Beberapa hari ini saya mencoba untuk membaca dua buah buku, fiksi dan non fiksi. Untuk buku non fiksi yang lupa apa judulnya, karena buku itu saya berada di sekolah, tapi berhubungan dengan kata “SISKO 2026”. Setelah saya menelusuri di internet, ternyata kata sisko merupakan akronim standar isi dan kompetensi dasar, ya buku tersebut berkaitan dengan kurikulum 2026 atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Sedangkan untuk buku fiksi, saya sedang dalam proses membaca sebuah novel lama terbitan balai pustaka yang berjudul Masa Bergolak karya M. A. Salmun. Sebuah novel yang bercerita tentang seorang pemuda yang juga menjadi tentara Republik Indonesia, dengan latar waktu sekitar tahun 1946. Masa ketika Belanda kembali ke Indonesia dengan perantara NICA.
Kedua buku tersebut saya peroleh dari perpustakaan sekolah tempat saya mengajar. Karena belum bisa membeli buku baru, maka saya harus memanfaatkan apa yang ada. Walaupun kedua buku tersebut bukan merupakan buku “selera” saya, tapi terkadang kita harus memaksa diri untuk membaca berbagai buku. Selama itu baik, maka tidak masalah. Dan juga untuk melatih diri saya agar tidak terlalu pilih-pilih. Ibarat musisi yang baik, semua genre musik di dengarkan.
Dari buku SISKO 2006, saya belajar kembali mengenai kurikulum KTSP. Walaupun kurikulum tersebut sudah lama tidak digunakan, namun isinya masih tetap relevan. Terutama bagaimana memahami Standar Isi dan Kompetensi Dasar –yang sekarang berubah istilah menjadi Capaian Pembelajaran– dan bagaimana menjabarkannya ke dalam proses belajar mengajar.
Saya belajar kembali hubungan Standar Isi dan Kompetensi Dasar, bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran, merumuskan indikator, memahami bagaimana membuat materi pelajaran, dan melakukan asesmen –bagian ini belum saya baca.
Setidaknya apa yang saya peroleh dari buku SISKO 2006 dapat dipakai di kurikulum sekarang, Kurikulum Merdeka. Kurikulum adalah produk politik, selalu berubah tiap ada perubahan kekuasaan. Sebagai guru saya tidak kaget, nama boleh berubah, namun esensinya akan tetap sama saja.
Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa masa kerja sebagai guru yang terbilang lama ini tidak berbanding lurus dengan pengetahuan yang saya punya. Ternyata rutinitas sebagai guru terkadang membuat kita terlena seakan-akan kita sudah menguasai segala hal terkait pembelajaran dan pendidikan. Namun ada satu yang tidak kita sadari, dibalik kepuasan “semu” itu ada masa yang dinamis yang berubah dengan cepat, dan kita harus menerima kenyataan semua tidak lagi sama seperti dulu.
Ilmu kependidikan yang memberikan dampak, sekarang bisa saja sudah tidak relevan. Zaman berubah, tantangan berubah, siswa berubah, dan terkadang gurunya yang terlambat berubah.
Bagi saya seorang guru harus senantiasa merasa bodoh, dan harus mau mempelajari hal baru. Ketika kita sudah merasa memahami semua, disitulah kebodohan sejati tengah terbangun.
Memaksa diri untuk membaca, memang saya paksakan. Supaya saya sadar akan ketertinggalan saya, mencari insight baru, dan tentu saja berharap berbanding lurus dengan kemampuan menulis saya.
Oh ya, sampai detik ini rencana untuk membuat sebuah karya fiksi –entah novel atau cerpen– belum terlaksana. Selalu mentok di ide, tidak tahu harus menulis apa dan mulai darimana. Mungkin saya kurang baca, dan sepertinya iya.
Mengenai buku kedua, Masa Bergolak. Saat pertama melihat sampulnya, jujur saya kurang tertarik. Apalagi terbitan Balai Pustaka, pasti ini novel lama dengan gaya bahasa penulisan lama, yang menurut saya berat. Masih kental aroma melayu-nya.
Tapi pengalaman saya membaca novel Salah Asuhan karya Marah Rusli, tidak akan saya lupakan. Pesimis di awal, tapi puas pada akhirnya. Cerita mengenai Siti Nurbaya yang sering kita dengar secara sepintas, ternyata dalam novelnya lebih dalam dan lebih menarik. Walaupun dengan bahasa yang terbilang berat untuk saya, namun secara umum, benar kata orang bahwa novel ini salah satu yang terbaik.
Hal yang sama juga terjadi pada novel Masa Bergolak ini. Bercerita mengenai pemuda bernama Mulyadi, seorang tentara Republik Indonesia yang harus ikut bertempur mempertahankan kemerdekaan. Novel ini memberikan gambaran kepada saya bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia di masa awal kemerdekaan. Setidaknya saya bisa membayangkan bagaimana suasananya, ada persepsi saya mengenai kondisi di masa kemerdekaan, sekarang lebih terbuka.
Dalam novel tersebut terlihat bagaimana perjuangan pejuang kita mempertahankan kemerdekaan, tidak hanya melawan belanda dan sekutunya, namun juga melawan anak bangsa sendiri yang menjadi penghianat.
Salah satu hal menarik yang saya peroleh dari novel tersebut adalah tentara inggris yang datang ke Indonesia kala itu, tidak semuanya orang inggris tulen. Ternyata ada juga tentara dari india, yang merupakan koloni inggris –menurut saya. Secara posisi tentara India tersebut adalah tentara kolonial, namun di lubuk hati mereka sebenarnya mereka tidak ingin berperang, dan malah mendukung kemerdekaan Indonesia.
Tapi karena ini adalah novel roman, tentu ada bumbu percintaan didalamnya. Kisah cinta si Mulyadi dengan seorang perempuan yang juga pejuang. Walaupun hanya sekilas-sekilas, para pejuang tetaplah manusia yang juga punya rasa cinta. Cukup menarik melihat bagaimana kisah asmara bisa terjadi di tengah medan perang.
Dan saya menuliskan kesan saya dari kedua buku di tulisan ini, tulisan yang saya tulis hampir setengah jam, dengan jumlah kata lebih dari lima ratus, melebihi target saya.
Minimal saya sudah mulai menulis, walaupun target karya fiksi saya belum terwujud. Semoga saya bisa konsisten dalam menulis kedepannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar