Kamis, 24 September 2026

Antara Rem dan Gas di Ruang Kelas VII


Dua hari ini saya memutar otak untuk mencari ide tulisan, tak satupun yang benar-benar jadi ide yang matang. Mungkin karena sudah dua bulan ini saya tidak menulis, otot-otot menulis saya rasanya sudah lemas, perlu usaha ekstra keras untuk menguatkan lagi otot-otot tersebut.

Akhirnya, malam ini saya paksakan untuk menulis, entah bagaimana jadinya. Satu hal yang ada di kepala adalah pengalaman mengajar kelas tujuh selama dua hari ini. Saya mengajar kelas VII-A dan VII-B. Dan keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Kelas VII-A cenderung aktif, atau bahkan terlalu aktif. Tak jarang saya harus bolak-balik mengingatkan para siswa ini untuk tenang dan berkonsentrasi ke materi pelajaran. Ada celah sedikit saja, kelas akan menjadi gaduh, tanpa perlu waktu yang lama.

Sebaliknya, kelas VII-B berbeda, para siswanya cenderung pasif. Bahkan jika saya melemparkan pertanyaan ketika pelajaran, tak satupun yang berinisiatif menjawab. Saya minta mereka untuk mengangkat tangan, tak satupun tangan yang terangkat. Entah apa yang ada di benak mereka.

Fenomena ini cukup menarik perhatian saya, mengapa anak-anak ini takut untuk sekedar mengangkat tangan. Saya sudah menyampaikan, pendapat apapun boleh, jangan takut salah, menjawab pertanyaan salah juga tidak menjadi masalah. Namun mereka tetap diam. Dan akhirnya saya yang mengalah, lanjut ceramah.

Saya tidak tahu apa yang melatar belakangi ini semua, apakah kebiasaan ini telah tumbuh sejak mereka di sekolah dasar? Ada yang salah.

Asumsi saya mereka hanya takut salah menjawab, malu untuk menjawab, atau bahkan tidak terbiasa untuk berinisiatif menjawab. Apakah semasa di sekolah dasar mereka tidak mendapatkan ruang untuk berinisiatif? 

Bisa jadi budaya dalam sistem pendidikan kita yang masih terperangkap dalam romantisme pendidikan era kolonial atau orde baru. Guru adalah subjek, siswa adalah objek. Guru pasti benar dan harus didengar, siswa cukup diam dan tidak boleh membantah.

Bukankah sekarang sudah berganti zaman, ini adalah zaman konstruktivisme, pembelajaran aktif. Ataukah para guru yang dihasilkan oleh pola pendidikan masa lalu–orde baru–masih menganggap metode yang mereka terima dulu adalah yang paling efektif? Metode yang mencetak mereka sekarang ini.

Rasanya guru harus mau melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa zaman berubah, manusianya pun berubah. Kita sebagai guru harus menanamkan kepada siswa kepercayaan diri, mau berinisiatif, berani mengemukakan pendapat. Jangan sampai hanya untuk sekedar berbicara, siswa harus berpikir dua kali. Kita harus menghilangkan dari pikiran mereka bahwa perasaan takut salah dalam berpendapat atau menjawab pertanyaan. Bukankah kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Kenapa kelas VII-A berbeda, mungkin karena saya wali kelasnya. Sejak awal saya memang menekankan mereka untuk aktif dan berani mengemukakan pendapat. Saya tidak mengatakan bahwa saya guru yang paling benar, saya hanya melakukan apa yang saya yakini benar, bahwa seorang guru adalah fasilitator pembelajaran, termasuk membimbing siswa untuk aktif dalam pembelajaran.

Dua kelas ini memerlukan treatment yang berbeda, Kelas VII-A perlu diarahkan agar keaktifan yang telah terbangun dapat difokuskan kepada proses pembelajaran, sedangkan VII-B perlu dibangun suasana untuk aktif dalam pembelajaran.  Yang satu agak ngerem, yang satu agak ngegas.

Ya itulah dunia belajar mengajar, karena objeknya manusia, ada saja dinamikanya. Tapi bagi saya ini adalah tantangan, para siswa adalah aset masa depan, tugas kita menyiapkan mereka agar kelak tidak tergilas zaman.

Ya, pendidikan Indonesia masih punya pekerjaan rumah, mulai dari tingkat atas sampai bawah. Dan saya hanyalah seorang guru, maka yang bisa saya usahakan adalah sebatas ruang-ruang kelas. Ruang kelas yang penuh manusia-manusia yang sedang bertumbuh.

Semoga kedua kelas tujuh ini segera mencapai kondisi ideal, siswa yang aktif dan pembelajaran yang menyenangkan, sekaligus bermakna. Gurunya maju, siswanya juga maju. Amin.

Antara Rem dan Gas di Ruang Kelas VII

Dua hari ini saya memutar otak untuk mencari ide tulisan, tak satupun yang benar-benar jadi ide yang matang. Mungkin karena sudah dua bulan ...