Dua hari yang lalu, tepatnya selasa 10 Februari 2026, menjadi hari yang menarik bagi saya. Bertempat di sebuah ruangan di SMP Negeri 1 lasem, ratusan guru duduk bersama untuk mengikuti sebuah pelatihan. Di hari itu Smart Learning and Character Center (SLCC) PGRI Kabupaten Rembang mengadakan sebuah pelatihan pembuatan game pembelajaran yang bertajuk Kelas Pemanfaatan IFP untuk pembelajaran.
Acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 wib tersebut diikuti 114 guru mulai jenjang TK/PAUD hingga SMK. Dimulai dengan acara pembukaan yang dihadiri ketua SLCC, Ketua PGRI Kabupaten Rembang, dan juga Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang. Fokus utama kegiatan tersebut adalah pelatihan pembuatan game dengan memanfaatkan kecerdasan artificial untuk dimanfaatkan di media Interactive Flat Panel (IFP) yang telah dimiliki hampir semua sekolah.
Yang menarik bagi saya adalah bagaimana kegiatan diluar perkiraan atau ekspektasi saya. Sebelumnya saya berpikiran pelatihan ini akan menjadi pelatihan "pada umumnya", pelatihan yang berujung pada sertifikat yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan administrasi bagi para guru, namun kenyataannya sungguh berbeda, pelatihan ini benar-benar "pelatihan".
Semuanya dimulai ketika pengurus SLCC yang baru terbentuk melakukan rapat daring dan menentukan berbagai program yang akan dilakukan selama masa kepengurusan ini. Saya tergabung di SLCC PGRI Kabupaten Rembang sebagai anggota. Salah satu usulan yang keluar dalam rapat tersebut adalah membuat pelatihan pembuatan media pembelajaran berbentuk game dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial, dan pada akhirnya usulan tersebut disetujui.
Latar belakang munculnya ide tersebut adalah berita bahwa tim SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan menjadi juara dalam sebuah event yang bertajuk Hackathon yang diselenggarakan Rumah Pendidikan Kemendikdasmen pada penghujung 2025. Saya pribadi merupakan bagian dari tim tersebut, dan SLCC beranggapan hal ini perlu diimbaskan ke guru-guru di Kabupaten Rembang, dalam bentuk Pelatihan. Cerita Mengenai perjalanan Tim SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan dapat dilihat dari salah satu tulisan di blog ini yang bertajuk "Dan, inilah perjalanan kami di hackathon 2025".
Pada awalnya saya beranggapan animo guru untuk mengikuti kegiatan ini biasa-biasa saja, apalagi pelatihan berbayar. Setelah kepanitiaan dibentuk dan flyer disebarluaskan, dalam waktu beberapa hari jumlah pendaftar semakin bertambah, puncaknya empat hari sebelum kegiatan dilaksanakan, pendaftaran terpaksa ditutup karena sudah mencapai kapasitas maksimal ruangan yang akan kami gunakan. Disinilah awal keanehan saya rasakan, ternyata antusiasme para guru untuk megikuti pelatihan ini sungguh luar biasa. Di satu sisi saya merasa senang, disisi yang lain saya merasa mulai menanggung beban, karena dalam pelatihan ini saya bertindak menjadi salah satu narasumber yang akan berbagi materi.
Selasa pagi (10/2), para peserta satu per satu mulai berdatangan dan melakukan registrasi. semua datang dengan membawa laptop, seperti seorang tentara yang siap bertempur. Bahkan kami dari panitia kegiatan harus memodifikasi ruangan agar mampu menampung tambahan tempat duduk untuk peserta. Walaupun dengan sedikit berdesakan, semua peserta akhirnya bisa masuk untuk mengikuti kegiatan.
Akhirnya acara pun dimulai. Diawali dengan acara pembukaan yang berisi sambutan dari ketua SLCC, Ketua PGRI Kabupaten Rembang, dan Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang. Kepala Dindikpora bergabung secara daring melalui telekonferensi, karena beliau sedang ada kegiatan. Sesi pembukaan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh salah satu peserta.
Menginjak pukul 09.30 wib, acara inti dimulai. Acara inti terbagi dalam dua sesi, sesi pertama mengenai pembuatan game pembelajaran dengan memanfaatkan Gemini AI, dan sesi kedua mengintegrasikan game tersebut ke google site. Saya mendapat bagian untuk memandu sesi pertama.
Keanehan selanjutnya pun dimulai, ketika saya memaparkan cara pembuatan game dengan gemini AI, semua peserta tampak antusias dan memperhatikan. Tampak dalam raut wajah mereka semangat untuk belajar, benar-benar ingin belajar. Setelah memberikan paparan teori, saya mengajak peserta untuk langsung praktek. Semuanya serentak membuka laptop dan mulai berkreasi untuk membuat game pembelajaran sesuai jenjang sekolah dan materi yang diampu. Semuanya tampak serius mengutak-atik prompt untuk mendapatkan game yang diinginkan. Saya dan beberapa rekan panitia pun turun untuk membantu para peserta yang sedang mengalami kesulitan.
Para peserta yang beragam, mulai dari guru muda hingga guru senior semuanya terlihat fokus belajar. Kenyataan ini menyadarkan saya bahwa apa yang saya pikirkan salah. Kegiatan ini menjadi ajang belajar dan berkolaborasi. Bahkan hingga sesi pertama berakhir, masih tampak beberapa peserta yang masih asyik mengetik prompt di laptopnya, padahal sudah waktunya istirahat,makan siang, dan sholat.
Memasuki sesi kedua yang dipandu salah satu rekan, suasananya pun masih sama. Peserta sudah mulai memasukkan game yang mereka buat di google site. WA grup pelatihan pun mulai dipenuhi dengan tautan google site para peserta yang berbagi karyanya.
Satu pemandangan yang menarik perhatian saya adalah ketika acara telah selesai, sebagian peserta sudah pulang, masih ada tiga peserta yang duduk di ruangan. Mereka masih serius menyelesaikan game yang buatan mereka. Sungguh semangat belajar yang sangat luar biasa.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa, semangat untuk maju dan belajar tidak mengenal usia. Ternyata banyak guru-guru hebat di Kabupaten Rembang yang memiliki semangat untuk maju dan mengembangkan diri. Saya sangat bangga dengan semua guru di Kabupaten Rembang, dan saya percaya masa depan pendidikan di Kabupaten Rembang akan semakin cerah dan maju.
Next, apalagi kegiatan yang akan diinisiasi SLCC PGRI Rembang? kita tunggu saja kelanjutannya.
