakukan ujian praktik dengan membuat video, memang cara ini lebih mudah dan tidak merepotkan daripada ujian praktik yang saya lakukan. Namun ketika saya bertanya kepada siswa mengenai mana yang lebih mereka suka antara membuat video di rumah atau ujian secara langsung, mereka mayoritas menjawab lebih suka ujian secara langsung seperti apa yang saya lakukan. Entah apa alasan mereka, tapi setidaknya saya merasa pilihan saya melakukan ujian praktik seperti ini tepat.

Sekitar pukul sebelas siang rangkaian ujian praktik IPA telah selesai, siswa pun telah selesai juga membuat laporan. Tidak ada tanggungan lagi untuk siswa, mungkin mereka bisa fokus membuat video untuk ujian praktik mata pelajaran lain.

Baiklah mungkin cukup mengenai ujian praktik IPA, kegiatan saya disusul dengan lanjutan kegiatan Hackathon. Ya, ternyata masih ada lanjutan dari kegiatan Hackathon yang saya ikuti di akhir tahun 2025 kemarin. Oh ya, dalam ajang tersebut tim kami mendapat peringkat tiga nasional untuk jenjang SMP. Membanggakan, tapi biasa saja.

Dalam kegiatan tersebut kamu diminta untuk membuat game edukasi dengan menggunakan Artificial Intelligence (AI). Sekarang, pihak Kemendikdasmen ingin menggunakan game yang telah dibuat kemarin untuk mengisi konten di platform Ruang Murid. Jadi kami harus melakukan beberapa penyesuaian, karena ada beberapa persyaratan agar game yang kami buat dapat masuk ke Ruang Murid.

Apakah saya senang? Tentu saja. Namun rasa senang saya terhadap kegiatan seperti ini sudah tidak seperti dulu. Dulu dikala umur dua puluh tahunan, saya sangat bersemangat mengikuti lomba atau kegiatan luar semacam ini, namun dengan bertambahnya usia, saya merasa harus membatasi diri untuk mengikuti kegiatan ini. Saya mungkin akan lebih selektif, mungkin karena faktor stamina, dan saya juga ingin kegiatan apapun yang saya ikuti sekarang benar-benar memberikan dampak kepada diri sendiri atau siswa. Ibarat pendekar sudah waktunya naik gunung, mungkin sekali-kali turun gunung tidak mengapa.

Sampai saya menulis tulisan ini, proses Hackathon masih berjalan. Batas waktunya tidak lama, tapi saya yakin bisa. Tinggal melakukan beberapa penyesuaian dan mengunggah ke Ruang Murid.

Besok apa lagi? Entahlah. Apapun itu harus disikapi dengan bijaksana, walaupun sampai saat ini saya juga masih belajar bijaksana.

Resensi Ringkas: Teladan Saudagar Cilik & The Baker Boy’s Wish Box

Dua buku telah saya habiskan hari ini, Teladan Saudagar Cilik dan The Baker Boy’s Wish Box . Keduanya bukan milik saya, buku pertama saya pi...