Pekan ini berjalan seperti pekan-pekan sebelumnya, tidak ada yang istimewa. Dalam beberapa pekan sebelumnya, pekerjaan saya berhubungan dengan ujian. Ya memang beberapa waktu belakangan ini merupakan waktunya ujian bagi siswa kelas sembilan. Ada asesmen sumatif akhir tahun, asesmen unjuk kinerja, dan asesmen akhir jenjang. Saya lebih suka menyebutnya ujian saja, nama boleh berganti-ganti, namun intinya tetap. Ujian.
Pekan kemarin dilaksanakan asesmen unjuk kinerja, dulu disebut dengan ujian praktik. Mudahnya, ujian ini mengukur sejauh mana siswa mampu mempraktikkan konsep-konsep yang telah dipelajarinya, dalam hal ini IPA. Tema ujian praktik IPA tahun ini adalah uji kandungan makanan.
Praktik uji kandungan makanan kali ini saya pilih karena beberapa alasan, antara lain mudah dilakukan, bisa dilakukan dalam satu hari, dan yang penting saya bisa melihat secara langsung bagaimana siswa benar-benar mempraktikkan pengetahuan mereka. Memang jauh dari kesan "digital" yang sekarang sedang trend, tapi semua itu pilihan, dan menurut saya ini pilihan yang logis dan masuk akal untuk saya.
Secara spesifik, praktikum uji kandungan makanan yang dilaksanakan adalah uji amilum dan protein. Untuk uji amilum menggunakan cairan betadine sebagai pengganti lugol, dan untuk uji protein menggunakan biuret. Sebelumnya saya telah membeli reagen biuret dan benedict, reagen benedict rencananya akan digunakan untuk uji kandungan gula, tapi karena uji kandungan gula mensyaratkan ada tindakan pemanasan dalam prosesnya, saya mengurungkan untuk uji tersebut. Jadi hanya uji amilum dan protein saja yang dilaksanakan.
Saya tidak akan mengulas bagaimana kedua uji tersebut dilakukan, namun saya ingin memotret suasananya saja dalam tulisan ini. Siswa dibagi menjadi beberapa sesi, dan secara acak memilih uji apa yang akan dilakukan. Setelah praktik dilakukan, siswa membuat laporan sederhana dari kegiatan yang telah dilakukannya.
Beberapa mata pelajaran lain melakukan ujian praktik dengan membuat video, memang cara ini lebih mudah dan tidak merepotkan daripada ujian praktik yang saya lakukan. Namun ketika saya bertanya kepada siswa mengenai mana yang lebih mereka suka antara membuat video di rumah atau ujian secara langsung, mereka mayoritas menjawab lebih suka ujian secara langsung seperti apa yang saya lakukan. Entah apa alasan mereka, tapi setidaknya saya merasa pilihan saya melakukan ujian praktik seperti ini tepat.
Sekitar pukul sebelas siang rangkaian ujian praktik IPA telah selesai, siswa pun telah selesai juga membuat laporan. Tidak ada tanggungan lagi untuk siswa, mungkin mereka bisa fokus membuat video untuk ujian praktik mata pelajaran lain.
Baiklah mungkin cukup mengenai ujian praktik IPA, kegiatan saya disusul dengan lanjutan kegiatan Hackathon. Ya, ternyata masih ada lanjutan dari kegiatan Hackathon yang saya ikuti di akhir tahun 2025 kemarin. Oh ya, dalam ajang tersebut tim kami mendapat peringkat tiga nasional untuk jenjang SMP. Membanggakan, tapi biasa saja.
Dalam kegiatan tersebut kamu diminta untuk membuat game edukasi dengan menggunakan Artificial Intelligence (AI). Sekarang, pihak Kemendikdasmen ingin menggunakan game yang telah dibuat kemarin untuk mengisi konten di platform Ruang Murid. Jadi kami harus melakukan beberapa penyesuaian, karena ada beberapa persyaratan agar game yang kami buat dapat masuk ke Ruang Murid.
Apakah saya senang? Tentu saja. Namun rasa senang saya terhadap kegiatan seperti ini sudah tidak seperti dulu. Dulu dikala umur dua puluh tahunan, saya sangat bersemangat mengikuti lomba atau kegiatan luar semacam ini, namun dengan bertambahnya usia, saya merasa harus membatasi diri untuk mengikuti kegiatan ini. Saya mungkin akan lebih selektif, mungkin karena faktor stamina, dan saya juga ingin kegiatan apapun yang saya ikuti sekarang benar-benar memberikan dampak kepada diri sendiri atau siswa. Ibarat pendekar sudah waktunya naik gunung, mungkin sekali-kali turun gunung tidak mengapa.
Sampai saya menulis tulisan ini, proses Hackathon masih berjalan. Batas waktunya tidak lama, tapi saya yakin bisa. Tinggal melakukan beberapa penyesuaian dan mengunggah ke Ruang Murid.
Besok apa lagi? Entahlah. Apapun itu harus disikapi dengan bijaksana, walaupun sampai saat ini saya juga masih belajar bijaksana.
