Kamis, 26 Februari 2026

Ramadan Produktif: Semangat Siswa SMPN 4 Satu Atap Kragan Memulai Proyek Hidroponik


Di postingan sebelumnya saya telah menuliskan rencana proyek IPA yang akan dilakukan siswa kelas IX, dan hari ini salah satu dari proyek tersebut telah dimulai, proyek hidroponik. Walaupun dalam keadaan berpuasa tidak menyurutkan semangat siswa kelas IXA dan IXB untuk memulai proyek hidroponik ini. Seharusnya proyek ini dimulai satu minggu sebelumnya, namun karena libur awal puasa, maka proyek ini baru dimulai hari ini, Kamis 26 Februari 2026.

Selama bulan Ramadhan ini, jadwal pelajaran di SMPN 4 Satu Atap Kragan mengalami perubahan dengan memasukkan kegiatan keagamaan. Jam pertama dan kedua diisi dengan kegiatan tadarus AL Quran. Setelah tadarus siswa kelas IXA dan IXB mulai bersiap untuk melaksanakan proyek hidroponik.

Proyek ini saya pilih karena sesuai dengan materi IPA yang sedang berlangsung, bioteknologi. Tujuannya agar siswa mengetahui salah satu teknik budidaya tanaman, khususnya di lahan yang sempit. Hidroponik dipilih karena bisa dilaksanakan di lahan yang terbatas dan memungkinkan untuk menanam tanaman yang tidak biasa dijumpai di sekitar lingkungan sekolah.

Kegiatan hari ini adalah melakukan proses pembenihan. Sekolah menyediakan beberapa bahan yang diperlukan seperti rockwool, benih tanaman, dan nutrisi AB. Sedangkan siswa bertugas untuk menyiapkan wadah hidroponik secara mandiri dari barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah atau sekolah. Sistem hidroponik yang digunakan adalah sistem Wick, dan sebelum proses pembenihan yang dilakukan, saya memberikan panduan menanam hidroponik agar siswa memahami apa yang harus mereka lakukan selama proyek ini berlangsung.

Siswa dari kedua kelas tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok, totalnya menjadi delapan kelompok. Setelah membaca dan memahami panduan yang telah diberikan, siswa mulai melakukan proses pembenihan.

Dimulai dengan memotong rockwool yang telah diberikan menjadi beberapa bagian, kemudian membasahi rockwool tersebut dengan air. Siswa kemudian meletakkan rockwool basah tersebut dalam sebuah wadah dan membuat lubang di tengah-tengah tiap bagian rockwool. Lubang tersebut nantinya akan diisi dengan benih tanaman.

Benih tanaman yang tersedia adalah pakcoy, kangkung, bayam hijau, selada merah, selada hijau, dan caisim. Setiap kelompok bebas menentukan tanaman apa yang akan mereka budidayakan, rata-rata mereka menanam tanaman yang jarang dijumpai di keseharian mereka. Dalam proses ini mereka bekerja di luar kelas agar lebih leluasa.

Saya melihat siswa cukup antusias, beberapa kali mereka bertanya mengenai berbagai hal mengenai cara melakukan pembenihan. Salah satu kelompok bahkan telah menyiapkan rockwool sendiri, sehingga jumlah tanaman yang dibudidayakan bisa lebih banyak.

Proses menyiapkan pembenihan ini berlangsung kurang lebih satu jam pelajaran, cukup singkat. Setelah benih dimasukkan kedalam rockwool, siswa menyimpannya di dalam kelas dengan ketentuan di area yang gelap atau tidak terkena cahaya matahari cukup banyak, hal ini dilakukan agar proses perkecambahan dapat berlangsung dengan baik.

Saya memang tidak bertanya banyak kepada siswa selama kegiatan hari ini, namun sekilas saya dapat melihat ekspresi senang dan semangat pada diri siswa. Harapannya hasil dari proyek hidroponik dan arduino akan bisa dipamerkan dalam sebuah “panen karya” seperti kegiatan P5.

Setelah kegiatan pembenihan ini, siswa harus memantau kondisi tanaman mereka setiap hari, jika benih telah berkecambah, mereka harus segera meletakkan benih-benih tersebut di area yang terkena sinar matahari agar tidak terjadi etiolasi. Selain itu, dalam beberapa hari kedepan mereka juga harus mulai menyiapkan tempat hidroponik sistem wick sejumlah benih yang mereka tanam.

Saya juga berencana untuk membuatkan jurnal pemantauan untuk masing-masing kelompok, tujuannya agar siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap tanaman yang mereka budidayakan. Mungkin dalam beberapa hari kedepan saya akan menuliskan update dari kegiatan ini, dan mengajak siswa mengevaluasi agar siswa dan saya pribadi mendapatkan umpan balik, sehingga tantangan atau hambatan yang mungkin terjadi dapat diatasi dengan baik.

Harapan saya pribadi adalah siswa menikmati kegiatan ini serta mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Dan semoga apa yang mereka lakukan dalam proyek ini dapat berguna dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Terima kasih untuk para siswa dalam mengikuti kegiatan proyek ini, dan berikut ini saya sertakan tautan panduan menanam hidroponik siswa dan dokumentasi kegiatan proyek hidroponik hari ini.

Panduan menanam Hidroponik siswa: unduh







Rabu, 25 Februari 2026

Evolusi Buku Siswa IPA: Perbandingan KTSP, K-13, dan Kurikulum Merdeka


Sebenarnya hari ini saya tidak mempunyai ide untuk ditulis, namun saya memaksa diri saya untuk tetap menulis, dan muncul ide aneh ini. Saya ingin membandingkan buku siswa untuk mata pelajaran IPA antara KTSP, Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka. Jadi saya melakukan semacam penelitian “ala-ala” untuk membandingkan buku siswa dari kurikulum yang berbeda, alat yang saya gunakan adalah Kecerdasan Artifisial milik Google, Gemini.

Secara personal, saya menilai bahwa buku siswa KTSP lebih baik dari dua kurikulum setelahnya. Penilaian ini subjektif, saya merasa bahwa buku siswa KTSP lebih kaya materi, latihan soal, dan bisa menjadi sumber belajar utama, jika sumber belajar lain seperti internet tidak ada. Saya akan menjadikan penilaian subjektif saya sebagai hipotesis penelitian ini.

Dalam penelitian ini saya menggunakan buku siswa Mata pelajaran IPA untuk kelas 8, kemudian saya mengunggahnya ke Gemini. Secara umum saya menuliskan prompt untuk melakukan perbandingan ditinjau dari beberapa aspek. Dalam tulisan ini saya akan coba merangkumnya, dan menambahkan opini pribadi saya.

Buku siswa KTSP memiliki penjelasan teori yang sistematis dan mendalam, terutama hal definisi dan rumus. Materi fisika, kimia, dan biologi disajikan secara terpisah.

Namun ada juga kelemahan pada buku siswa KTSP, yaitu visualisasi yang kurang menarik dibanding buku-buku terbaru. Buku ini juga hanya memfokuskan pada hafalan konsep daripada aplikasi praktis.

Buku siswa Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan terpadu antara fisika, biologi, dan kimia. Materi disesuaikan dengan standar internasional seperti TIMSS dan PISA. Materi yang disajikan terpadu menjadikan satu fenomena dapat dibahas dari berbagai sudut pandang sains secara terpadu. Selain itu, buku ini juga mengintegrasikan nilai sikap dan rasa syukur dalam materi.

Kelemahan buku siswa Kurikulum 2013 adalah materi yang terasa sangat padat, karena mencoba untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu secara terpadu di dalamnya.

Buku siswa Kurikulum Merdeka sangat menekankan pada inkuiri atau penemuan, serta aktivitas mandiri.Tata letak buku terasa lebih modern, dengan banyak ruang untuk refleksi siswa. Buku ini berfokus pada ide besar atau “Big Ideas” dan konsep esensial. Kedalaman materi dicapai melalui proyek dan eksplorasi.

Sama seperti kedua buku sebelumnya, buku siswa kurikulum merdeka juga memiliki kelemahan seperti kedalaman materi secara ensiklopedis mungkin terasa kurang bagi siswa yang membutuhkan detail teori yang sangat banyak.

Berdasarkan uraian di atas, maka analisis yang bisa saya kemukakan bahwa ketiga buku ini memiliki fungsi yang berbeda. Secara sederhana, buku siswa KTSP mengajak siswa “belajar untuk tahu”, buku siswa Kurikulum 2013 mengajak siswa untuk “belajar untuk melakukan”, dan buku siswa Kurikulum Merdeka mengajak siswa untuk “belajar untuk berpikir dan memecahkan masalah”. Ya, paradigma belajar yang diharapkan dicapai siswa berbeda antara ketiga buku tersebut.

Pertanyaan untuk para guru, apakah buku siswa KTSP dan Kurikulum 2013 masih relevan untuk digunakan sekarang? jawabannya masih relevan. Buku siswa Kurikulum Merdeka digunakan sebagai kerangka utama dan panduan alur pembelajaran inkuiri di kelas. Buku siswa KTSP dapat digunakan sebagai sarana pengayaan dan referensi jika siswa memerlukan pemahaman detail mengenai konsep dalam ilmu sains dan aplikasi rumus-rumus dalam pemecahan masalah. Sedangkan buku siswa kurikulum 2013 dapat dimanfaatkan sebagai sarana proyek bagi siswa, karena didalamnya banyak ide praktikum yang bisa digunakan.

Kondisi saat ini, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum merdeka. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dan siswa adalah buku siswa bukan sebagai sarana belajar utama. Buku siswa bersifat sebagai modul atau panduan untuk belajar atau mencari (inkuiri). Sehingga menurut saya, mutlak diperlukan sumber belajar yang lain untuk menunjang belajar siswa. Harapannya siswa mampu memperoleh pemahaman atas materi sains melalui kegiatan inkuiri, buku siswa sebagai panduannya. 

Senin, 23 Februari 2026

Panduan Implementasi STEM: Mengenal Model PjBL, PBL, dan 5E untuk Pembelajaran Mendalam


STEM merupakan akronim dari Science, Technology, Engineering, dan Mathematics adalah sebuah praktek pedagogis yang cocok digunakan dalam pembelajaran mendalam. Karena STEM merupakan gabungan antara teoritis dan praktek, gabungan kedua hal tersebut diharapkan akan memantik perhatian dan minat belajar siswa. Sehingga aspek kesadaran, kebermaknaan, dan menyenangkan dalam pembelajaran mendalam diharapkan akan tercapai.

Pembelajaran STEM dapat difungsikan sebagai pendekatan maupun dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat mengakomodasi praktek saintifik dan enjinering sebagai proses penyelesaian masalah.

Merujuk pada panduan STEM yang dikeluarkan oleh Kemendikdasmen, pembelajaran STEM dapat diaplikasikan pada berbagai model pembelajaran. Dalam panduan tersebut disebutkan beberapa referensi model pembelajaran yang dapat diintegrasikan dengan STEM. Model pembelajaran tersebut antara lain model pembelajaran berbasis proyek (PjBL), model pembelajaran berbasis masalah (PBL), dan model siklus pembelajaran 5E.

1. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL).

Dalam panduan STEM Kemendikdasmen dijelaskan beberapa jenis model pembelajaran berbasis proyek, namun secara umum inti dari pembelajaran berbasis proyek adalah memfasilitasi siswa untuk menyelesaikan suatu permasalah dengan melaksanakan suatu proyek sebagai solusi pemecahan masalah.

Salah satu jenis PjBL yang akan saya ulas adalah model yang dikembangkan oleh SEAMEO-ED tahun 2022. Dalam model pembelajaran ini siswa yang sebelumnya diposisikan sebagai penerima informasi, menjadi pemecah masalah aktif. Model ini dilaksanakan dengan menanamkan pembelajaran bermakna dan berbasis pengalaman langsung. Tahapan dalam model pembelajaran ini antara lain:

  • Memperkenalkan masalah dan konteks.
Di tahap ini siswa diperkenalkan pada masalah nyata yang relevan untuk membangkitkan motivasi mencari solusi. Aktivitas yang bisa dilakukan siswa seperti mengenali masalah nyata, memahami konteks, dan mengetahui kebutuhan yang harus dipenuhi.

  • Membangun pemahaman dan keterampilan.
Di tahap ini siswa mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan informasi yang diperlukan melalui penelitian, percobaan (eksperimen), dan aktivitas inkuiri lainnya. Contoh aktivitas siswa seperti mencari informasi, mempelajari konsep yang relevan, serta mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.

  • Memecahkan masalah.
Di tahap ini siswa merancang dan membuat solusi atau purwarupa, mengujinya dan membuat perbaikan berdasarkan umpan balik yang diperoleh. Aktivitas siswa seperti membuat ide solusi, merancang rencana, membuat purwarupa, melakukan pengujian dan perbaikan.

  • Mengomunikasikan solusi.
Di tahap ini siswa mempresentasikan solusi atau produk yang dibuat melalui presentasi, laporan, pameran, atau media lainnya. Aktivitas yang dilakukan siswa antara lain menyampaikan hasil solusi atau purwarupa yang dibuat, menjelaskan cara kerjanya, dan menjelaskan mengapa solusi tersebut dipilih.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL).

Model pembelajaran ini berfokus melatih siswa untuk berpikir kritis, melakukan kolaborasi, dan berefleksi melalui kegiatan menyelesaikan masalah yang autentik dan kontekstual. Tahapan dalam model pembelajaran berbasis masalah antara lain:

  • Mendefinisikan masalah.
Dalam tahapan ini siswa dilatih untuk memahami masalah autentik yang diberikan atau ditemukan dalam kehidupan nyata. Kegiatan yang dilakukan siswa seperti mengidentifikasi masalah di sekitar dan menentukan tujuan solusi yang akan dibuat.

  • Diagnosis awal.
Dalam tahapan ini siswa menganalisis masalah dengan menghubungkan pengetahuan awal yang mereka miliki. Aktivitas yang dilakukan siswa seperti menganalisis pengetahuan awal serta membuat ide atau rancangan solusi.

  • Penelitian atau Penyelidikan.
Di tahap ini siswa melakukan pencarian informasi, baik dari studi pustaka, eksperimen, observasi, atau diskusi. Contoh kegiatan yang dilakukan siswa seperti mencari informasi, merancang, dan mulai membuat purwarupa sederhana.

  • Pemahaman Bermakna.
Pada tahap ini siswa membagikan hasil penelitian, mendiskusikan temuan, serta menyepakati pemahaman dan solusi bersama. Aktivitas yang dilakukan siswa seperti menguji, merevisi, lalu mempresentasikan solusi yang disepakati bersama.

3. Model Siklus Pembelajaran 5E.

Siklus pembelajaran 5E atau Learning Cycle 5E adalh model pembelajaran berbasis inkuiri yang dikembangkan oleh Biological Science and Curriculum Study (BSCS). Model pembelajaran ini bertujuan membantu siswa belajar aktif, membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Tahapan dalam model pembelajaran ini ada lima dan semuanya dimulai dengan huruf “E”, antara lain:

  • Engagement (eksitasi awal).
Tahap ini membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa, serta menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya. Aktivitas yang dilakukan siswa seperti memahami masalah nyata dan merumuskan pertanyaan yang akan dijawab dengan solusi enjinering.

  • Exploration (eksplorasi).
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan penyelidikan atau eksperimen untuk menemukan konsep secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan siswa seperti mengeksplorasi ide, melakukan percobaan sederhana, dan mulai merancang solusi awal.

  • Explanation (eksplanasi).
Di tahap ini siswa mendiskusikan temuan yang diperoleh, memberikan penjelasan, dan memperkenalkan istilah atau konsep ilmiah. Contoh kegiatan siswa seperti menghubungkan temuan dengan konsep ilmiah, untuk memperkuat dasar rancangan solusi.

  • Elaboration (elaborasi).
Pada tahap ini siswa menerapkan konsep pada situasi baru atau lebih kompleks, serta memperdalam pemahaman. Aktivitas siswa seperti membuat purwarupa, menguji, serta menyempurnakan solusi berdasarkan hasil percobaan.

  • Evaluation (evaluasi).
Di tahap terakhir ini siswa menilai pemahaman mereka melalui refleksi, presentasi, atau tes. Kegiatan yang dilakukan siswa seperti mempresentasikan hasil rancangan, menguji, mengevaluasi, dan merefleksikan apa yang bisa ditingkatkan.

Tiga model pembelajaran di atas merupakan referensi yang ada dalam panduan STEM Kemendikdasmen. Tidak menutup kemungkinan pembelajaran STEM dapat diintegrasikan pada model pembelajaran yang lain. Menurut anda model pembelajaran apa lagi yang dapat diintegrasikan dengan STEM, silahkan tulis di kolom komentar.


Referensi:

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 2025. Panduan Pembelajaran STEM: Sains, Teknologi, Enjinering, Matematika. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. [Online]. Tersedia di: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/33606/. Diakses pada: 24 Februari 2026.

Minggu, 22 Februari 2026

Puasa Tetap Nyala: Proyek STEM untuk Siswa Kelas IX di Bulan Ramadhan


Melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam kondisi berpuasa merupakan tantangan tersendiri, menjaga tetap fokus dalam kondisi tidak makan dan minum hampir seharian adalah hal yang cukup menantang, baik untuk guru maupun untuk siswa. Sebagai seorang guru, saya harus memutar otak agar aktivitas pembelajaran dapat berjalan semaksimal mungkin dan dan menyeimbangkannya dengan kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan oleh sekolah.

Jam pembelajaran yang harus dikurangi menjadikan target penyelesaian materi seperti biasanya menjadi tidak logis. Ditambah kemungkinan fokus siswa yang agak berkurang, maka perlu direncanakan kegiatan pembelajaran yang adaptif. Bagi saya pembelajaran teoritis sepertinya bukan pilihan yang bijak, sehingga saya berencana melaksanakan kegiatan pembelajaran yang kontekstual, dan sebisa mungkin lebih banyak kegiatan praktek untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa. Dua hal yang terbesit di benak saya adalah STEM dan Kokurikuler.

Saya belum tahu bagaimana mengaplikasikannya, namun ide yang muncul jauh-jauh hari sepertinya cocok dan dapat diaplikasikan. Ada dua tema yang mungkin akan saya coba kerjakan selama Ramadhan ini yaitu Hidroponik dan Pembelajaran STEM dengan Arduino, keduanya saya tujukan untuk siswa kelas IX. 

Praktek Menanam dengan metode Hidroponik akan saya kemas sebagai pembelajaran IPA dan Kokurikuler. Kegiatan ini saya pilih karena salah satu materi kelas IX di semester ini adalah pewarisan sifat di bioteknologi, dan saya merasa kegiatan Hidroponik dapat dikategorikan sebagai salah satu aplikasi bioteknologi.

Saya mengampu kelas IX-A dan IX-B, di masing-masing kelas tersebut saya telah membagi siswa menjadi empat kelompok. Setiap kelompok akan belajar melakukan metode tanam hidroponik. Bahan-bahan seperti media tanam rockwool, benih dan nutrisi AB telah dipersiapkan. Jenis tanaman yang akan ditanam adalah tanaman sayur karena secara teori memiliki waktu tanam hingga panen yang cukup singkat berkisar satu sampai dua bulan. 

Sedangkan kegiatan belajar Arduino merupakan percobaan saya untuk mengaplikasikan STEM dalam pembelajaran, dan masih terkait dengan materi listrik dinamis di semester sebelumnya. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah sebuah produk yang memanfaatkan arduino. Saya memilih kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk asesmen unjuk kinerja atau ujian praktek untuk kelas IX. Ketika nanti sudah tiba waktunya ujian praktek, maka setidaknya saya telah melaksanakannya lebih dahulu.

Arduino dan Hidroponik dipilih karena kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, namun lebih banyak praktek. Biasanya siswa lebih menyukai kegiatan praktek daripada belajar secara teoritis. Saya cukup menaruh harapan kepada kedua kegiatan ini, semoga siswa dapat antusias dan memperoleh pengalaman baru yang mungkin kelak akan berguna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Kedua kegiatan ini menurut saya memenuhi unsur STEM, dan cocok dilaksanakan dengan model pembelajaran berbasis proyek. Saya akan mencoba menganalisis unsur STEM dan kedua kegiatan ini, seperti berikut:


Unsur

Hidroponik

Arduino

Science

mempelajari bagaimana konsep bertanam hidroponik.

Memahami konsep arduino dan bahasa pemrograman yang digunakan

Technology

membuat sistem hidroponik sederhana, yaitu sistem sumbu

praktek arduino, membuat tempat sampah berbasis sensor jarak

Engineering

Mencoba menanam sayuran secara hidroponik dengan memanfaatkan berbagai barang bekas yang ada

membuat prototipe produk tempat sampah dengan memanfaatkan arduino dengan sensor jarak

Mathematics

melakukan perhitungan masa masa pembenihan, masa tanam, dan komposisi larutan nutrisi AB

menghitung berbagai besaran yang digunakan dalam pemrograman, dan kebutuhan alat dan bahan yang dibutuhkan


Tabel di atas adalah rencana pembelajaran STEM untuk materi hidroponik dan arduino, saya yakin masih jauh dari kata sempurna. Mungkin nanti dalam pelaksanaannya akan muncul tantangan dan hambatan, semoga saya dan siswa bisa tetap bersemangat untuk terus belajar dan mencoba.

Saya berharap kegiatan pembelajaran di bulan Ramadhan ini menjadi pembelajaran yang bermakna, baik dari segi spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Semoga siswa bisa mengikuti semua kegiatan di bulan suci ini, tetap menjaga semangat ibadah dan membawa spirit Ramadhan tersebut dalam aktivitas belajar mereka. Semoga terlaksana dan berhasil.

Nanti saya akan mengupdate bagaimana perkembangan kedua kegiatan ini lewat tulisan di blog ini. Selain membaca tulisan ini anda bisa juga berkomentar atau memberi saran, bagaimana menurut anda?

Sabtu, 21 Februari 2026

Menulis Tanpa Ide: Mengobservasi "Senjata" Produktivitas di Meja Kerja


Entah mengapa pagi ini ide untuk menulis terasa buntu, bahkan ketika saya sekarang menulis tulisan ini, saya masih tidak tahu harus menulis apa. Saya sudah mencoba menggunakan Kecerdasan Artifisial (AI) untuk memberikan saran mengenai ide tulisan, dan hasilnya sama saja. Ya, AI memang tidak mengenal saya secara pribadi, wajar saja dia tidak tahu apa yang menjadi minat atau ketertarikan saya dalam menulis.

Oleh karena itu, sebagai bentuk usaha untuk konsisten menulis, saya akan tetap berusaha menulis, namun kali ini saya akan memakai teknik observasi sebagai cara menulis. Saya akan mencoba menjelaskan beberapa benda yang saya miliki, dimana benda tersebut membantu produktivitas saya sebagai guru.

Seperti layaknya seorang tentara yang membutuhkan senjata untuk menjalankan tugasnya, guru pun memerlukan “senjata” untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Setiap orang mungkin mempunyai preferensi yang berbeda, namun inilah beberapa benda yang membantu produktivitas saya sebagai seorang guru.

Laptop Lenovo X250

Sekarang saya menggunakan laptop Lenovo Thinkpad X250 sebagai senjata utama dalam hal produktivitas, sebelumnya saya menggunakan Toshiba Satellite keluaran tahun 2009 yang sekarang harus pensiun setelah 15 tahun menemani saya bekerja. 

Laptop X250 ini saya beli bekas melalui aplikasi belanja warna oranye. Kenapa saya membeli laptop ini? yang pertama adalah pertimbangan harga. Saat ini untuk mendapatkan laptop baru dengan spesifikasi prosesor bukan Celeron, maka dibutuhkan budget minimal 6 jutaan. Kalau Laptop baru dengan prosesor Celeron, budget 4 jutaan sudah cukup untuk membelinya.

Namun dengan tuntutan pekerjaan yang dewasa ini mensyaratkan untuk memasukkan dunia digital dalam pembelajaran, maka laptop dengan prosesor Celeron menurut saya tidak memenuhi kebutuhan saya. Dengan budget yang tidak banyak akhirnya saya memutuskan untuk membeli laptop Thinkpad generasi X250.

Laptop ini dikenal “badak” dan cukup nyaman, dan saya merasakan itu juga. Di pasaran laptop jenis ini banyak ditemukan dalam kondisi bekas, biasanya berasal dari berbagai perusahaan yang meremajakan laptop kerja mereka.Jadi rata-rata laptop X250 ini adalah bekas perusahaan, yang dijual karena peremajaan, bukan karena bermasalah. Walaupun yang namanya laptop bekas, tentu ada kekurangannya. 

Untuk sistem operasinya saya menggunakan Linux Mint secara penuh. Kenapa? Ya, memang saya sudah sejak lama berencana untuk migrasi dari Windows ke Linux, tentu adalah alasan dibalik langkah saya tersebut, baik alasan personal maupun logis.

Alasan logis saya menggunakan sistem operasi linux adalah gratis, Sudah lengkap dengan berbagai aplikasi yang saya butuhkan, dan tentu saja lebih aman dari serangan virus jika dibandingkan dengan Windows. Tentu ada banyak tantangan ketika saya menggunakan sistem operasi yang berbeda dengan kebanyakan orang, selama saya tidak masalah, maka hal tersebut juga tidak menjadi masalah bagi saya.

Gawai Android

Sekarang, setiap orang rasanya tidak bisa dilepaskan dari benda kecil berbentuk kotak yang bernama smartphone. Sama seperti orang lain, saya juga menggunakan gawai android, namun aplikasi yang terpasang di dalamnya memang ditujukan untuk membantu produktivitas kerja.

Beberapa aplikasi tersebut adalah OKEN scanner, Zoom, Google Authenticator, Gemini, Epson smart panel, google sheets, dan google doc. OKEN dipergunakan untuk melakukan pemindaian dokumen menjadi dokumen digital, Zoom digunakan untuk melakukan telekonferensi atau mengikuti webinar, Google Authenticator digunakan sebagai keamanan tambahan berbagai situs pemerintah yang berkaitan dengan profesi saya, Gemini digunakan untuk melakukan riset atau mencari informasi mengenai berbagai hal yang diperlukan, Epson digunakan untuk melakukan cetak (print) tanpa kabel (wireless), serta google sheets dan google doc digunakan untuk menangani file excel atau doc yang harus diakses secara cepat.

VEIKK pen tablet

Benda ini merupakan senjata utama saya ketika melakukan pembelajaran jarak jauh saat pandemi Covid-19. Pen tablet merupakan perangkat yang dihubungkan ke laptop dan memungkinkan kita untuk bisa membuat tulisan atau gambar dengan menggunakan stylus pen.

Saya menggunakan perangkat ini sebagai alat bantu ketika menggunakan papan tulis digital. Perangkat ini membantu saya untuk mengajar seperti menggunakan papan tulis, ketika pembelajaran harus dilakukan secara daring. 

Miracast Dongle

Alat ini merupakan pengganti kabel LCD proyektor, dengan adanya dongle ini, kita bisa menghubungkan laptop dengan LCD Proyektor tanpa menggunakan kabel (wireless). Cukup dengan kemampuan “casting” google chrome, kita dapat menampilkan layar laptop kita ke LCD proyektor tanpa kabel dan tanpa aplikasi tambahan.

Namun sayangnya alat ini tidak bisa bekerja di laptop saya, bukan karena laptopnya tidak mendukung, namun lebih kepada sistem operasi linux yang memiliki keterbatasan. 

Setidaknya saya masih bisa menghubungkan gawai android ke LCD proyektor dengan bantuan alat ini. Jadi saya tetap bisa melakukan presentasi menggunakan LCD proyektor saat pembelajaran, walaupun bahan atau media ajar tersimpan di gawai android.

Demikianlah beberapa senjata yang menunjang profesi saya sebagai seorang guru. Saya yakin anda juga punya senjata andalan masing-masing, silahkan tulis di kolom komentar jika berkenan.

Jumat, 20 Februari 2026

Dari "Nyam Nyam Nyam" hingga Layar Gawai: Mengapa Acara Ramadhan Tak Lagi Sama?


Sahur kita … nyam … nyam … nyam !

Jargon ini cukup terkenal di awal dekade 2000-an. Dipandu Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti, acara Sahur Kita yang tayang di SCTV senantiasa menemani waktu makan sahur kala itu. Acara yang simpel, hangat, dan menghibur ini menjadi salah satu pilihan utama kebanyakan masyarakat Indonesia ketika makan sahur. Konsep acaranya pun sederhana, memindahkan siaran radio ke televisi.

Setiap bulan ramadhan tiba, banyak stasiun televisi mulai menyiapkan acara jagoannya, mulai acara sahur, menunggu berbuka, dan sinetron religi andalan. Saya merasa pola tayangan hiburan yang muncul di bulan Ramadhan senantiasa mengalami perubahan tahun demi tahun, yang awalnya adalah sebuah acara religi dengan sisipan hiburan, kini berubah menjadi acara hiburan dengan sisipan religi.

Seingat saya, sebelum dekade 2000-an, acara religi Ramadhan di stasiun televisi benar-benar menonjolkan sisi religi atau dakwahnya, jika ada sisipan hiburan biasanya adalah lagu-lagu religi seperti dari Bimbo atau yang lainnya, acaranya pun jauh dari kesan entertainment.

Dalam ingatan saya, salah satu acara sahur di Indosiar yang dimulai jam 03.00 wib, formatnya adalah tanya jawab masalah agama. Dimulai dengan ceramah dari seorang ustadz atau pemuka agama yang dipandu oleh pembawa acara, setelah itu para penonton di rumah dapat melakukan panggilan telepon langsung untuk bertanya kepada ustadz mengenai permasalahan seputar agama. Dan kala itu sepertinya belum ada sisipan hiburan, seperti lagu religi atau yang lain.

Memasuki awal 2000-an, format acara religi mulai mengalami perubahan dengan masuknya unsur hiburan kedalamnya. Acara religi mulai bernuansa komedi, walaupun tidak kehilangan roh religinya. Sahur Kita di SCTV dan Stasiun Ramadhan di RCTI, merupakan dua contoh acara sahur favorit kala itu. Acara tersebut kebanyakan dipandu oleh komedian, sehingga membuat nuansa acara menjadi ringan dan menghibur.

Khusus untuk acara Sahur Kita, saya masih ingat dalam acara ini penonton dapat melakukan request lagu dan berkirim salam, sama seperti di radio. Pada Zaman ini internet belum masif dan media sosial masih belum berkembang pesat seperti sekarang, sehingga berkirim pesan lewat acara televisi merupakan sebuah cara untuk menyapa sanak saudara, teman, atau orang terkhusus, yang mungkin terpisah jauh.

Awal 2000-an merupakan awal mulai maraknya sinetron religi, hampir setiap stasiun televisi mempunyai sinetron andalannya, Sebut saja seperti Doa Membawa Berkah yang dibintangi Tamara Bleszinsky dan Anjasmara. Sinetron religi tidak akan bisa lepas dari nama Deddy Mizwar, ditangan dinginnya lahir berbagai judul yang terkenal, seperti Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan Para Pencari Tuhan.

Mulai awal 2010 hingga sekarang, format acara religi mengalami perubahan drastis dan serius menurut saya, saya menyebutnya acara hiburan yang diberi sedikit sentuhan religi. Keseluruhan acara dipenuhi dengan lawakan atau komedi sketsa, nama-nama Raffi Ahmad, Parto, Komeng, Adul, dan lainnya, rutin menghiasi layar televisi ketika waktu sahur.

Yang paling saya ingat adalah acara Yuk Kita Sahur (YKS). Acara yang terkenal karena goyang Caesar-nya ini, menjadi salah satu acara paling diminati di masa itu. Bagi anda yang tidak tahu YKS, acara ini adalah gabungan antara komedi sketsa, ada dangdut koplonya, dan tentu saja goyang Caesar yang entahlah itu.

Semakin kesini, saya sudah tidak mengikuti perkembangan acara religi di televisi. Masifnya internet, sepertinya membuat orang berpaling dari televisi ke gawai di tangan mereka. Acara pengisi sahur atau pengantar berbuka di televisi sepertinya sudah tidak lagi menjadi pilihan utama. Pilihan orang kini sangat beragam, banyak kanal di berbagai media sosial membuat acara Ramadhan mereka masing-masing. Mulai yang kental nuansa religinya, sedikit nuansa religinya, atau bahkan tidak ada nuansa religinya.

Disaat ini saya merasa perlunya perhatian dari berbagai pihak untuk mengembalikan marwah puasa. Puasa sebagai salah satu ibadah utama bagi umat muslim sudah semestinya mendapatkan penghormatan yang semestinya. Fenomena seperti acara religi yang tidak religius, orang yang seharusnya puasa malah dengan bangganya menunjukkan dirinya tidak puasa, baik di media sosial maupun kehidupan nyata, merupakan salah satu bukti ada yang salah dengan pola pikir masyarakat sekarang.

Semoga Ramadhan ini membuat kita merenung dan menemukan kembali esensi nilai puasa di hati nurani kita, sehingga puasa tidak hanya dipandang sebagai fenomena sosial-kultural tahunan, namun menjadi sebuah sarana untuk memperbaiki diri dan mengasah diri menjadi insan yang lebih baik. Amin.

Kamis, 19 Februari 2026

Ingat Puasa, Ingat Gus Dur


Ramadhan adalah bulan yang spesial, selain karena nilai ibadah di bulan ini dilipatgandakan, bulan ini juga membawa berbagai memori dan kenangan, salah satunya adalah Gus Dur. Bagi anda yang mengalami langsung bulan Ramadhan di tahun 1999, anda tidak akan lupa peristiwa ini. Ya, Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid yang kala itu menjadi Presiden Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah satu bulan penuh selama bulan Ramadhan.

Saya pribadi merupakan salah satu saksi sejarah peristiwa itu, sebuah momen langka dan hampir semua umat muslim di Indonesia menyambut gembira kebijakan tersebut. Saya masih ingat momen ketika menghabiskan momen sampai larut malam di mushola dekat rumah untuk tadarus dan berburu "jajan jaminan", tidak ada orang tua yang khawatir anaknya akan bodoh karena ketinggalan pelajaran, semuanya dimaksimalkan untuk mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik mungkin, dengan kemampuan dan persepsinya masing-masing.

Setelah kebijakan libur puasa selama satu bulan penuh, sepertinya sudah tidak ada lagi kebijakan yang se-revolusioner itu. Sekarang saya merasa aura bulan Ramadhan tidak lagi seperti dahulu, baik dari segi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, maupun aktivitas keseharian masyarakat yang sekarang seolah tidak memedulikan marwah bulan Ramadhan, menurut saya.

Kembali lagi kepada pembahasan libur di bulan Ramadhan untuk dunia pendidikan, ternyata kebijakan libur puasa satu bulan penuh yang dikeluarkan Gus Dur bukanlah yang pertama, namun yang terakhir. Karena sebelum kebijakan Gus Dur tersebut, sudah ada kebijakan yang sejenis pernah dikeluarkan oleh pemerintah, namun setelah Gus Dur, sudah tidak ada lagi kebijakan seperti itu.

Merujuk pada laman museumkepresidenan.id, pemerintahan kolonial Belanda tercatat pernah mengeluarkan kebijakan libur satu bulan penuh selama bulan puasa atau Ramadhan. Pemerintah kolonial Belanda meliburkan sekolah binaan mereka mulai dari tingkat dasar (HIS) sampai tingkat menengah atas (HBS dan AMS). Kemudian pada masa Presiden Soekarno, pemerintah menjadwal ulang dan menghentikan semua kegiatan-kegiatan resmi dan non-resmi untuk memberikan kesempatan kepada umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan khusuk.

Perubahan kemudian terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Daoed Joesoef, pemerintah mengatur libur puasa menjadi beberapa hari saja, dan tentu saja hal ini memicu kritik dari berbagai pihak. Daoed beranggapan pelaksanaan libur puasa secara penuh seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda merupakan kebijakan pembodohan, dia selanjutnya mengeluarkan Surat Keputusan nomor 0211/U/1978 yang berisi imbauan kepada masyarakat untuk mengisi kegiatan di waktu libur.

Dalam konteks kegiatan pendidikan, hari libur memiliki tujuan untuk memulihkan tenaga, baik jasmani maupun rohani, bagi guru maupun siswa. Selain itu penetapan libur sekolah merupakan wujud toleransi dengan menghormati hari besar yang dirayakan agama tertentu.

Hingga kemudian di tahun 1999, Gus Dur mengeluarkan kebijakan untuk libur penuh selama bulan Ramadhan. Kebijakan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada umat muslim agar dapat menjalankan ibadah secara khusyuk selama bulan Ramadhan. Dengan adanya kebijakan ini, maka siswa diberikan kesempatan untuk lebih fokus belajar agama dan melaksanakan ibadah puasa dengan maksimal. Sekolah-sekolah juga diimbau untuk melaksanakan kegiatan pesantren kilat dan kegiatan keagamaan lainnya, seperti tadarus dan tarawih.

Sekarang, kebijakan seperti "kebijakan Gus Dur" rasanya sudah tidak akan ada lagi. Merujuk pada salah satu artikel pada laman Tempo, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyatakan bahwa terdapat tiga opsi mengenai libur dalam bulan Ramadhan. Opsi pertama, sekolah diliburkan satu bulan selama Ramadhan dan siswa mengikuti kegiatan keagamaan di masyarakat. Opsi kedua, sekolah diliburkan beberapa hari di awal dan akhir Ramadhan dan opsi ketiga adalah selama Ramadhan, sekolah tidak libur seperti yang berlaku selama ini.

Memang kebijakan akan selalu berubah tergantung pada pembuat dan kondisi yang sedang terjadi. Boleh jadi libur selama bulan Ramadhan ala Gus Dur tidak akan relevan untuk saat ini, atau bahkan lebih banyak mudharat-nya. Boleh jadi jika sekarang kebijakan seperti itu dikeluarkan lagi, bukan masjid atau mushola penuh dengan aktivitas tarawih dan tadarus, tapi event "mabar", nongkrong, live sosmed akan lebih masif.

Ya kebijakan memang harus menyesuaikan dengan zamannya. Namun bagi saya yang secara langsung terdampak kebijakan Gus Dur tersebut tidak akan pernah bisa melupakannya. Saya beruntung hidup dalam masa itu, merasakan langsung bagaimana suasana Ramadhan-nya, dan euforia masyarakat kala itu.

Jika saya diminta untuk menyebutkan momen Ramadhan yang tidak terlupakan, mungkin jawaban pertama yang akan muncul adalah Libur Puasa zaman Gus Dur.

Kamis, 12 Februari 2026

Aneh tapi nyata, ratusan guru antusias mengikuti Kelas Pemanfaatan IFP SLCC PGRI Kabupaten Rembang


Dua hari yang lalu, tepatnya selasa 10 Februari 2026, menjadi hari yang menarik bagi saya. Bertempat di sebuah ruangan di SMP Negeri 1 lasem, ratusan guru duduk bersama untuk mengikuti sebuah pelatihan. Di hari itu Smart Learning and Character Center  (SLCC) PGRI Kabupaten Rembang mengadakan sebuah pelatihan pembuatan game pembelajaran yang bertajuk Kelas Pemanfaatan IFP untuk pembelajaran.

Acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 wib tersebut diikuti 114 guru mulai jenjang TK/PAUD hingga SMK. Dimulai dengan acara pembukaan yang dihadiri ketua SLCC, Ketua PGRI Kabupaten Rembang, dan juga Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang. Fokus utama kegiatan tersebut adalah pelatihan pembuatan game dengan memanfaatkan kecerdasan artificial untuk dimanfaatkan di media Interactive Flat Panel (IFP) yang telah dimiliki hampir semua sekolah.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana kegiatan diluar perkiraan atau ekspektasi saya. Sebelumnya saya berpikiran pelatihan ini akan menjadi pelatihan "pada umumnya", pelatihan yang berujung pada sertifikat yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan administrasi bagi para guru, namun kenyataannya sungguh berbeda, pelatihan ini benar-benar "pelatihan".

Semuanya dimulai ketika pengurus SLCC yang baru terbentuk melakukan rapat daring dan menentukan berbagai program yang akan dilakukan selama masa kepengurusan ini. Saya tergabung di SLCC PGRI Kabupaten Rembang sebagai anggota. Salah satu usulan yang keluar dalam rapat tersebut adalah membuat pelatihan pembuatan media pembelajaran berbentuk game dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial, dan pada akhirnya usulan tersebut disetujui.

Latar belakang munculnya ide tersebut adalah berita bahwa tim SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan menjadi juara dalam sebuah event yang bertajuk Hackathon yang diselenggarakan Rumah Pendidikan Kemendikdasmen pada penghujung 2025. Saya pribadi merupakan bagian dari tim tersebut, dan SLCC beranggapan hal ini perlu diimbaskan ke guru-guru di Kabupaten Rembang, dalam bentuk Pelatihan. Cerita Mengenai perjalanan Tim SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan dapat dilihat dari salah satu tulisan di blog ini yang bertajuk "Dan, inilah perjalanan kami di hackathon 2025".

Pada awalnya saya beranggapan animo guru untuk mengikuti kegiatan ini biasa-biasa saja, apalagi pelatihan berbayar. Setelah kepanitiaan dibentuk dan flyer disebarluaskan, dalam waktu beberapa hari jumlah pendaftar semakin bertambah, puncaknya empat hari sebelum kegiatan dilaksanakan, pendaftaran terpaksa ditutup karena sudah mencapai kapasitas maksimal ruangan yang akan kami gunakan. Disinilah awal keanehan saya rasakan, ternyata antusiasme para guru untuk megikuti pelatihan ini sungguh luar biasa. Di satu sisi saya merasa senang, disisi yang lain saya merasa mulai menanggung beban, karena dalam pelatihan ini saya bertindak menjadi salah satu narasumber yang akan berbagi materi.

Selasa pagi (10/2), para peserta satu per satu mulai berdatangan dan melakukan registrasi. semua datang dengan membawa laptop, seperti seorang tentara yang siap bertempur. Bahkan kami dari panitia kegiatan harus memodifikasi ruangan agar mampu menampung tambahan tempat duduk untuk peserta. Walaupun dengan sedikit berdesakan, semua peserta akhirnya bisa masuk untuk mengikuti kegiatan.

Akhirnya acara pun dimulai. Diawali dengan acara pembukaan yang berisi sambutan dari ketua SLCC, Ketua PGRI Kabupaten Rembang, dan Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang. Kepala Dindikpora bergabung secara daring melalui telekonferensi, karena beliau sedang ada kegiatan. Sesi pembukaan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh salah satu peserta.

Menginjak pukul 09.30 wib, acara inti dimulai. Acara inti terbagi dalam dua sesi, sesi pertama mengenai pembuatan game pembelajaran dengan memanfaatkan Gemini AI, dan sesi kedua mengintegrasikan game tersebut ke google site. Saya mendapat bagian untuk memandu sesi pertama.

Keanehan selanjutnya pun dimulai, ketika saya memaparkan cara pembuatan game dengan gemini AI, semua peserta tampak antusias dan memperhatikan. Tampak dalam raut wajah mereka semangat untuk belajar, benar-benar ingin belajar. Setelah memberikan paparan teori, saya mengajak peserta untuk langsung praktek. Semuanya serentak membuka laptop dan mulai berkreasi untuk membuat game pembelajaran sesuai jenjang sekolah dan materi yang diampu. Semuanya tampak serius mengutak-atik prompt untuk mendapatkan game yang diinginkan. Saya dan beberapa rekan panitia pun turun untuk membantu para peserta yang sedang mengalami kesulitan.

Para peserta yang beragam, mulai dari guru muda hingga guru senior semuanya terlihat fokus belajar. Kenyataan ini menyadarkan saya bahwa apa yang saya pikirkan salah. Kegiatan ini menjadi ajang belajar dan berkolaborasi. Bahkan hingga sesi pertama berakhir, masih tampak beberapa peserta yang masih asyik mengetik prompt di laptopnya, padahal sudah waktunya istirahat,makan siang, dan sholat.

Memasuki sesi kedua yang dipandu salah satu rekan, suasananya pun masih sama. Peserta sudah mulai memasukkan game yang mereka buat di google site. WA grup pelatihan pun mulai dipenuhi dengan tautan google site para peserta yang berbagi karyanya.

Satu pemandangan yang menarik perhatian saya adalah ketika acara telah selesai, sebagian peserta sudah pulang, masih ada tiga peserta yang duduk di ruangan. Mereka masih serius menyelesaikan game yang buatan mereka. Sungguh semangat belajar yang sangat luar biasa.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa, semangat untuk maju dan belajar tidak mengenal usia. Ternyata banyak guru-guru hebat di Kabupaten Rembang yang memiliki semangat untuk maju dan mengembangkan diri. Saya sangat bangga dengan semua guru di Kabupaten Rembang, dan saya percaya masa depan pendidikan di Kabupaten Rembang akan semakin cerah dan maju.

Next, apalagi kegiatan yang akan diinisiasi SLCC PGRI Rembang? kita tunggu saja kelanjutannya.

Ramadan Produktif: Semangat Siswa SMPN 4 Satu Atap Kragan Memulai Proyek Hidroponik

Di postingan sebelumnya saya telah menuliskan rencana proyek IPA yang akan dilakukan siswa kelas IX, dan hari ini salah satu dari proyek ter...