Minggu, 22 Desember 2024

Mengapa saya memilih menulis Blog


Tulisan ini saya buat untuk merefleksikan sesuatu yang sedang saya kerjakan sekarang, yaitu menulis. Dari semua platform media sosial yang ada, saya memilih blog sebagai media untuk berekspresi. Apakah blog termasuk media sosial? entahlah, tapi memang media ini yang sepertinya nyaman untuk saya.

Sebelum kepada pertanyaan kenapa saya menulis blog, saya akan memulai mengapa saya menulis. Saya memilih menulis karena beberapa alasan, beberapa diantaranya bersifat personal.

Menulis merupakan sebuah keahlian yang sangat penting, terutama jika anda berkecimpung dalam dunia akademik. Menulis merupakan sebuah usaha untuk menyampaikan gagasan atau pemikiran yang ada di kepala kita. Memang ada banyak cara untuk menyampaikan gagasan atau ide dalam kepala kita, salah satunya adalah berbicara.

Menulis dan berbicara pada hakikatnya adalah yang sama, yang membedakan adalah bentuk keluarannya. Namun menulis dan bicara juga memiliki perbedaan. Bagi kebanyakan orang, bicara adalah hal yang mudah, tinggal mengatakan saja apa yang ada dalam pikiran kita, semudah itu.

Namun dengan keterbatasan kemampuan literasi kita, ketidakmampuan untuk menganalisis pemikiran, maka yang keluar dari pembicaraan adalah apa yang di dalam otak kita. Terkadang hal tersebut masih mentah dan tidak tersusun rapi. Apalagi jika ditambah kemampuan berbicara masih rendah, rawan mengakibatkan kesalahan persepsi pada lawan bicara kita.

Menulis menuntut proses yang lebih. Ketika akan kita menuangkan ide atau pemikiran kita dalam sebuah tulisan, akan melalui berbagai tahapan. Hal yang pertama adalah memahami dengan benar terlebih dahulu atas ide yang akan kita tuliskan. Setelah itu kita harus memecahnya menjadi bagian-bagian yang menjadi ide pokok tulisan.

Selain itu, kita harus memikirkan kerangka berfikir yang kita gunakan. Hal ini bertujuan agas pembaca mendapatkan pemahaman yang sama dengan apa yang kita harapkan. Penggunaan kosa kata yang kaya juga akan menambah kualitas tulisan, begitu juga dengan gaya penulisan yang digunakan. 

Setelah tulisan jadi, maka sebelum kita berikan kepada pembaca, perlu ada peninjauan apakah tulisan tersebut sudah layak untuk disebarluaskan. Pengecekan kesalahan penulisan merupakan bagian akhir dalam proses penulisan. Intinya proses menulis lebih memakan waktu dan tenaga dibandingkan dengan bicara. Karena tulisan mewakili apa yang kita pikirkan.

Jadi mengapa saya menulis? karena saya merasa kemampuan ini akan menunjang kualitas saya, terutama dalam bidang pekerjaan saya sebagai seorang guru. Saya merasa harus bisa menyajikan ide atau pemikiran saya secara utuh, rinci, dapat dipahami, dan tidak mengakibatkan banyak multi tafsir.

Kemampuan menulis akan meningkatkan kualitas saya sebagai seorang guru. Sebagai seorang guru, saya dituntut untuk dapat menulis berbagai dokumen yang diperlukan dalam pembelajaran, menulis bahan ajar, menulis artikel atau karya tulis, atau berbagai hal lain yang berhubungan dengan akademik.

Terus mengapa saya memilih blog? karena saya ingin menulis, ingin belajar menulis, dan menuangkan tulisan saya supaya dapat dibaca oleh pembaca. Blog merupakan tempat saya berlatih menulis, menuangkan pemikiran saya, memaksa otak saya untuk kritis, dan terlebih lagi saya kurang menyukai membuat konten berbasis audio atau video.

Saya menyadari bahwa blog merupakan platform yang tidak populer, jika dibandingkan dengan youtube, tiktok, atau instagram. Namun pada akhirnya, saya akan menggunakan platform yang memang cocok dan nyaman untuk saya. Sedikitnya pembaca tidak menjadi soal untuk saya, karena bagi saya yang terpenting adalah menuangkan pemikiran saya dalam sebuah tulisan, dan semakin mengasah kemampuan saya dalam dunia kepenulisan.

Menulis dan membaca seperti sepasang sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semakin banyak referensi yang kita baca, maka semakin baik pula tulisan yang kita hasilkan.

Sabtu, 21 Desember 2024

Update Project P5: Akhirnya selesai dan sukses

Akhirnya Kamis kemarin (19/12/2024) Project P5 yang bertmakan Rekayasa dan Teknologi selesai, dan sukses. Dalam kegiatan ini siswa kelas IX bergotong royong untuk membuat sebuah lampu taman dengan mengintegrasikan LDR (Light Depending Resistor) atau saklar fotoelektrik.

Tentu anda semua agak heran dengan project lampu taman tapi pada gambar di atas terlihat terpasang di depan kelas. Ya memang sebenarnya yang direncanakan dari awal adalah sebuah lampu taman yang dipasang di taman, namun karena terkendala dalam pemasang lampu di taman sekolah, maka area pemasangan ditempatkan di teras kelas IX. Terkadang rencana memang tidak berjalan sesuai yang direncanakan, selalu ada tantangan. Namun selalu ada solusi untuk setiap tantangan.

Kegiatan P5 ini dilaksanakan sejak pagi, masih dalam suasana menjelang pembagian buku rapor. Pada hari tersebut hampir semua rancangan lampu taman yang dibuat oleh siswa masuk dalam tahap akhir. Dalam kegiatan terebut setiap siswa bekerja sama, ada yang meneruskan menghias lampu, ada yang memasang lampu pada dinding, dan yang terakhir adalah penyelesaian instalasi jaringan listrik.

Tampak antusias siswa dalam kegiatan pada hari itu, ada yang sibuk mempercantik lampu yang dibuatnya, ada yang asyik membor dinding, ada juga yang menata jaringan kabel. Semua siswa bekerja saling bahu membahu agar apa yang sudah direncanakan dalam project ini dapat selesai sesuai harapan.

Singkatnya, semua lampu sudah terpasang di dinding kelas, jaringan perkabelan juga sudah selesai, dan akhirnya akan dilakukan tes untuk mengetahui apakah lampu bekerja sesuai yang direncanakan.

Dalam tes tersebut kami mencoba menutup saklar fotoelektrik, supaya tidak terkena cahaya matahari, dan beberapa saat kemudian semua lampu menyala. Kemudian kami membuka penutup pada saklar fotoelektrik, dan beberapa saat kemudian lampu menjadi mati. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa rangkaian listrik bekerja sesuai yang diharapkan.

Setelah pemasangan lampu selesai, siswa beristirahat beberapa saat. Saat istirahat tersebut beberapa ada yang membeli makanan di kantin sekolah, dan beberapa lainnya bermain bola di lapangan. Sepertinya mereka tidak merasakan lelah atau capek.

Setelah istirahat dilanjutkan dengan kegiatan refleksi mengenai project P5 ini. Kegitan refleksi ini dipandu oleh rekan saya, ibu Dian Feriana Rahmi, seorang guru bahasa inggris yang serba bisa. Dalam sesi refleksi tersebut siswa menyampaikan bagaimana perasaan mereka selama menjalankan project ini, sekaligus mengetahui berbagai pelajaran atau hal positif yang dirasakan siswa dalam project ini.

Dalam kegiatan refleksi tersebut, siswa menuliskan apa yang dirasakannya pada sticky note, kemudian ditempel di depan kelas. Secara umum siswa senang dengan kegiatan P5 ini, banyak alasan dan juga pelajaran yang mereka sampaikan dalam kegiatan ini. Ada yang mengutarakan bahwa kegiatan ini mempererat kerjasama kelompok, memberikan mereka pengalaman baru bagaimana membuat rangkaian listrik, dan mereka juga bercita-cita untuk membuat hal serupa di rumah.

Ya, banyak manfaat yang saya lihat bagi siswa dalam kegiatan ini. Mereka belajar bekerja sama dalam kelompok, belajar melakukan perencanaan suatu kegiatan, belajar membagi tugas dalam kelompok, dan belajar untuk berani mencoba hal-hal baru. Para siswi juga menikmati proses kegiatan ini, dimana kabel, lampu, dan membuat rangkaian listrik merupakan hal baru untuk mereka.

Tentu untuk mengetahui bagaimana nyala lampu buatan mereka ini secara nyata, adalah pada sore hari. Saya yakin mereka membayangkan bagaimana ketika suasana mulai sore dan lampu mereka tiba-tiba menyala, adalah hal yang mereka tunggu.

Salah seorang siswa yang rumahnya berada dekat sekolah, akhirnya melihat bagaimana kondisi lampu mereka pada malam hari. Lampu yang mereka buat menyala terang, dan memperindah suasana teras kelas mereka. Siswa tersebut merekam video bagaimana suasana lampu menyala pada sore hari.

Akhirnya project P5 ini selesai dan sesuai harapan. Yang terpenting siswa merasa senang dan menikmati keseluruhan kegiatan. Mereka mendapatkan pengalaman baru dan profil pelajar pancasila sedikit banyak tertanam dalam diri mereka. Saya berharap kreativitas mereka semakin tumbuh, dan suasana positif terbangun pada diri siswa.

Sekali lagi selamat untuk siswa kelas IX, kalian semua hebat.








Reportase:

Kamis, 19 Desember 2024

Selamat, Skuat ESPAGA Lolos Seleksi Pelajar Penggerak Merah Putih


Rabu (18/12/2024) menjelang maghrib, saya mendapatkan kabar dari salah satu siswa mengenai hasil seleksi Pelajar Penggerak Merah Putih. Hari tersebut merupakan waktu pengumuman hasil seleksi, setelah memantau dari pagi hingga siang, akhrinya menjelang mahgrib hasil seleksi sudah keluar.

Hasilnya, skuat ESPAGA (SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan) dinyatakan lolos seleksi tersebut. Skuat ESPAGA yang dipilih dan mendaftar dalam kegiatan tersebut berjumlah lima orang siswa, dan semuanya lolos seleksi. Kelima siswa terebut terdiri dari dua orang siswa kelas VII, satu orang siswa kelas VIII, dan dua orang siswa kelas IX.

Setelah dinyatakan lolos seleksi, mereka tergabung dalam grup whatsapp baru yang akan memberikan informasi selanjutnya. Agenda terdekat mereka adalah kegiatan breafing dan pembekalan yang akan dilakukan di akhir minggu ini. Minggu depan, mereka sudah mulai mengikuti kegiatan pembelajarannya. 

Saya ucapkan selamat, dan semoga kegiatan ini memberikan pengalaman baru untuk para siswa tersebut dan nantinya dapat memberikan dampak positf bagi semua siswa ESPAGA. Oh ya, informasi mengenai siapa saja yang lolos dalam seleksi Pelajar Penggerak Merah Putih Angkatan 2, dapat dilihat disini.

Informasi mengenai kegiatan ini awalnya saya terima dari kepala sekolah, kemudian saya melakukan tindak lanjut dari kegiatan tersebut. Mengutip dari laman instagram merdekapelajar_ri dan pelajarpenggerak, kegiatan ini merupakan suatu kanal gerakan pelajar untuk meningkatkan skill dan berjejaring dengan pelajar se Indonesia dalam menghadapi tantangan era saat ini dan yang akan datang, dengan saling memotivasi dan menjadi garda terdepan dalam mendapatkan informasi seputar program penguatan karakter pelajar dan program prestasi serta informasi Beasiswa/Bantuan Biaya Pendidikan tingkat sekolah menengah hingga Pendidikan Tinggi.

Masih merujuk pada laman tersebut, jadwal pendaftaran telah dimulai dari tanggal 1 - 14 Desember 2024. Tanggal 15 - 17 Desember 2024 adalah proses seleksi, dan tanggal 18 Desember 2024 merupakan hari pengumuman peserta yang lolos seleksi. Pertemuan pertama dan Pelatihan Pelajar Penggerak akan dilaksanakan secara daring pada tanggal 22 Desember 2024.

Beberapa keuntungan yang didapat dengan mengikuti kegiatan tersebut adalah siswa akan menerima materi seputar panguatan karakter, Beasiswa, Program Prestasi Nasional, Bijak bermedia sosial, dan materi menarik lainnya. Selain itu siswa akan berjejaring dengan pelajar se Indonesia, Lebih terdepan dalam mengetahui program seputar pendidikan untuk siswa, dan tentu saja mendapatkan sertifikat tingkat nasional.

Dengan melihat berbagai hal yang ditawarkan di atas, saya memandang siswa akan mendapatkan keuntungan dengan mengikuti kegiatan ini, terutama dalam hal pengalaman baru dan wawasan baru. Selain itu juga diharapkan siswa akan menjadi termotivasi menjadi semakin maju dan lebih baik, dan mampu menularkan kepada siswa yang lain.

Sebagai pembimbing sekarang tugas saya adalah memberikan arahan dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran mereka dalam kegiatan Pelajar Penggerak ini. Mulai dari belajar melakukan video confrence, etika dalam pembelajaran daring, dan memberikan masukan dalam berbagai aspek teknis yang lain.

Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada semua siswa yang lolos. Hal ini adalah permulaan dari sebuah pengalaman baru, dan nikmati keseluruhan perjalanan dalam pembelajaran ini. Semoga kalian dapat menempuh kegiatan ini dengan sukses. Sekali lagi selamat.



Selasa, 17 Desember 2024

Update Projet P5: Sudah hampir selesai, tinggal sedikit lagi

Masih melanjutkan tulisan mengenai kegiata P5 dengan tema Rekayasa dan Teknologi yang dilakukan siswa kelas IX SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan, hari ini sudah mengalami kemajuan. Jika dipersentasekan maka kemajuan kegiatan per hari ini sudah mencapai sekitar 75%.

Hari ini masih melanjutkan agenda sebelumnya, yaitu merealisasikan rancangan lampu taman. Rancangan lampu taman masing-masing kelompok sudah hampir jadi, tinggal beberapa pekerjaan kecil, seperti memberi warna dan mempercantik dekorasi.

Semua kelompok juga sudah memasang instalasi listrik pada lampu, yaitu menyambungkan kabel ke fitting lampu, beberapa kelompok juga sudah mencoba lampu mereka, dan hasilnya menyala. Semua kelompok sudah menyambungkan pipa yang menjadi rangka lampu ke papan kayu. Papan kayu tersebut nantinya akan dipaku ke tembok yang akan ditempati lampu tersebut.

Kegiatan hari ini dimulai agak siang, karena sama seperti hari kemarin, waktu pagi digunakan para siswa untuk melaksanakan kegiatan classmeeting. Dari pengamatan saya, hampir semua siswa dapat bekerja sama dalam kelompok, bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing, sehingga dapat dikatakan kegiatan hari ini berjalan lancar, nyaris tanpa ada kendala.

Bukannya tidak ada kendala, kendala pasti ada, namun semua punya solusinya. Salah satu kendala hari ini adalah siswa belum bisa melakukan pengecatan lampu, karena belum adanya tiner atau bensin sebagai bahan pencampur cat. Selain itu belum adanya super glue atau biasa dikenal dengan lem alteco untuk memperkuat sambungan pada lampu.

Diharapkan semuanya dapat diselesaikan dalam dua hari kedepan. Salah satu pekerjaan yang juga harus saya lakukan secara langsung adalah, membuat instalasi listrik. Karena berhubungan dengan listrik, saya akan turun tangan langsung. Nanti dalam pemasangan instalasi listrik, siswa dapat membantu.

Agar kegiatan ini dapat berjalan sukses, harus ada kerjasama dari semua pihak. Semua harus bertanggung jawab sesuai tugas dan peran yang diembannya. Gotong royong, kerja sama, dan kemandirian yang merupakan profil pelajar pancasila yang hendak ditumbuhkan akan diuji selama kegiatan ini.

Hasil akhir dari kegiatan ini adalah lampu taman. Ini bukan tentang lampu taman yang bagus atau estetik, tapi tentang bagaimana siswa dapat mewujudkan kreatifitas mereka, mampu bekerja sama, dan khusus untuk mata pelajaran IPA, adalah memberikan pengalaman nyata bagaimana implementasi konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

Saya menargetkan kegiatan ini akan selesai pada dua hari kedepan. Mengingat kegiatan ini juga berbarengan dengan kegiatan lain seperti classmeeteing, persiapan buku rapor dan beberapa agenda lain. Namun saya yakin semuanya dapat berjalan berbarengan dan maksimal, memang diperlukan kemampuan untuk mengatur kegiatan agar semuanya berjalan.

Dalam tulisan kali ini akan saya sertakan dokumentasi foto kegiatan hari ini. Sekali lagi, ini bukan tentang seberapa bagus atau estetik produk yang dihasilkan, tapi ini adalah bagaimana memberikan pengalaman belajar lain bagi siswa. Diharapkan semua ini akan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekolah secara umum, dan siswa pada khususnya.






Senin, 16 Desember 2024

Udate Project P5: Mulai merealisasikan desain lampu taman


Kali ini saya akan melanjutkan tulisan mengenai jalannya project P5 membuat lampu taman dengan memanfaatkan LDR (light depending resistor) atau saklar fotoelektrik. Sebagai gambaran, bahwa project P5 kali ini mengambil tema Rekayasa dan Teknologi. Pelaksana project ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan.

Sesuai kesepakatan, agenda hari ini adalah merealisasikan desain lampu taman yang telah dibuat kemarin. Siswa kelas IX dibagi terbagi menjadi empat kelompok, dan masing-masing kelompok memiliki desain lampu taman yang berbeda-beda, sesuai dengan kreatifitas mereka.

Bahan yang digunakan untuk membuat lampu taman diusahakan menggunakan barang-barang bekas, hal ini bertujuan untuk efisiensi dan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Alat dan bahan yang digunakan sebagian disediakan oleh sekolah, dan sebagian lagi dibawa oleh siswa.

Pagi ini semua kelompok telah membawa alat dan bahan yang dibutuhkan, mulai stik es krim, lem tembak, toples bekas, pipa, dan berbagai bahan lainnya, dan sebagian besar merupakan bahan bekas yang mudah ditemukan disekitar rumah mereka. Kegiatan membuat lampu taman dimulai sekitar jam sembilan, karena sebelumnya semua siswa mengikuti kegiatan classmeeting, yaitu membuat kaligrafi.

Kegiatan membuat lampu taman dimulai dengan pendahuluan dari fasilitator atau pembimbing project, dalam hal ini saya dan rekan saya. Saya memulai dengan mendemonstrasikan bagaimana rangkaian lampu dengan menggunakan saklar fotoelektrik (LDR). Cara kerjanya cukup sederhana, ketika suasana terang maka saklar fotoelektrik akan memutus arus listrik, sehingga lampu tidak menyala. Dan jika suasana menjadi gelap atau redup, maka saklar fotoelektrik akan menyalurkan arus listrik ke lampu, sehingga lampu menyala.

Dalam sesi demonstrasi ini semua siswa menyimak dan menunjukkan perhatian atau ketertarikan. Ya, mungkin mereka sebelumnya sudah mengetahui apa itu saklar fotoelektrik atau LDR, namun mungkin baru kali ini mereka melihat bagaimana rangkaian listriknya dan praktek nyatanya.

Kegiatan selanjutnya adalah siswa mulai membuat kerangka lampu taman seperti desain yang telah mereka buat, semuanya terlihat bekerja sama dan asyik dengan aktivitas dalam kelompoknya. Ada yang memotong pipa untuk menjadi kerangka lampu, ada yang mulai menghias toples bekas sebagai rumah lampu, ada yang merangkai stik es krim sebagai dekorasi tambahan dalam desain mereka.

Dalam kegiatan tersebut saya dan rekan guru lain, melakukan pengawasan dan pembimbingan. Secara umum kami membiarkan siswa berkreasi dan mencoba hal-hal baru. Jika ada hal yang berhubungan dengan keselamatan, seperti membentuk pipa dengan melakukan pembakaran, kami tentu mengawasi dengan penuh, dan memberikan contoh cara melakukannya.

Hasil hari ini, rancangan lampu taman belum selesai, dan akan dilanjutkan esok hari. Saya melihat keseruan dalam kegiatan hari ini, terlebih ketika mereka mencoba memasukkan lampu ke dalam rumah lampu yang mereka buat, dan melihat lampu menyala dan mati dalam rumah lampu tersebut. Saya yakin mereka akan merevisi hal-hal yang menurut mereka kurang.

Secara pribadi, saya berharap dengan kegiatan ini timbul kreatifitas dan rasa percaya diri dalam diri siswa, dan juga menanamkan nilai-nilai profil pelajar pancasila yang sudah direncanakan. Saya berharap siswa dapat menikmati aktivitas nyata yang ternyata mengasyikkan. Dalam tulisan ini saya akan menyertakan beberapa foto dokumentasi kegiatan hari ini. Selanjutnya, kita lihat saja bagaimana perkembangan esok hari.






Jumat, 13 Desember 2024

Apa yang kita lihat, tergantung dimana kita duduk

 

Sebelum anda meneruskan membaca tulisan ini, apa pendapat anda mengenai gambar di atas? Apa yang anda lihat? Jika yang anda lihat adalah gambar seorang wanita muda, maka saya juga sependapat dengan anda. Gambar di atas merupakan gambar seorang wanita munda, sepertinya cukup cantik, dari kalangan bangsawan eropa, memakai syal berbulu, dan sedang memalingkan wajahnya. 

Sekarang jika saya mengatakan kepada anda bahwa gambar di atas bukanlah gambar seorang wanita muda, melainkan gambar seorang wanita tua, bagaimana pendapat anda? Apakah anda setuju?

Coba perhatikan baik-baik, gambar di atas sebenarnya adalah gambar seorang wanita tua, dengan raut wajah yang murung. Saya perkirakan usianya sekiar tujuh puluh tahun atau lebih. Lalu manakah yang benar, gambar seorang wanita muda atau wanita tua?

Jika anda mengatakan itu adalah gambar wanita muda, anda benar. Jika anda mengatakan itu adalah gambar seorang wanita tua, maka anda juga benar. Terus apakah apakah ada kesalahan dengan gambar tersebut, jika semua jawaban benar?

Tidak ada kesalahan dengan gambar di atas, yang ada adalah perbedaan cara kita memandang. Kita dapat memandang gambar tersebut sebagai gambar seorang wanita muda atau wanita tua, semuanya benar. Gambar ini sebenarnya adalah sebuah ilustrasi, terkadang kita dapat melihat hal yang sama, namun memiliki pandangan yang berbeda.

Cara kita melihat sesuatu adalah paradigma, dan hal seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang kita mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain tentang suatu peristiwa yang sama, semua karena bagaimana cara kita memandang, atau bagaimana paradigma kita.

Hal ini memperlihatkan bawa paradigma kita mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain. Sejelas dan seobjektif apapun yang kita pikirkan dan kita lihat, maka kita akan mulai sadar bahwa orang lain dapat melihat hal yang sama dengan cara yang berbeda dengan sudut pandang mereka. Dan mereka pun merasa bahwa mereka melihat dengan jelas dan objektif.

Kita cenderung untuk berpikir bahwa kita melihat sesuatu sebagaimana adanya, bahwa kita sudah objektif. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, namun kita melihat dunia sebagaimana kita mempersepsikannya.

Jika kita melihat suatu permasalahan, mungkin sebenarnya tidak ada masalah. Cara pandang kita yang membuat seolah-olah memang ada masalah. Sebagai ilustrasi, jika anda ingin menuju suatu tempat di kota Surabaya, kemudian anda memegang peta surabaya, anda akan yakin bahwa anda akan menemukan tempat terebut. Namun bagaimana jika sebenarnya peta yang anda pegang adalah peta kota Semarang, tetapi anda beranggapan itu adalah peta Surabaya, apa yang akan terjadi? Tentu anda tidak akan sampai di tempat yang hendak dituju. "Peta" adalah gambaran dari paradigma kita, Sedangkan "Kota Surabaya" adalah sebuah peristiwa, maka jika kita mencari suatu tempat di Surabaya dengan peta Semarang, maka seperti kita melihat sesuatu dengan paradigma yang salah. 

Saya menuliskan ini setelah membaca beberapa halaman pertama dari buku Stephen R Covey, yang berjudul The 7 Habbits of Highly Effectiv People. Untuk akhir tulisan ini, saya akan menuliskan suatu ilustrasi cerita dari buku tersebut, silahkan anda baca dan pikirkan.

Dua kapal perang yang ditugaskan dalam skuadron latihan sudah berada di laut dan sedang melakukan manuver dalam cuaca buruk selama beberapa hari. Seorang pengintai berada di kapal perang utama dan sedang bertugas di atas anjungan kapal ketika malam tiba. Jarak penglihatan buruk dikarenakan kabut, maka kapten tetap berada di anjungan untuk bersiaga.

Tak lama setelah itu hari menjadi gelap, si pengintai yang sedang bertugas di sayap anjungan melaporkan, "Sinar, pada haluan sebelah kanan."

"Tetap atau bergerak mundur", kapten berseru.

Pengintai menjawab, "Tetap, kapten," yang berarti kapal berada dalam zona tabrakan yang berbahaya dengan kapal tersebut.

Kapten lalu berseru kepada pemberi isyarat, "Beri isyarat kepada kapal itu, kita berada pada arah tabrakan, dan minta dia untuk mengubah arah 20 derajat."

Datang isyarat balasan, "Anda dianjurkan mengubah arah 20 derajat."

Kapten berkata, "Kirim pesan, saya kapten, ubah arah anda sebesar 20 derajat."

Kemudian datang balasan, "Saya kelasi tingkat dua, anda sebaiknya berganti arah sebesar 20 derajat."

Pada saat itu kapten menjadi marah, ia membentak, "Kirim pesan, saya kapal perang. Ubahlah arah anda 20 derajat."

Datang balasan lagi, "Saya mercusuar."

Dan kapten pun mengubah arah kapalnya.


Kamis, 12 Desember 2024

Project P5 kali ini, Lampu Taman Berbasis LDR

Gambar saya bersama rekan sejawat memberikan pendahuluan kepada siswa mengenai Project P5 yang akan dilakukan.

Masa antara Asesmen Sumatif akhir Semester dan penyerahan buku Rapor adalah waktu yang tidak efektif untuk pembelajaran. Dalam rentang waktu ini biasanya akan dilaksanakan berbagai kegiatan, seperti class meeting atau berbagai kegiatan non akademik untuk siswa. Dan kali ini, saya berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk membuat project P5 dengan tema Rekayasa Teknologi.

Tema Rekayasa Teknologi ini kami maknai sebagai usaha memanfaatkan teknologi dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan, mungkin tidak seperti melakukan rekayasa seperti di film Hollywood. Kami melakukan adopsi tema ini sesuai dengan kemampuan atau aset yang dimiliki sekolah, dan tentu saja mempertimbangkan kemampuan siswa dalam melakukan project ini.

Dalam project kali ini, siswa akan merancang dan membuat lampu taman sederhana dengan memanfaatkan LDR (light depending recistor). LDR disini berfungsi sebagai saklar yang akan membuat lampu menjadi hidup atau mati. LDR merupakan sebuah saklar listrik dengan sensor cahaya, dimana jika keadaan lingkungan terang maka LDR akan memutus arus listrik, sehingga lampu tidak menyala. Jika kondisi lingkungan gelap, maka LDR akan membiarkan arus mengalir dan lampu akan menyala.

Gambar saklar LDR Photoelectric yang kemungkinan akan digunakan.

Konsep ini akan dipakai siswa utuk membuat lampu taman yang direncanakan diletakkan di taman sekolah. Lampu taman ini akan mati pada siang hari, dan baru akan menyela pada waktu sore menjelang malam. Secara konsep, hal ini cukup sederhana. Dalam project kali ini siswa akan lebih berkutat pada bagaimana membuat desain lampu taman yang cocok, melakukan kerjasama atau kolaborasi, dan bertanggung jawab pada pekerjaan mereka.

Kegiatan ini direncanakan memakan waktu sekitar satu minggu. Hal pertama yang dilakukan dalam memulai project ini adalah memberikan pengantar atau pendahuluan mengenai gambaran umum kegiatan.

Project P5 ini diperuntukkan untuk siswa kelas IX. Hari ini saya dan rekan sejawat selaku koordinator project memberikan pengantar atau pendahuluan kepada siswa mengenai gambaran project ini. Pada tahapan ini, siswa akan dibagi dalam beberapa kelompok. Tugas pertama yang harus dilakukan siswa adalah berdiskusi dalam kelompoknya untuk membuat desain lampu taman yang akan dibuat, menentukan kebutuhan alat dan bahan, serta menentukan estimasi biaya yang diperlukan.

Poin utama dalam project kali ini adalah siswa mampu berkolaborasi secara kreatif dan mandiri untuk membuat lampu taman, dengan memanfaatkan saklar berbasis LDR. Kerjasama dan kreatifitas siswa akan diuji selama kegiatan ini berlangsung.

Pada pertemuan pertama hari ini, saya melihat siswa cukup antusias. Hal ini terlihat dari respon mereka dan celetukan mereka mengenai lampu taman yang akan mereka buat. Sepertinya ide-ide segar sudah ada di kepala mereka. Besok adalah waktu yang disepakati untuk menyerahkan rancangan desain lampu taman, beserta berbagai kebutuhan yang diperlukan.

Karena dalam kegiatan ini berhubungan dengan listrik, maka secara tidak langsung merupakan imlementasi nyata dari mata pelajaran yang saya ampu, yaitu IPA. Dalam semester ini siswa kelas IX mempelajari materi mengenai listrik dinamis, dan project P5 ini merupakan sarana yang tepat untuk mengaplikasikan pemahaman mereka mengenai konsep kelistrikan. Tentu karena project ini berhubungan dengan kelistrikan, maka hal-hal yang penting akan saya pegang terutama yang berhubungan dengan instalasi listrik.

Dari respon positif yang ditunjukkan siswa sepertinya project ini akan berjalan menarik, sekarang baru tahap awal, masih ada waktu sekitar seminggu sampai project ini jadi. Saya akan berusaha menulis update dari kegiatan ini dalam blog ini, dan semoga project ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Rabu, 11 Desember 2024

Semangatlah, Lewati Pelajar Penggerak

Gambar saya dan siswa dalam pembelajaran di kelas. Tidak ada hubungannya dengan tulisan.


Lima orang siswa telah saya pilih untuk ikut pendaftaran Program Pelajar Penggerak. Pelajar Penggerak merupakan sebuah program yang baru saya dengar berdasarkan informasi dari atasan saya. Dari namanya saja, saya merasa bahwa program ini seperti guru penggerak, versi siswa. Saya mencoba untuk berpikiran positif, dan bertekad untuk membimbing beberapa siswa untuk mencoba mengikuti kegiatan ini

Saya tidak berpikikiran terlalu tinggi, atau berharap terlalu tinggi. Saya hanya berharap siswa mendapatkan pengalaman baru, networking baru, dan cara pandang baru terhadap diri mereka. Sedangkan bagi diri saya sendiri, ini adalah sebuah pembuktian bahwa saya belum habis, saya masih bisa berkarya, dengan cara saya sendiri.

Beberapa keuntungan dari program pelajar penggerak yang saya ketahui, seperti pengetahuan baru, jaringan baru, inforasi beasiswa, dan tentu sertifikat tingkat nasional. Dari informasi yang saya dapatkan, sepertinya program pelajar penggerak ini bukan program langsung dari Kemendikdasmen Program ini sepertinya merupakan program yang dibuat mitra Kemendikdasmen. Namun apapun itu, semuanya layak dicoba.

Pengalaman baru atau pengetahuan baru yang akan diperoleh siswa, saya harapkan dapat mengubah pola pikir mereka. Saya berharap siswa dapat lebih percaya diri dan tidak merasa rendah diri dengan siswa dari sekolah lain. Materi yang akan diperoleh dalam kegiatan pelajar penggerak cukup menarik, seperti penguatan karakter, beasiswa, program prestasi nasional, bijak bermedia sosial, serta materi yang lainnya.

Dengan usia siswa yang masih remaja, saya merasa materi bijak bermedia sosial, penguatan karakter, dan beasiswa menjadi materi yang diperlukan oleh siswa usia remaja. Dengan mengikuti program ini, siswa diharapkan dapat memasuki dunia baru, dunia akademik yang lebih luas. Saya berharap siswa menjadi lebih bangga dengan aktivitas sekolah atau aktivias akademik,

Pendaftaran akan ditutup tiga hari lagi (14/12), dan semua siswa yang saya bimbing telah berhasil melakukan pendaftaran hari ini, dan sudah tergabung dengan grup whatsapp program pelajar penggerak. Saya melihat raut wajah bangga pada diri mereka ketika tergabung dalam WAG program pelajar penggerak. Tidak disadari, mereka telah selangkah lebih maju daripada siswa yang lain, mereka berani mencoba tantangan baru, terlebih dalam WAG tersebut berisi siswa dari berbagai sekolah di Indonesia.

Tanggal 15-17 Desember 2024 adalah waktu seleksi, dan sehari setelahnya adalah pengumuman peserta yang masuk dalam program pelajar penggerak. Semoga kelima siswa ini dapat lolos dan merasakan pengalaman baru dalam program pelajar penggerak ini.

Saya sebagai guru pembimping tidak menargetkan apa-apa, saya sudah cukup senang melihat semangat terpancar dari raut wajah mereka. Kebanggaan pada diri siswa karena bisa mendaftar sudah memberikan efek psikologis yang besar pada diri mereka, apalagi jika mereka dapat lolos seleksi dan diterima, tentu akan memberikan dampak yang lebih besar lagi pada diri mereka.

Kita lihat nanti pada tanggal 18 Desember 2024, apakah merka lolos atau tidak. Sebagai guru pembimbing, saya berharap mereka dapat lolos semua. Namun terlepas dari itu semua, apa yang sudah mereka usahakan untuk mendaftar, sudah merupakan sebuah langkah maju setidaknya bagi saya dan kelima siswa tersebut.

Minggu, 08 Desember 2024

Setelah Pendidikan Guru Penggerak Selesai ..... (1)

Tidak terasa telah sampai di ujung kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan 11 tahun 2024. Saya mulai mengikuti kegiatan ini pada pertengahan bulan Juni, dan sekarang berakhir di awal bulan Desember tahun yang sama. Banyak hal yang saya dapatkan dalam kegiatan ini, semuanya secara tidak sadar telah mengubah pola pikir atau mindset saya sebagai seorang guru.

Saya merasa bahwa sejatinya program PGP ini adalah program yang bertujuan untuk mengubah pola pikir guru. Materi atau modul yang dipelajari dalam kegiatan ini secara tidak langsung telah mengubah pola pikir saya menjadi lebih positif. Dalam kegiatan ini saya berusaha untuk senantiasa berpikir positif dalam menghadapi semua tantangan yang ada dalam lingkungan kerja saya, yaitu sekolah.

Menurut saya, guru memiliki peran seperti penunjuk jalan. Guru dengan tugas kependidikannya memiliki peran untuk mengantarkan peserta didik melewati fase kehidupannya untuk sampai pada tujuan hidupnya. Tentu, agar peserta didik sampa pada tujuan hidupnya, bukanlah semata tugas seorang guru. Dalam proses ini lingkungan keluarga dan masyarakat juga memegang peran yang penting. Karena saya seorang guru, maka saya akan melihat dari sudut pandang seorang guru saja.

Dalam kegiatan PGP ini, hal yang pertama yang dipelajari adalah hal yang mendasar dari kegiatan ini. Yang pertama, Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara (KHD). Dengan mempelajari filosofi pendidikan KHD, kita dapat memetik pelajaran mengenai seperti apa pendidikan nasional kita seharusnya. Pendidikan Nasional sejatinya meletakkan peserta didik sebagai pusat dari kegiatan, atau dengan kata lain, peserta didik adalah subjek dalam dunia pendidikan. Segala daya dan upaya yang kita lakukan sejatinya adalah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dalam melalui fase "Pendidikan" dalam hidup mereka.

Selain itu guru harus memahami nilai dan perannya sebagai seorang guru (penggerak). Menjadi seorang guru tidak hanya sekedar datang, masuk ke kelas, mengajar, dan memberikan tugas. Lebih dari itu, seorang guru memiliki nilai dan peran yang berdampak pada dirinya sendiri, dan juga berdampak pada lingkungan atau komunitas di sekitarnya. Jika saya menyimpulkan dengan pemahaman saya, nilai adalah suatu hal yang diyakini dan menjadi landasan seorang guru dalam membentuk dirinya, dan peran adalah tugas yang harus dilakukan agar bermanfaat bagi dirinya, peserta didik, serta lingkungan disekitarnya.

Saya tidak akan mengulas apa itu nilai dan peran guru penggerak, anda dapat mencarinya sendiri di internet. Nilai dan peran yang disadari oleh seorang guru hendaknya dibuktikan atau diimplementasikan dalam kenyataan, yaitu terbentuknya visi seorang guru. Visi merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh seorang guru. Visi-lah yang melandasi tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Dan pada akhirnya, visi seorang guru hendaklah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengantarkan peserta didik menuju tujuan hidupnya.

bersambung .....

Rabu, 23 Oktober 2024

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1 - Jefri Adi Setiawan, S.Pd

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1
Pengambilan Keputusan berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan
sebagai Pemimpin


Jefri Adi Setiawan, S.Pd
SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan
Peserta PGP Angkatan 11

Salah satu peran guru yang saya pelajari dalam Pendidikan Guru Penggerak (PGP) ini adalah sebagai pemimpin pembelajaran. Seorang guru harus memahami filosofi pendidikan yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara, bahwa tugas seorang guru adalah sebagai fasilitator yang mengantarkan siswa untuk mencapai kebahagiaan sesuai kodratnya masing-masing.

Untuk mewujudkan filosofi pendidikan tersebut, seorang guru harus mempunyai visi yang jelas untuk  tercapainya tujuan pendidikan. Selain memiliki visi yang jelas, guru harus memahami perannya. Salah satu peran guru adalah pemimpin pembelajaran.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru perlu mengambil berbagai keputusan untuk memastikan visinya terwujud. Salah satu hal yang harus dilakukan guru adalah menegakkan disiplin positif. Selain itu, salah satu bentuk implementasi guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah dengan menyelenggarakan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional.

Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, guru terkadang dihadapkkan kondisi-kondisi yang mengharuskannya untuk mengambil keputusan. Masalah-masalah yang muncul bermacam-macam, baik masalah yang berhubungan dengan siswa, rekan sejawat, maupun kebijakan yang ada.

Permasalahan yang terkadang dihadapi seorang guru dapat berupa bujukan moral atau dilema etika. Untuk permasalahan yang berhubungan dengan bujukan moral relatif lebih mudah untuk dianalisis, karena sangat terang perbedaan antara kebenaran dan kesalahan. Seorang guru harus memiliki nilai dan prinsip, sehingga dapat menghindarkannya dari mengambil keputusan yang salah dalam hal bujukan moral.

Namun untuk permasalahan yang berhubungan dengan dilema etika, seorang guru terkadang sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Karena dalam kasus dilema etika yang sedang dipertentangkan adalah nilai-nilai yang sama-sama benar. Dalam posisi ini guru harus dapat berpikir secara tenang, mempertimbangkan berbagai informasi atau fakta yang ada, dan secara bijak dapat mengambil keputusan yang paling baik.

Dalam kasus dilema etika terkadang menghadapi empat paradigma, antara lain:

  1. Individu melawan masyarakat. Dalam hal ini yang bertentangan adalah kepentingan indiviu atau kelompok kecil dengan masyarakat atau kelompok besar. Kedua pertentangan ini menyangkut nilai yang sama-sama benar.
  2. Keadilan melawan rasa kasihan. Dalam hal ini yang bertentangan adalah keharusan menegakkan peraturan yang berlaku melawan rasa kasihan atas kondisi atau permasalahan yang ada. Kedua pertentangan ini menyangkut nilai yang sama-sama benar.
  3. Kejujuran melawan kesetiaan. Dalam hal ini yang bertentangan adalah keinginan untuk bersikap jujur atau bersikap setia kepada kelompok atau komunitas. Pertentangan keduanya juga menyangkut nilai yang sama-sama benar.
  4. Jangka pendek melawan jangka panjang. Dalam hal ini yang bertentangan adalah kepentingan jangka pendek dengan kepentingan jangka panjang. Keduanya juga menyangkut nilai yang sama-sama benar.

Dalam kasus dilema etika, kebijaksanaan memengang peranan penting. Karena guru dihadapkan pada kondisi bukan memilih antara benar dan salah, tetapi memilih antara dua hal yang benar. Memilih dua hal yang benar adalah tidak mudah, namun guru harus berani berusaha untuk memilih salah satu yang dapat memberikan manfaat lebih banyak.

Pertimbangan yang dipakai dalam menghadapi kasus dilema etika bermacam-macam. Pertimbangan tersebut antara lain apakah akan mengambil keputusan yang mempertimbangkan kebaikan banyak pihak, apakah akan mengambil keputusan berdasarkan menjunjung tinggi nilai atau prinsip dalam diri, atau apakah mengambil keputusan berdasarkan apa yang akan dilakukan orang lain terhadap kita jika kita berada dalam permasalahan tersebut.

Terdapat tiga prinsip yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dilema etika, prinsip tersebut dikenal sebagai prinsip resolusi. Prinsip tersebut antara lain berpikir berbasis hasil akhir (End-based thinking), berpikir berbasis peraturan (Rule-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (Care-based thinking).

Berpikir berbasis hasil akhir memiliki arti bahwa guru dalam menghadapi permasalahan dilema etika akan mengambil keputusan yang memberikan manfaat atau menyenangkan banyak orang.

Berpikir berbasis peraturan memiliki arti bahwa guru dalam menyelesaikan permasalahan dilema etika akan mengambil keputusan yang sejalan dengan peraturan atau norma yang berlaku.

Sedangkan berpikir berbasis rasa peduli memiliki arti bahwa guru dalam menyelesaikan permasalahan dilema etika akan lebih mengedepankan simpati, empati, dan perasaan orang lain ketika akan mengambil suatu keputusan.

Ketiga prinsip tersebut dapat mempertimbangkan situasi dan akar permasalahan dilema etika yang terjadi. Pada akhirnya tidak ada keputusan yang seratus persen tepat, selalu ada ruang bahwa keputusan tersebut akan berpotensi merugikan atau berdampak negatif.

Untuk mengetahui suatu keputusan apakah tepat atau tidak, guru dapat melakukan pengujian. Guru sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, namun perlu melakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut sudah tepat atau belum.

Untuk melakukan pengujian suatu keputusan dapat dilakukan dalam beberapa langkah, antara lain:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.
  2. Menentukan pihak-pihak yang terkait dalam permasalahan tersebut.
  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan.
  4. Melakukan pengujian benar-salah. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah permasalah yang dihadapi adalah bujukan moral atau dilema etika. Ketika dalam pengujian benar salah, keputusan tersebut mengalami kegagalan, maka dapat dikatakan permasalahan tersebut adalah bujukan moral. Uji benar salah meliputi uji legal, uji regulasi/standar etik, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan.
  5. Melakukan pengujian paradigma dilema etika.
  6. Melakukan prinsip resolusi.
  7. Melakukan investigasi opsi trilema. Opsi trilema adalah opsi lain dari dua opsi yang sudah tersedia.
  8. Membuat keputusan.
  9. Melihat lagi keputusan yang telah diambil dan merefleksikannya kembali.

Jika guru telah melakukan pengujian keputusan, maka keputusan akhir yang didapat dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik dan bijak. Keputusan tersebut tentu dapat dikaji dan ditinjau ulang dengan mempertimbangkan kondisi yang terjadi di masa mendatang.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus berani untuk mengambil resiko dalam membuat suatu keputusan. Keputusan tersebut harus berpihak pada siswa, berdasarkan nilai kebajikan, dan guru harus siap bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang telah diambil. 

Memang bukan hal yang mudah, namun kemampuan dalam mengambil keputusan harus dilatih. Guru tidak boleh lari dari suatu permasalahan, namun guru harus mampu menghadapi dan berani bersikap atas permasalahan yang sedang dialami, terutama yang berhubungan dengan dilema etika.


***

Minggu, 30 Juni 2024

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 : Pemikiran Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara


Dalam modul pertama tentang Pemikiran Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberikan penjelasan mengenai bagaimana pendidikan seharusnya dilaksanakan. Pendidikan merupakan suatu tuntunan yang bertujuan untuk mengantarkan anak menuju keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Dalam proses pendidikan, kita sebagai guru harus menyesuaikan dengan kodrat setiap anak. Anak-anak tersebut memiliki kodrat alam dan kodrat zaman masing-masing. Kodrat alam dapat dimaknai sifat dan bentuk anak tersebut, seperti bentuk fisik, perangai, dan bakat yang dimiliki anak. Sedangkan kodrat zaman dapat dimaknai sebagai isi dan irama anak, hal ini dipengaruhi oleh kondisi zaman dan masyarakat ketika anak tersebut tumbuh.

Setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing, mereka memiliki potensi positif dan negatif dalam dirinya. Supaya potensi negatif anak dapat ditekan bahkan dihilangkan, maka diperlukan pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti dimaksudkan agar anak dapat menguasai dirinya, sehingga mampu menahan atau menghalau potensi atau tabiat negatif dari dalam dirinya.

Selain itu, keluarga memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Menurut KHD pendidikan keluarga memiliki tempat yang mulia, hal ini karena pendidikan keluarga dilandasi keikhlasan dan ketulusan yang semata-mata bertujuan untuk kebaikan sang anak. 

Budaya ikut menentukan tumbuh kembang anak, karena budaya merupakan unsur yang terdapat dalam kodrat zaman anak. Anak yang tumbuh dengan budaya yang baik akan tumbuh menjadi seorang yang baik, namun sebaliknya jika anak hidup dalam budaya yang tidak baik, niscaya anak dapat terbawa dalam hal yang tidak baik.

Sebelum saya mempelajari materi mengenai pemikiran filosofis pendidikan KHD, saya memiliki mindset yang kurang tepat mengenai pendidikan. Saya merasa paling tahu tentang apa yang dibutuhkan anak, merasa kegiatan di dalam ruang kelas sudah cukup untuk anak, dan lebih berfokus pada tuntutan kurikulum. Hal tersebut membuat perasaan hampa atas apa yang saya kerjakan selama ini, Hasil yang saya dapatkan tidak berbanding lurus dengan apa yang saya kerjakan.

Setelah mempelajari modul pertama ini, mindset saya pun berubah. Sekarang saya menyadari bahwa sebenarnya anak adalah subjek dalam pembelajaran. Guru harus berperan sebagai pembimbing dan menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan karakteristik anak. Istilah yang digunakan dalam modul ini adalah "menghamba pada anak". Pernyataan ini memiliki arti bahwa pendidikan harus dilakukan secara ikhlas semata-mata demi kebaikan anak.

Saya pun menyadari bahwa setiap anak memiliki karakteristik, minat, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Kita tidak mungkin mengharapkan semua anak untuk menjadi satu bentuk yang kita inginkan. Yang seharusnya dilakukan adalah mendesain kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik anak, yang harus kita ingat adalah apa yang kita lakukan adalah menuntun anak mencapai tujuan hidupnya, dan boleh jadi setiap anak memiliki jalan masing-masing untuk mencapai tujuan hidupnya.

Yang dapat segera saya terapkan di kelas berdasarkan materi dalam modul ini adalah mencoba mengintegrasikan pemikiran pendidikan KHD dalam kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan. Menghargai ketidakseragaman anak dan membuat kegiatan pembelajaran yang menyesuaikan dengan kondisi anak.

Selain itu penanaman nilai budi pekerti juga harus dilaksanakan ketika kegiatan pembelajaran. Penanaman budi pekerti pada anak juga harus memperhatikan nilai-nilai yang ada pada budaya di sekitar kita. Banyak nilai-nilai positif yang ada pada masyarakat yang dapat kita tanamkan pada anak.

Dalam konteks lokal, nilai-nilai seperti sopan satun, hormat kepada orang tua, bersikap jujur, rendah hati dan tanggung jawab dapat kita tanamkan pada anak ketika pembelajaran di sekolah.

Penanaman nilai-nilai tersebut akan efektif dengan cara peneladanan. Salah satu semboyan KHD "ing ngarsa sung tuladha", saya maknai bahwa sebagai seorang guru saya harus mampu menjadi contoh teladan bagi anak-anak. Menjadi teladan memiliki arti bahwa nilai yang ingin saya tanamkan pada anak harus terlebih dahulu saya implementasikan pada diri saya sendiri.

***

Ditulis oleh Jefri Adi Setiawan

Peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11

Jumat, 07 Juni 2024

Cerpen Persahabatan Anggo dan Unyu



Anggo si kucing kecil, pagi ini sangat ceria. Dia tidak hentinya berlarian kesana-kemari dengan penuh kegirangan. Ya, hari ini Anggo dan temannya Unyu akan jalan-jalan ke hutan.

Melihat tingkah Anggo yang seperti itu, Ibunya hanya tersenyum. Ibu Anggo tahu bahwa anaknya sedang bergembira karena berjalan-jalan di hutan merupakan hal yang sangat diinginkan Anggo. Bukannya tidak boleh bermain ke hutan, ibu Anggo selama ini tidak memberi izin karena tidak tega jika Anggo bermain seorang diri ke hutan. Namun karena hari ini Anggo akan pergi dengan temannya, Ibunya akhirnya mengizinkannya.

“Anggo, ada apa kamu berlarian seperti itu?” goda ibu Anggo. “Aku kan mau bermain ke hutan bu, nanti aku kan menangkap capung.” Jawab anggo dengan rona muka yang bahagia.

Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, Ibu berkata, “ayo sarapan dulu, nanti setelah selesai sarapan baru kamu berangkat.” Dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, Anggo berjalan menuju ruang makan.

“Apa menu sarapannya Bu?” tanya Anggo. Dengan sabar Ibu pun menjawab, “kita sarapan dengan menu kesukaanmu, ikan teri.”

Dengan ditemani Ibunya, Anggo makan dengan lahap. Melihat kelakuan anaknya itu, dengan sabar Ibu berkata “Makan pelan-pelan, nanti kamu tersedak lho.”

Setelah menyelesaikan sarapanyya, Anggo segera berpamitan kepada Ibunya untuk pergi ke rumah Unyu. Rumah Unyu tidak terlalu jauh dari rumah Anggo. Rumah Unyu terletak di dekat sungai, sedangkan rumah Anggo disekitar daerah padang rumput.

Unyu adalah seekor kura-kura kecil, berlawanan dengan sifat Anggo yang aktif, Unyu lebih pendiam dan bijaksana. Mereka berdua merupakan sahabat karib, orang pertama yang diajak Anggo ketika akan bermain adalah Unyu. Kali ini mereka akan bermain ke hutan untuk menangkap capung.

“Assalamualaikum, Unyu ayo main.” Ucap Anggo di depan rumah Unyu.

“Waalaikum salam,” jawab seorang wanita yang berada dalam rumah.

Suara wanita tersebut adalah suara Ibu Unyu. Ibu Unyu sudah sangat mengenal sahabat anaknya tersebut. Ibu Unyu dan Ibu Angga saling mengenal satu sama lain, mereka berdua juga bersahabat.

“Anggo, ayo masuk. Unyu sedang sarapan.” Ucap Ibu Unyu sambil membukakan pintu. 

Anggo pun masuk dan duduk di ruang tamu, sedangkan Unyu sudah mengetahui kedatangan sahabatnya tersebut, namun Unyu harus menghabiskan sarapannya dahulu sebelum bermain.

“Kamu sudah menunggu lama?” tanya Unyu kepada Anggo yang sedang duduk di ruang tamu.

“Ah tidak, aku baru saja sampai.” Jawab Anggo. Tidak berselang lama mereka berdua berpamitan kepada Ibu Unyu untuk bermain ke hutan.

“Hati-hati bermainnya, sekarang sedang musim hujan dan banyak nyamuk di hutan.” Pesan Ibu Unyu kepada kedua anak tersebut.

Dalam perjalanan Anggo dan Unyu berbincang dengan asyik, mereka membahas capung warna apa yang akan mereka tangkap. Dalam pembicaraan tersebut Unyu mengatakan bahwa tempat yang banyak capungnya berada di seberang sungai. Sungai tersebut terletak di tengah hutan, jika kondisi sedang baik maka air sungai tidak terlalu banyak, sehingga bisa diseberangi. Namun jika hujan turun, maka air sungai akan naik, sehingga tidak bisa diseberangi.

Ketika memasuki area hutan mereka melihat betapa indahnya hutan tersebut. Banyak pohon tinggi menjulang, pohon tersebut beraneka ragam jenisnya. Beberapa dari pohon tersebut sudah berbuah, seperti mangga, rambutan, dan jambu.

“Hemm ... enak sekali rambutan itu sepertinya.” Ucap Unyu sambil melihat buah rambutan yang bergelantungan di atas pohon.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu.” Ucap Anggo. Tak berselang lama Anggo yang lincah segera naik ke atas pohon dan mengambil beberapa buah rambutan kemudian memberikannya kepada Unyu.

“Wah manis sekali rambutan ini, terima kasih sahabatku.” Ucap Unyu sambil mengunyah rambutan.

Mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya menuju tengah hutan. Ketika sampai di tengah hutan mereka menjumpai sebuah sungai, air sungai tersebut dangkal sehingga bisa diseberangi.

Di tempat tersebut mereka bertemu teman-temannya, ternyata teman-teman Anggo dan Unyu ini juga punya maksud yang sama, mereka akan mencari capung di seberang sungai. Mereka saling menyapa dan bercanda.

“Ayo teman-teman kita seberangi sungai ini, banyak capung disana yang menunggu kita. Ucap Anggo kepada teman-temannya dengan nada gembira.

Karena air sungai yang dangkal, mereka semua dapat menyeberangi sungai dengan mudah. Setelah sampai di seberang sungai, mereka berpencar dan mulai mencari capung sendiri-sendiri. Anggo dan Unyu menuju padang rumput yang luas, disana terlihat banyak capung yang berterbangan.

“Hap .. horeee.” Teriak Anggo kegirangan sambil menunjukkan capung yang baru saja dia tangkap kepada Unyu.

“Aku juga sudah menangkap satu juga.” Sahut Unyu sambil menunjukkan capung yang dia tangkap.

Tak terasa sudah banyak capung yang mereka tangkap. Panas matahari juga sudah mulai terik menandakan bahwa sebentar lagi akan siang.

“Anggo ayo kita pulang sebentar lagi hari sudah siang.” Ajak Unyu kepada Anggo.

“Sebenatar, aku masih mau menangkap lebih banyak capung lagi.” Jawab Anggo sembari sibuk menangkap capung.

Tiba-tiba suasana menjadi gelap, ternyata awan hitam datang dengan tiba-tiba. Awan hitam yang begitu pekat ini menandakan bahwa sebentar lagi hujan deras akan datang. Tak lama berselang, rintik hujan pun mulai turun.

“Anggooo ... ayo cepat kita pulang!” Teriak Unyu kepada Anggo.

Mendengar teriakan sahabatnya tersebut Anggo mulai sadar harus segera cepat pulang sebelum hujan semakin deras. Jika mereka tidak segera pulang, maka aliran sungai akan mulai deras dan mereka berdua tidak dapat menyeberang.

Keduanya mulai berlari untuk menuju jalan pulang. Dengan badan yang mulai basah karena hujan yang mulai turun, keduanya tetap berlari. Suasana telah sepi, teman-teman mereka rupanya sudah pulang semua. Suasana yang mulai gelap membuat keduanya harus tetap waspada supaya tidak tersesat.

Ketika tiba di pinggir sungai, keduanya melihat aliran sungai mulai deras. Walaupun ketinggian air belum terlalu tinggi, namun aliran airnya sudah terlihat mulai lebih deras.

“Unyu maafkan aku, seharusnya aku mendengarkanmu untuk pulang dari tadi.”  Ucap anggo dengan nada penuh sesal.

Anggo sadar bahwa walaupun air sungai belum tinggi, namun dia tidak bisa berenang. Terlihat dari raut mukanya yang sedih, dia sungguh menyesal. Jika memang tidak bisa menyeberang, maka terpaksa harus menunggu sampai hujan reda dan aliran air sungai surut kembali. Artinya bisa-bisa mereka berdua akan sampai rumah sore hari.

Melihat kondisi tersebut, Unyu tiba-tiba memiliki ide. Unyu adalah seekor kura-kura, maka berenang bukanlah masalah besar baginya. Sejak kecil Unyu memang berbakat dalam renang.

“Aku akan berenang, kamu nanti naiklah ke punggungku. Dengan ketinggian air seperti ini aku insyaAllah bisa melewatinya.” Kata Unyu menyampaikan idenya.

“Tapi aku berat dan nanti malah akan menyusahkanmu. Kau berenang saja, biar aku menunggu air surut lagi.” Jawab Anggo kepada sahabatnya itu.

“Ah sudahlah, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Sekarang ayo cepat naik!” Perintah Unyu kepada Anggo.

Anggo segera naik ke punggung Unyu, kemudian Unyu segera memasuki sugai dan mulai berenang. Dengan aliran yang mulai deras, hujan pun mulai deras. Unyu tetap berkonsentrasi tetap berenang, sedangkan Anggo berpegangan erat sambil berdoa.

Akhirnya mereka berdua sampai ke seberang sungai dengan selamat. Begitu mereka naik ke tanah, seketika hujan menjadi deras. Mereka berdua akhirnya berlari menuju ke sebuah pohon beringin yang besar, mereka berteduh di bawah pohon tersebut.

Setelah beberapa saat hujan pun reda. Mereka berdua tersenyum bahagia dan tak lupa mengucapkan hamdalah. Keduanya mulai berjalan untuk pulang ke rumah.

“Unyu terima kasih banyak, kamu telah menyelamatkanku.” Ucap Anggo.

“Sama-sama, itulah yang memang harus dilakukan oleh sahabat. Saling tolong menolong.” Sahut Unyu.

“Mulai sekarang aku akan lebih banyak mendengarkan nasehatmu dan tidak egois. Kamu adalah sahabat terbaikku.” Ucap Anggo sambil memegang pundak sahabatnya itu.

“Kamu juga sahabat terbaikku.” Sahut Unyu dengan senyum merekah.

Setelah berhasil keluar dari hutan, keduanya merasa lega. Mereka berjanji untuk menjadi sahabat yang baik dan saling tolong menolong. Mereka berdua kemudian berpisah dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Sunggu perjalanan ini akan selalu mereka ingat sampai kapan pun.

***

Platform Digital yang Menunjang Pembelajaran, Menurut Pengalaman Saya

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat sekarang ini memberikan dampak yang signifikan dalam dunia pendidikan. Ibarat dua sisi ma...