Rabu, 13 Mei 2026

Lupus: yang pernah viral, ketika istilah viral belum ada


Dalam suatu momen ketika menunggu proses registrasi sebuah penginapan, mata saya langsung tertuju ke sebuah etalase kaca yang masih berada di dalam area resepsionis. Di atas etalase kaca tersebut terlihat tumpukan beberapa buku lama, terlihat dari warna kertasnya yang menguning dan kusam.

Ada satu buku yang menarik perhatian saya, sebuah buku yang membawa kembali ingatan saat SMA, sebuah buku yang dulu identik dengan anak-anak populer di sekolah, buku itu berjudul: Lupus.

Yah, Lupus. Sebuah novel teenlit yang ditulis oleh Hilman menceritakan petualangan lucu seorang anak SMA bernama Lupus yang terkenal playboy bersama dua teman setianya, Boim dan Gusur. Cerita Lupus ini dulu bahkan pernah diangkat menjadi sinetron yang tayang di Indosiar. Bagi anda memasuki usia remaja di era 2000-an awal, anda semua pasti sudah paham maksud saya.

Saya mengenal cerita Lupus ini saat SMA, novel ini menjadi salah satu barang langka yang sulit didapatkan. Yang saya tahu, perpustakaan SMA saya dulu mempunyai koleksi buku ini, tetapi banyak yang antre meminjamnya. Bahkan saya mendengar, kalau mau pinjam harus pesan dulu ke petugas perpustakan, supaya ketika buku itu kembali ke perpustakaan, kita segera diberi tahu untuk segera meminjam buku tersebut.

Singkat cerita, selama masa sekolah tersebut saya hanya sekedar tahu ada novel ini, tapi tidak pernah membacanya. Saya hanya mengikuti cerita Lupus lewat sinetronnya di Indosiar.

Sekarang setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, saya berjumpa lagi dengan buku ini, di sebuah ruang resepsionis penginapan. Akhirnya saya meminjam buku tersebut, dan selesai membacanya. Oh ya, novel Lupus merupakan novel berseri, yang saya baca hanyalah salah satu dari rangkaian seri novel Lupus.

Cerita yang disajikan beragam dalam seri yang saya baca, mulai dari masalah percintaan Lupus, duo sahabat karibnya yang ada-ada saja, adiknya yang bawel, sampai bisnis catering orang tuanya yang sempat bermasalah

Namun salah satu konflik ikonik dalam seri ini adalah Gusur ternyata bukan cucu kandung engkongnya. Ada sepasang suami istri yang mencari anak yang telah dibuangnya dua puluh tahun lalu, singkat cerita Gusur lah anak tersebut. 

Setelah Gusur tinggal bersama orang tuanya, meninggalkan engkongnya, Gusur berubah menjadi sombong karena statusnya sebagai orang kaya baru. 

Namun belum lama merasakan hidup enak ala orang kaya, Gusur akhirnya diusir oleh orang tuanya. Orang tua Gusur menyadari ternyata Gusur bukan anak mereka, hal itu mereka sadari setelah menyadari tanda lahir bayi mereka dulu tidak ada di tubuh Gusur.

Bab mengenai Gusur ini cukup miris ceritanya, namun masih dibalut alur cerita yang lucu, menjadikan bagian cerita ini miris nan lucu.

Secara umum, novel Lupus cukup lucu, walaupun tidak pakai banget. Untuk masa prime-nya, novel ini berhasil masuk celah kosong di dunia remaja yang butuh bacaan santai, ringan, lucu, dan kekinian. Jadi buku ini lahir di waktu yang tepat.

Sekarang era buku sudah mulai tersisih, digantikan gawai dan media sosial. Hiburan sekarang dicari lewat layar kotak yang kita genggam. 

Namun saya bisa katakan kepada anda semua, membaca buku itu beda. Ketika kita membaca cerita, setiap orang akan mempunyai imajinasi yang berbeda-beda, walaupun cerita yang dibaca sama. 

Membaca buku membuat koneksi antara pembaca dan bukunya. Menciptakan imajinasi dan pemahaman sendiri, membuat ruang khayal sendiri. Sesuatu yang tidak diberikan oleh konten video 30 detik.

Jadi, apakah novel teenlit yang pernah anda baca?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lupus: yang pernah viral, ketika istilah viral belum ada

Dalam suatu momen ketika menunggu proses registrasi sebuah penginapan, mata saya langsung tertuju ke sebuah etalase kaca yang masih berada d...