Selasa, 19 Mei 2026

Berbagi Praktik (mungkin) Baik: Mencoba mengubah suasana pembelajaran menjadi postif

Gambar dibuat dengan AI

Selama ini IPA dianggap sebagai salah satu materi pelajaran yang menjadi momok, karena ada aspek berhitung di dalamnya, walaupun tidak dominan. Selama ini pun, saya sebagai seorang guru juga merasakan tanda ketidakpopuleran pelajaran IPA tersebut. Hal ini saya rasakan ketika mengajar suasana kelas tidak kondusif, tidak positif, siswa kurang termotivasi untuk belajar, serta pasif. Hal ini membuat saya bingung untuk mencari solusi yang tepat, namun sejauh ini kondisinya masih sama saja.

Ketika mengajar IPA, pemandangan yang umum saya jumpai di dalam kelas seperti siswa yang pasif, tidak berani bertanya, tidak berani menjawab, tidak termotivasi, dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan, baik untuk guru dan siswa.

Alhamdulillah saya masih diberikan Allah SWT rasa semangat untuk belajar dan rasa lapar akan keingintahuan. Saya mencoba membaca beberapa buku, mengikuti konten media sosial yang berhubungan dengan pendidikan, atau menonton podcast yang membahas pendidikan.

HIngga pada suatu ketika saya melihat postingan di instagram mengenai ketidakaktifan atau tidak termotivasinya siswa saat belajar. Refleksi saya menemukan beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya, seperti cara mengajar yang kurang sesuai, konten materi yang tidak relate dengan siswa, siswa yang merasa tidak membutuhkan materi yang kita ajarkan, dan berbagai sebab lain.

Saya melakukan analisis dengan AI setelah melihat sebuah podcast dengan bintang tamu Najelaa shihab, pemilik sekolah Cikal. Banyak hal yang saya pelajari, yang kebanyakan bertentangan dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini. Apa yang dikatakan Najelaa masuk akal, tapi apakah relevan jika diterapkan di sekolah konvensional saat ini.

Hasil analisis Ai menunjukkan beberapa konsep Sekolah Cikal belum bisa diterapkan, karena banyak faktor. Untuk menghasilkan pendidikan yang bagus perlu investasi biaya yang besar, orang tua yang peduli, dan kurikulum yang bagus. Itu semua belum bisa langsung diterapkan ke sekolah-sekolah umum saat ini, karena berbagai hal.

Dengan semua faktor yang saya pikirkan, maka hal yang pertama yang saya lakukan adalah mengubah mindset saya. Saya harus belajar menerapkan konsep pembelajaran harus menyenangkan dan siswa sebagai subjek pembelajaran. Saya merefleksikan pengalaman menjadi siswa dahulu, bahwa faktor utama saya menyukai suatu pelajaran adalah gurunya.

Ok, apa yang harus saya lakukan? Rasanya tidak mungkin jika harus melakukan perubahan yang frontal dalam pembelajaran saya, dan satu hal yang ingin saya coba di pembelajaran esok hari, mengubah atmosfer kelas menjadi menyenangkan, itu saja dulu.

Tak ada persiapan khusus yang saya lakukan, hanya perubahan kecil yang saya terapkan. Masuk kelas dengan aura positif, berbicara dengan tenang, mencoba mengkondisikan kelas, terus mengajak siswa untuk berdiskusi, dan yang paling penting mengelola emosi. Intinya saya hanya mencoba terlihat positif di depan siswa.

Hasilnya? It’s works. Saya merasakan perubahan yang signifikan dalam pembelajaran, baik dalam suasana belajar dan hasil pembelajaran itu sendiri.

Hari itu saya mengajar di kelas 7B dalam materi sistem taksonomi makhluk hidup, di jam pertama. Saat masuk kelas saya mencoba untuk membiasakan tersenyum, menyapa dengan hangat, mengajak berdoa, kemudian melakukan apersepsi yang berupa obrolan santai. Saya mencoba untuk berbicara dengan nyaman, memakai intonasi yang tenang namun tegas, dan memancing siswa dalam diskusi.

Selama pembelajaran tersebut saya melihat siswa fokus, tidak ada yang teralihkan perhatiannya secara umum. Mereka menyimak apa yang saya sampaikan dan berani menjawab pertanyaan. Suasana kelas pun tenang, nyaman, dan itu saya rasakan sendiri. Pembelajaran pagi itu terasa tidak melelahkan, cair, dan tidak ada hambatan komunikasi antara saya dan siswa.

Di akhir pembelajaran saya membuat asesmen formatif untuk mengetahui jalannya pembelajaran hari itu. Instrumen yang saya pakai adalah exit ticket dengan model pertanyaan 3-2-1. Saya meminta siswa untuk menuliskan 3 hal yang dipelajari, 2 hal yang menarik, dan 1 hal yang masih menjadi pertanyaan. Dalam sesi ini saya bebaskan siswa untuk menjawab, entah berhubungan dengan materi pelajaran atau tidak.

Saat jam pelajaran selesai, saya kembali ke kantor dan membaca hasil exit ticket tersebut. Hasilnya, secara umum positif, saya bisa mengatakan pembelajaran saya hari itu berhasil. Secara umum hasil exit ticket sebagai berikut.

  • Mayoritas siswa memahami materi yang dipelajari, baik mengenai klasifikasi dan pengantar klasifikasi 5 kingdom.

  • Mayoritas siswa mengatakan suasana kelas selama pembelajaran positif dan nyaman. Saya bisa mengatakan suasana tersebut secara tidak langsung membuat siswa merasa nyaman belajar. Ada juga yang mengatakan udara terasa segar.

  • Mayoritas siswa masih menyimpan rasa ingin tahu mengenai suatu hal, hal ini terlihat dari jawaban siswa yang tertulis di lembar exit ticket. Salah satu hal yang masih menjadi pertanyaan adalah, “Mengapa jamur tidak mempunyai kerajaan (kingdom)?”

  • Ada salah satu siswa yang mengatakan guru (saya) menarik (dalam mengajar), dan dia juga mengatakan suasana kelas menarik.

Dengan umpan balik seperti di atas, menurut saya membuat pembelajaran menjadi menyenangkan berawal dari diri guru. Saya percaya proses belajar mengajar adalah transfer energi, saat kita membawa aura positif, maka aura tersebut akan mengalir ke siswa juga.

Kadang permasalahan pembelajaran yang kita rasakan solusinya bukan pada mengganti model pembelajaran, mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, atau memakai media pembelajaran yang menarik. Kadang solusi paling mujarab ada dalam diri kita sendiri.

Siswa akan belajar jika dia ingin belajar, siswa akan tertarik belajar jika ada hal yang menarik perhatiannya. Tugas guru menurut saya adalah memberikan perhatian dan mencoba memahami apa yang diinginkan siswa. Terkadang siswa tidak bisa menyampaikan apa yang diinginkannya dengan jelas.

Semua siswa ingin pintar, ingin maju, tidak ada yang mau menjadi bodoh, atau tertinggal. Semuanya dimulai dari diri sendiri (guru), guru yang terus belajar sepanjang hayat, dan guru yang reflektif serta mau memperbaiki diri.

Ini pengalaman saya. Berikut saya tampilkan beberapa exit ticket siswa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi Praktik (mungkin) Baik: Mencoba mengubah suasana pembelajaran menjadi postif

Gambar dibuat dengan AI Selama ini IPA dianggap sebagai salah satu materi pelajaran yang menjadi momok, karena ada aspek berhitung di dalam...