Selasa, 29 September 2026

Resensi Ringkas: Teladan Saudagar Cilik & The Baker Boy’s Wish Box


Dua buku telah saya habiskan hari ini, Teladan Saudagar Cilik dan The Baker Boy’s Wish Box. Keduanya bukan milik saya, buku pertama saya pinjam dari perpustakaan sekolah, dan buku kedua dari Perpusnas melalui aplikasi Ipusnas.

Keduanya merupakan buku fiksi, dengan alur cerita yang ringan, dan sepertinya memang ditujukan untuk pembaca usia anak hingga remaja. Bagi saya, membaca buku ini merupakan cara saya berlatih untuk menulis fiksi, kelak.

Buku pertama, Teladan Saudagar Cilik. Saya tidak tahu persis apa jenis buku ini, dibilang cerpen tapi cukup panjang, dibilang novel tapi kepanjangan. Saya akan menyebutnya buku cerita saja.

Cerita dalam buku ini berkisah mengenai dua orang anak yang bersahabat, Reno dan Iqbal, keduanya berasal dari keluarga menengah bawah. Karena himpitan ekonomi, keduanya ingin membantu orang tua mereka dengan cara berjualan telur asin.

Cerita dimulai dengan keinginan kedua anak tersebut untuk berjualan telur asin, hal ini karena keluarga Iqbal beternak bebek. Keduanya hanya mempunyai keinginan, namun tidak memiliki pengetahuan tentang membuat telur asin. Akhirnya, kedua anak tersebut menemui Pak Dani, guru mereka yang dahulu pernah memiliki usaha membuat telur asin.

Pak Dani akhirnya mengajari keluarga Reno dan Iqbal membuat telur asin, singkat cerita kedua anak tersebut berjualan telur asin, baik dengan cara di jual langsung atau dititipkan di warung. Ada satu adegan dimana salah satu anak tersebut menemukan dompet di jalan, dan pada akhirnya mengembalikan kepada si pemilik.

Pesan dalam buku ini cukup jelas, sikap pantang menyerah, kerjasama, dan kejujuran. Secara alur cerita, buku ini menggunakan alur cerita maju, cukup ringan untuk dibaca. Bagi yang ingin berlatih membiasakan diri membaca, buku ini bisa jadi pilihan untuk jadi buku pertama yang dibaca. Ilustrasi dalam buku ini cukup menarik, dan yang terpenting ceritanya ringan.

Buku kedua adalah buku digital yang saya pinjam di Ipusnas, aplikasi peminjaman buku secara digital milik Perpusnas. The Baker Boy’s Wish Box adalah karya terjemahan dari bahasa inggris. 

Buku ini bercerita seorang pemuda piatu yang bekerja sebagai pembuat roti, membantu ayahnya yang juga seorang pembuat roti. Salah satu tugasnya adalah mengantarkan roti-roti tersebut ke berbagai pelanggannya, termasuk ke istana.

Dia jatuh cinta dengan putri raja, dan gayung pun bersambut, putri raja juga mencintainya. Diceritakan akhirnya keduanya menjalin kisah asmara, namun sayang kisah itu harus kandas, karena putri raja dijodohkan dengan seorang pangeran dari kerajaan lain.

Ayah si pemuda pembuat roti tersebut memberikan sebuah wish box atau kotak harapan. Sang ayah menjelaskan bahwa kotak tersebut adalah warisan keluarga turun temurun. Kotak tersebut bisa mewujudkan satu permintaan, setelah permintaan tersebut diajukan, maka kotak itu akan berubah menjadi kotak biasa.

Sang pemuda pun berfikir berulang-ulang, apakah akan menggunakan kotak tersebut atau tidak. Dia berpikir, jika dia mengajukan sebuah permintaan maka generasi selanjutnya tidak bisa menggunakan kotak tersebut.

Dia ingin sekali menggunakan kotak tersebut untuk membuat sebuah permintaan agar bisa berjodoh dengan sang putri raja. Namun disaat yang sama, sang raja tiba-tiba jatuh sakit, konon sang raja telah diracun.

Seluruh rakyat bersedih, sang raja tersebut merupakan raja kesayangan rakyatnya, karena raja tersebut merupakan raja yang adil dan peduli pada rakyatnya. Sang pemuda pada akhirnya menggunakan kotak harapan tersebut untuk kesembuhan sang raja, dan mengubur impiannya untuk berjodoh dengan sang putri.

Akhirnya, sang raja pun kembali sehat. Ternyata pelaku yang meracuni raja adalah sang pangeran yang dijodohkan dengan putrinya. Pangeran tersebut ingin menikahi sang putri dan membunuh sang raja, tujuannya adalah menguasai kerajaan. Pangeran tersebut akhirnya dimasukkan penjara dan pertunangannya dengan sang putri dibatalkan.

Akhir cerita, kisah cinta si pemuda pembuat roti dan sang putri terjalin lagi, dan kali ini mereka berjodoh untuk selamanya.

Buku dongeng ini cukup ringan dibaca, dan bisa juga digunakan untuk melatih kemampuan membaca teks bahasa inggris, karena teks tulisan ditulis dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

Walaupun saya tidak sepakat dengan konsep kotak harapan, karena bertentangan dengan agama, saya cukup mengapresiasi buku ini karena mempunyai premis dan ilustrasi yang menarik. Selain itu, peminjaman buku ini tidak dipungut biaya, gratis.

Itulah dua buku yang sudah saya baca. Semua ini adalah bagian dari program untuk membiasakan diri membaca, dan sepertinya sudah mulai ketagihan. Next, saya akan menuliskan lagi buku apa yang saya baca. Saya akan mencoba untuk tidak memilih-milih buku, semua buku akan saya coba lahap habis.

Kamis, 24 September 2026

Antara Rem dan Gas di Ruang Kelas VII


Dua hari ini saya memutar otak untuk mencari ide tulisan, tak satupun yang benar-benar jadi ide yang matang. Mungkin karena sudah dua bulan ini saya tidak menulis, otot-otot menulis saya rasanya sudah lemas, perlu usaha ekstra keras untuk menguatkan lagi otot-otot tersebut.

Akhirnya, malam ini saya paksakan untuk menulis, entah bagaimana jadinya. Satu hal yang ada di kepala adalah pengalaman mengajar kelas tujuh selama dua hari ini. Saya mengajar kelas VII-A dan VII-B. Dan keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Kelas VII-A cenderung aktif, atau bahkan terlalu aktif. Tak jarang saya harus bolak-balik mengingatkan para siswa ini untuk tenang dan berkonsentrasi ke materi pelajaran. Ada celah sedikit saja, kelas akan menjadi gaduh, tanpa perlu waktu yang lama.

Sebaliknya, kelas VII-B berbeda, para siswanya cenderung pasif. Bahkan jika saya melemparkan pertanyaan ketika pelajaran, tak satupun yang berinisiatif menjawab. Saya minta mereka untuk mengangkat tangan, tak satupun tangan yang terangkat. Entah apa yang ada di benak mereka.

Fenomena ini cukup menarik perhatian saya, mengapa anak-anak ini takut untuk sekedar mengangkat tangan. Saya sudah menyampaikan, pendapat apapun boleh, jangan takut salah, menjawab pertanyaan salah juga tidak menjadi masalah. Namun mereka tetap diam. Dan akhirnya saya yang mengalah, lanjut ceramah.

Saya tidak tahu apa yang melatar belakangi ini semua, apakah kebiasaan ini telah tumbuh sejak mereka di sekolah dasar? Ada yang salah.

Asumsi saya mereka hanya takut salah menjawab, malu untuk menjawab, atau bahkan tidak terbiasa untuk berinisiatif menjawab. Apakah semasa di sekolah dasar mereka tidak mendapatkan ruang untuk berinisiatif? 

Bisa jadi budaya dalam sistem pendidikan kita yang masih terperangkap dalam romantisme pendidikan era kolonial atau orde baru. Guru adalah subjek, siswa adalah objek. Guru pasti benar dan harus didengar, siswa cukup diam dan tidak boleh membantah.

Bukankah sekarang sudah berganti zaman, ini adalah zaman konstruktivisme, pembelajaran aktif. Ataukah para guru yang dihasilkan oleh pola pendidikan masa lalu–orde baru–masih menganggap metode yang mereka terima dulu adalah yang paling efektif? Metode yang mencetak mereka sekarang ini.

Rasanya guru harus mau melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa zaman berubah, manusianya pun berubah. Kita sebagai guru harus menanamkan kepada siswa kepercayaan diri, mau berinisiatif, berani mengemukakan pendapat. Jangan sampai hanya untuk sekedar berbicara, siswa harus berpikir dua kali. Kita harus menghilangkan dari pikiran mereka bahwa perasaan takut salah dalam berpendapat atau menjawab pertanyaan. Bukankah kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Kenapa kelas VII-A berbeda, mungkin karena saya wali kelasnya. Sejak awal saya memang menekankan mereka untuk aktif dan berani mengemukakan pendapat. Saya tidak mengatakan bahwa saya guru yang paling benar, saya hanya melakukan apa yang saya yakini benar, bahwa seorang guru adalah fasilitator pembelajaran, termasuk membimbing siswa untuk aktif dalam pembelajaran.

Dua kelas ini memerlukan treatment yang berbeda, Kelas VII-A perlu diarahkan agar keaktifan yang telah terbangun dapat difokuskan kepada proses pembelajaran, sedangkan VII-B perlu dibangun suasana untuk aktif dalam pembelajaran.  Yang satu agak ngerem, yang satu agak ngegas.

Ya itulah dunia belajar mengajar, karena objeknya manusia, ada saja dinamikanya. Tapi bagi saya ini adalah tantangan, para siswa adalah aset masa depan, tugas kita menyiapkan mereka agar kelak tidak tergilas zaman.

Ya, pendidikan Indonesia masih punya pekerjaan rumah, mulai dari tingkat atas sampai bawah. Dan saya hanyalah seorang guru, maka yang bisa saya usahakan adalah sebatas ruang-ruang kelas. Ruang kelas yang penuh manusia-manusia yang sedang bertumbuh.

Semoga kedua kelas tujuh ini segera mencapai kondisi ideal, siswa yang aktif dan pembelajaran yang menyenangkan, sekaligus bermakna. Gurunya maju, siswanya juga maju. Amin.

Senin, 21 September 2026

Menyikapi Hasil PISA 2025: Optimisme Pendidikan di Tengah Gelombang Masalah


Awal bulan September ini, Indonesia menerima kabar yang menggembirakan dalam dunia pendidikan, skor PISA Indonesia mengalami kenaikan. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), lembaga yang membidani Programme for International Student Assessment (PISA) telah mengeluarkan hasil tahun 2025. Dalam laporan tersebut ranking PISA Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan hasil tahun 2022.

Melansir dari press release Kemendikdasmen, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin menyampaikan bahwa di tengah tren penurunan skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia cenderung stabil, bahkan mengalami kenaikan dalam bidang literasi dan sains.

Skor sains Indonesia tahun 2025 sebesar 389, naik 6 poin dibandingkan hasil tahun 2022. Sedangkan pada bidang literasi, skor indonesia juga naik sebesar 6 poin, dari 359 menjadi 365. Sementara itu, bidang matematika mengalami penurunan skor, dari 366 di tahun 2022 menjadi 364. Namun, secara umum skor keseluruhan yang diraih Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD lainnya.

Ditengah suasana sosial politik yang tidak menentu seperti sekarang ini, hasil PISA yang diperoleh tentunya memberikan sedikit kesejukan bagi bangsa ini. Berbagai problematika yang dihadapi dunia pendidikan sekarang ini, nyatanya tidak serta merta membuat semangat bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan menjadi menurun. Minimal hasil PISA tahun 2025 ini dapat memberikan optimisme akan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih cerah.

Melihat hasil keseluruhan yang masih menempatkan Indonesia di bawah negara anggota OECD yang lain, tentu pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong kualitas pendidikan Indonesia. Kemendikdasmen telah cepat bertindak untuk menindaklanjuti hasil PISA tahun 2025 ini.

Kemendikdasmen telah mengeluarkan empat pilar strategi utama. Pertama, penguatan kompetensi guru. Strategi yang dijalankan adalah pemenuhan kualifikasi akademik bagi guru melalui program profesi guru (PPG), serta penguatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan dalam hal koding dan kecerdasan artifisial.

Kedua, Kemendikdasmen akan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui implementasi pembelajaran mendalam, digitalisasi dalam pembelajaran, serta penguatan literasi-numerasi dan karakter siswa. Ketiga, Kemendikdasmen akan melakukan harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan merujuk pada kompetensi bernalar pada kerangka PISA. Sedangkan keempat, penguatan peran keluarga dalam gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KIH) dan penguatan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.

Empat pilar strategi utama tersebut baru bisa berjalan dengan maksimal jika terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Tanpa itu semua, kebijakan ini hanya akan sekedar menjadi kebijakan di atas kertas saja.

Peningkatan kualitas pendidikan dewasa ini menghadapi banyak tantangan. Kenyataan di lapangan masih banyak dijumpai berbagai masalah yang dari dulu belum terselesaikan. Mulai dari kualitas sekolah yang belum setara, saran dan prasarana pendidikan yang belum memadai, kesejahteraan guru yang belum tercukupi, dan kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat dalam pendidikan juga belum terbangun merata.

Tentu kita tidak boleh pesimis dengan semua kenyataan ini, namun kita juga harus realistis. Bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkadang tidak berjalan dengan baik. Kebijakan-kebijakan yang memang memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terkadang kalah dengan kebijakan yang populis dan politis.

Mari kita lihat beberapa tahun mendatang, apakah empat pilar strategi utama ini dapat menghasilkan peningkatan skor PISA, atau malah tidak berjalan dan tidak memberikan dampak apa-apa. Mari kita tunggu.

Dari SISKO 2006 hingga Masa Bergolak

Beberapa hari ini saya mencoba untuk membaca dua buah buku, fiksi dan non fiksi. Untuk buku non fiksi yang lupa apa judulnya, karena buku it...