Kemarin dalam perjalanan pulang pergi Surabaya-Semarang, saya akhirnya menamatkan buku ini, A Story that says I survived. Walaupun judulnya dalam bahasa inggris, tulisan di dalamnya tetap menggunakan bahasa indonesia. Buku yang saya beli karena terpantik oleh judulnya, dan setelah selesai membacanya, saya bisa memahami buku ini bercerita tentang apa.
Buku ini ditulis oleh Eni Rosita, dia memperkenalkan diri sebagai seorang penghobi olahraga lari. Pada awalnya saya mengira buku ini adalah sebuah novel, namun sekarang saya akan menyebutnya sebagai buku refleksi dari sang penulis. Buku ini bercerita mengenai kisah kelam yang pernah dialami oleh sang penulis, dan bagaimana dia bisa bangkit lagi dengan segala macam hambatan dan tantangan.
Tulisan diawali dengan cerita keikutsertaan penulis dalam sebuah event lari bertajuk Mesastila Peak Challenge 2016. Event ini merupakan lomba lari yang unik dan ekstrim karena peserta ditantang berlari di alam terbuka, tepatnya di Gunung Merbabu dan sekitarnya.
Pada bab pertama, penulis menceritakan bagaimana kejadian nahas tersebut menimpanya. Ketika sedang berlari di malam hari dalam gelaran Mesastila Peak Challenge 206 tersebut, dia merasakan guyuran air mengenai tubuhnya, terutama kaki. Ternyata dia disiram oleh air keras oleh orang yang tidak bertanggung jawab, yang kemudian melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor. Rasa panas terbakar kemudian menjalar seketika, dalam kesendirian di kegelapan malam, mau tidak mau dia harus terus berlari sambil mencari pertolongan. Singkat cerita dia kemudian bertemu dengan sekelompok warga di sebuah warung di sekitar lintasan lomba, kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Sampai akhir buku, penulis tidak mengetahui siapa pelakunya dan apa motif yang melatarbelakangi hal tersebut. Penulis lebih menceritakan bagaimana dia berjuang melawan rasa sakit, karena dalam sekejap efek dari siraman air keras tersebut telah mematikan jaringan kulit kakinya. Sebenarnya dia bisa saja menerima tindakan operasi dalam waktu cepat, namun dia memilih untuk melakukan tindakan operasi tersebut di rumah sakit di dekat rumahnya. Hal itu dilandasi alasan personal, namun pilihan tersebut membuat lukanya semakin parah.
Bab kedua menceritakan bagaimana dia melalui hari-harinya di sebuah kamar rumah sakit, ruang 923. Dia harus melalui rawat inap selama 21 hari dengan beberapa operasi yang menyakitkan untuk membuang jaringan kulit yang telah mati, dan menggantinya dengan jaringan kulit baru yang berasal dari tubuhnya sendiri. Sehingga luka di kakinya menjadi “sempurna”. Di fase tersebut dia menerima banyak dukungan baik dari keluarga dan teman-temannya.
Setelah melewati hari-hari yang terasa lama di rumah sakit, akhirnya dia bisa keluar dan menjalani proses penyembuhan di rumah. Sempat terpikir bahwa dunia lari yang selama ini dicintainya akan ditinggalkannya. Ya, luka di kedua kaki yang cukup parah membuatnya sedikit pesimis untuk bisa kembali ke kondisi semula.
Walaupun dengan luka yang belum kering sempurna, dia mulai untuk berlatih kembali, menjaga asa untuk kembali ke dunia yang dicintainya. Cerita berlanjut dengan dia mencoba mengikuti sebuah ajang ultra marathon di Sumbawa, dengan jarak ratusan kilometer. Dengan luka yang masih butuh perawatan, penulis menceritakan bagaimana dia berjuang untuk berlari kilometer demi kilometer, pada akhirnya dia mampu menyelesaikannya. Saya melihatnya sebagai usaha untuk melawan trauma, dan memang cara menghilangkan trauma yang efektif adalah dengan melawannya.
Sedikit kembali pada fase setelah keluar dari rumah sakit, ternyata penulis dan teman-temannya sesama penghobi lari secara “nekat” mendaftar lomba ultra marathon di luar negeri, lomba lari melintasi pegunungan Alpen yang memiliki lintasan ekstrim. Event lari ini di ikuti penulis setelah lomba lari lintas Sumbawa sebelumnya.
Dari apa yang dituliskannya mengenai lomba lari di pegunungan Alpen ini, saya sebagai orang yang tidak hobi lari mempertanyakan apa yang sebenarnya dicari. Untuk mengikuti lomba tersebut memerlukan biaya yang banyak, belum lagi waktu berlari yang berhari-hari, siang dan malam. Tapi, namanya juga hobi, saya bisa berkata apa? Walaupun sulit masuk di logika saya.
Bab selanjutnya menceritakan bagaimana penulis memilih ikut kembali dalam gelaran Mesastila Peak Challenge, ajang lari yang dulu memulai penderitaannya. Saya melihat dia memilih ikut untuk melawan semua ingatan buruk, melawan rasa takut, dan mencoba berdamai dengan diri sendiri. Walaupun berlari dengan rasa takut, beberapa kali meluapkan tangisan emosional, dan harus melewati kembali tempat kejadian, akhirnya penulis dapat menyelesaikan lomba lari tersebut.
Tidak ada lagi dendam yang tersisa. Tidak penting lagi siapa pelakunya dahulu, apa motifnya, dan bagaimana perkembangan kasusnya. Dia sudah berdamai dengan semuanya, berdamai dengan bekas luka yang mungkin tidak akan pernah hilang.
Yang bisa saya petik dari buku ini adalah saat kita terjatuh, yang bisa menolong kita adalah diri kita sendiri. Tentu ada campur tangan Allah yang Maha Kuasa, kita sebagai manusia harus bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa, dan mencoba bangkit dengan kaki kita sendiri.
Sebuah buku yang menarik bagi anda yang merasa terpuruk dan butuh motivasi. Namun kembali lagi, obat dari semua hal buruk yang menimpa kita, ternyata ada dalam diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar