Finlandia terkenal dengan kualitas pendidikannya yang maju, hal ini terbukti dengan skor PISA yang tinggi. Sebagai seseorang yang juga berprofesi sebagai pendidik, fakta ini menggugah keingintahuan saya mengenai bagaimana kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di negara nordik tersebut. Akhirnya gambaran tersebut saya dapatkan di sebuah buku yang berjudul Teach like Finland.
Buku ini pertama kali terbit di New York, dan dialihbahasakan oleh penerbit Gramedia. Penulis buku ini adalah Timothy D Walker, seorang guru sekolah dasar berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menjadi guru di Finlandia.
Yang menarik adalah buku ini tidak membahas sisi pendidikan di Finlandia secara akademis, namun lebih kepada pengalaman penulis selama menjadi guru di negara tersebut. Buku setebal 197 halaman ini banyak membahas sisi keseharian pembelajaran di sekolah Finlandia dilakukan dan bagaimana hal tersebut berdampak kepada para siswa dan guru.
Hal pertama yang dibahas dalam buku ini adalah mengenai kesejahteraan, tentu konteksnya bukan mengenai pendapatan guru atau hal yang berbau ekonomi. Kesejahteraan yang dimaksud adalah pemenuhan kebutuhan psikis atau emosional guru dan siswa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
Beberapa hal tersebut seperti penjadwalan waktu istirahat yang cukup sering, belajar sambil bergerak, menyederhanakan ruang, menghirup udara segar, hingga belajar di alam. Dari membaca buku tersebut saya mendapatkan insight bahwa perubahan dalam pendidikan dapat dimulai dari hal yang kecil. Pemenuhan kebutuhan psikis atau emosional tersebut akan menjadikan guru dan siswa menikmati kegiatan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran terasa menyenangkan.
Bagian selanjutnya adalah mengenai rasa dimiliki, membangun kedekatan antara guru dan siswa. Beberapa hal yang dilakukan guru-guru Finlandia untuk mewujudkan hal tersebut seperti dengan mengenal setiap siswa, bermain bersama mereka, merayakan proses pembelajaran yang dilakukan bersama, dan tentu saja menghilangkan perundungan dari lingkungan sekolah.
Sebagai seorang guru saya sangat memahami hal ini, bahwa hal pertama yang membuat siswa nyaman untuk belajar di sekolah adalah guru. Guru yang dekat dengan siswa dan membangun interaksi yang positif akan membuat siswa nyaman untuk belajar. Efek selanjutnya adalah siswa mulai menyenangi mata pelajaran yang dipelajarinya, suasana belajar menjadi menyenangkan, dan hasil akhirnya adalah hasil belajar yang meningkat.
Salah satu hal yang juga dibahas di buku ini adalah bagaimana para guru di Finlandia menanamkan kemandirian pada diri siswa. Proses menanamkan kemandirian itu dimulai dengan memberikan kebebasan pada siswa yang diikuti dengan batasan-batasannya. Guru juga memberikan pilihan kepada siswa mengenai hal-hal yang akan mereka lakukan. Guru-guru di Finlandia menyadari bahwa salah satu tugas utama guru adalah menjembatani antara minat siswa dengan kurikulum yang ada. Untuk menemukan titik temu tersebut, hal pertama yang harus dilakukan guru adalah mengenali minat dan bakat siswa. Pemahaman mengenai minat dan bakat siswa tersebut dapat digunakan guru untuk memberikan beberapa pilihan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan siswa.
Salah satu contoh memberikan pilihan kepada siswa adalah ketika penulis memberikan tugas terbuka kepada siswanya, seperti siswa diberikan kebebasan untuk memilih sendiri buku yang mereka minati dan menyajikan apa yang mereka pelajari dari buku tersebut melalui poster, slideshow, atau website.
Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana ekosistem kolaborasi terbangun begitu baik di negara tersebut, tidak hanya kolaborasi antar guru dalam satu sekolah, namun juga kolaborasi guru antar sekolah.
Di dalam buku tersebut saya menangkap kesan bahwa kesadaran untuk saling berbagi dan membantu antar guru sudah menjadi hal yang lumrah, sebuah hal yang biasa. Pemerintah Finlandia memiliki kebijakan untuk menyamakan mutu pendidikan di semua sekolah mereka, dan kemauan kolaborasi antar guru secara tidak langsung menunjukkan komitmen mereka untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu di Finlandia.
Buku ini layak dibaca bagi semua orang yang memiliki perhatian dalam dunia pendidikan, terkhusus guru. Meningkatkan mutu pendidikan tidak harus dimulai dari lahirnya kebijakan atau kurikulum baru, namun dapat dilakukan dengan melakukan perubahan-perubahan kecil di lingkungan sekolah. Perubahan kecil tersebut akan berdampak langsung pada guru dan siswa.
Membaca buku ini tidak berarti bahwa dengan menerapkan segala apa yang dilakukan sekolah Finlandia di Indonesia akan menjadi jalan keluar bagi permasalahan pendidikan di Indonesia. Semangat dan insight dari buku ini dapat diterapkan di lingkungan sekolah kita, tentu dengan menyesuaikan dengan karakteristik dan budaya Indonesia.
x

Tidak ada komentar:
Posting Komentar