Rabu, 27 Mei 2026

Keseruan Pameran IPA 2026: Ketika Kelas 8 Unjuk Gigi dan Kelas 7 Sibuk Berburu Sticky Notes

Kemarin (26/5) saya datang ke sekolah seperti biasa, namun salah satu ruang kelas sudah tampak ramai, para siswa dari kelas 8A dan 8B sibuk mempersiapkan sesuatu di atas meja. Ada apa?

Sebenarnya ketika sampai sekolah saya pun segera menuju ruang kelas tersebut sambil membawa laptop dan beberapa lembar instrumen asesmen. Ya, pagi itu saya dan para siswa kelas 8 akan menggelar sebuah acara yang bertajuk Pameran IPA 2026.

Pameran IPA ini merupakan salah satu kegiatan pada mata pelajaran IPA, sengaja saya membuatnya berbeda dengan kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan. Inti kegiatan ini adalah siswa bekerja secara berkelompok kemudian membuat sebuah proyek, setelah itu mereka mempresentasikannya. Setelah presentasi dilakukan, siswa dari kelas lain akan datang sebagai pengunjung pameran. Para pengunjung pameran ini akan melihat hasil proyek yang telah dibuat, berkomunikasi, hingga memberikan umpan balik kepada para siswa kelas 8.

Tema proyek ini adalah Bumi dan dinamikanya yang merupakan bab terakhir di kelas 8. Siswa pada masing-masing kelas dibagi menjadi empat kelompok dengan tema yang berbeda, antara lain struktur bumi, lempeng tektonik, gempa bumi, dan gunung berapi. Masing-masing kelompok membuat dua buah produk, poster informatif dan sebuah media peraga yang sesuai dengan tema.

Dari sudut pandang saya sebagai guru, kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan, seperti melatih kerjasama atau kolaborasi, membuat suasana belajar yang berbeda sehingga motivasi belajar akan meningkat, melatih kemampuan berbicara, dan tentu saja melatih kepercayaan diri. Jadi dalam mengajar bab Bumi dan dinamikanya, saya hanya memberikan pengantar secara klasikal dan para siswa lebih banyak melakukan kerja kelompok, dan itu dimulai beberapa minggu sebelum pameran dilakukan.

Kembali ke suasana ruang kelas pagi itu. Pukul 08.30, semua siswa sudah siap di stan masing-masing, dan presentasi akan segera dimulai. Saya dan siswa kemudian melakukan pengundian untuk menentukan urutan penampilan, setiap kelompok mendapatkan waktu presentasi sekitar sepuluh menit.

Kegiatan presentasi pun dimulai, semua kelompok bergantian melakukan presentasi. Tentu jalannya presentasi ini tidak semulus yang dibayangkan. Ada banyak hal yang bisa saya refleksikan dan akan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki proses pembelajaran kedepannya.

Salah satu hal yang saya rasakan adalah banyak siswa yang belum mampu untuk mengkomunikasikan hasil pekerjaan mereka dengan baik. Saya melihat beberapa siswa masih gugup ketika di depan kelas, bersuara lirih atau tidak jelas, hanya mencoba mengingat hafalan, dan tidak melakukan kontak mata dengan siswa lain yang menonton mereka. Tetapi ada juga siswa yang mampu melaksanakan presentasi dengan baik, seperti suaranya terdengar keras dan jelas, terlihat menguasai materi yang disajikan, dan mampu menyampaikan pesan kepada siswa lain yang menonton.

Saya menyadari semua kelebihan dan kekurangan siswa saat melakukan presentasi. Salah satu sebabnya, mungkin karena siswa tidak terbiasa untuk berbicara di depan orang banyak. 

Sistem pendidikan kita memang menginginkan siswa menjadi subjek pembelajaran, bukan objek pembelajaran. Namun kenyataan dilapangan sering kali berbanding terbalik dengan itu semua, siswa secara umum masih menjadi objek dalam pembelajaran. Saya melihat sendiri ketika kegiatan pembelajaran di kelas, siswa menjadi anak yang pendiam, tidak berani bertanya atau berkomentar. Mungkin karena takut salah menjawab, mungkin karena malu, atau mungkin karena mereka sudah terbiasa pada budaya “diam” sejak lama. Saya pribadi terus mencoba untuk membuat mereka berani aktif dalam pembelajaran, terkadang berhasil dan terkadang juga tidak berhasil.

Mengubah budaya seperti ini harus dilakukan secara kolektif, semua guru harus mempunyai mindset yang sama, dan itu berlaku di semua jenjang pendidikan. Pola mengajar lama yang memosisikan guru sebagai pusat pembelajaran, harus diubah menjadi fasilitator pembelajaran. Sebuah hal yang mudah dikatakan, namun cukup sulit dilakukan. Karena yang terjebak pada budaya lama tidak hanya siswa, banyak guru juga masih terjebak pada budaya lama (cara mengajar lama). Guru juga harus berbenah, menyadari perubahan paradigma belajar, dan yang paling penting mau berubah.

Setidaknya dengan pameran ini siswa memiliki pengalaman untuk berbicara di depan umum, melatih kepercayaan diri mereka. Walaupun belum maksimal, saya berharap pengalaman ini menjadi bekal mereka, dan ketika di kemudian hari mereka harus berbicara di depan umum, mereka sudah ada pengalaman, sudah tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dilakukan.

Mengenai produk yang dibuat siswa, saya pribadi kagum dengan apa yang mereka buat. Untuk poster informatif siswa membuatnya dengan menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI), hal itu memang saya sarankan. Kenapa saya melakukan hal itu? Mengingat produk yang harus dibuat tiap kelompok sebanyak dua buah, saya tidak ingin terlalu memberatkan. Selain alasan tersebut, faktor lainnya adalah agar tumbuh kepercayaan diri pada siswa, ketika mereka melihat hasil poster mereka bagus, secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Dengan demikian saya berharap tumbuh keyakinan pada diri siswa bahwa mereka bisa dan mampu, baik dalam membuat produk atau melakukan presentasi.

Produk yang kedua adalah model peraga yang berhubungan dengan materi pelajaran, disinilah berbagai kemampuan siswa diuji. Skill atau keterampilan abad 21 secara tidak disadari dilatih, seperti berkolaborasi, berkomunikasi, kreativitas, dan kemampuan untuk memecahkan masalah. Selain itu sisi soft skill dalam hal manajemen konflik dilatih, karena para siswa termasuk kategori remaja, maka kemampuan seperti orang dewasa belum tumbuh secara sempurna. Terkadang kurangnya tanggung jawab terhadap peran dalam kelompok akan menimbulkan konflik, dan disinilah kemampuan untuk mengelola dan menyelesaikan konflik dilatih.

Produk yang mereka buat bermacam-macam dan kreatif, semuanya berhubungan dengan materi pelajaran dan beberapa fotonya akan saya tampilkan di akhir tulisan ini. Saya cukup kagum mereka dapat membuat model peraga yang kreatif, memanfaatkan barang-barang yang mudah didapat, dan yang terpenting menyampaikan pesan.

Setelah rangkaian presentasi dilaksanakan, para siswa kelas 8 bersiap melakukan pameran. Tepat pukul 09.00 WIB para pengunjung pameran mulai berdatangan, dan untuk tahun ini pengunjung pameran didominasi siswa kelas tujuh, untuk siswa kelas sembilan tidak bisa bergabung mengunjungi pameran karena ada kegiatan lain.

Pameran IPA kali ini adalah pameran yang kedua yang saya laksanakan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pengunjung pameran tahun ini cukup unik. Mungkin karena masih terbawa jiwa anak-anak, para siswa kelas tujuh belum memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh pengunjung pameran. Siswa kelas tujuh ini malah terlihat sibuk mondar-mandir dan berebut menulis di sticky notes pada tiap stan, sebenarnya sticky notes yang ada diharapkan jadi umpan balik untuk siswa kelas 8. Tapi ya sudahlah, secara umum pameran berjalan dengan baik, saya harap ada insight yang diperoleh siswa kelas tujuh dari pameran ini, begitu juga untuk siswa kelas delapan.

Dan itulah keseruan Pameran IPA 2026, walaupun cukup menguras waktu dan pikiran, namun apa yang menjadi tujuan utama pembelajaran tercapai. Bukannya tidak ada kekurangan, pameran tahun ini juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut mengenai manajemen pameran itu sendiri, bagaimana mengatur kerumunan pengunjung, melakukan briefing ke siswa pengunjung, dan memastikan para siswa yang bertindak sebagai penampil memahami peran dan tugasnya. Semua itu akan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran kedepannya.

Terima kasih saya sampaikan untuk siswa kelas delapan atas dedikasi dan apa yang mereka tampilkan. Semoga para siswa menjadi berkesan dengan kegiatan ini dan memperoleh insight positif untuk diri mereka.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan.





















Keseruan Pameran IPA 2026: Ketika Kelas 8 Unjuk Gigi dan Kelas 7 Sibuk Berburu Sticky Notes

Kemarin (26/5) saya datang ke sekolah seperti biasa, namun salah satu ruang kelas sudah tampak ramai, para siswa dari kelas 8A dan 8B sibuk ...